FATWA KEARIFAN LOKAL

SI AWAK36 Views

FATWA KEARIFAN LOKAL
02fkl/I/2025

BARUAK DI RIMBO DI SUSUAN, ANAK DI PANGKU DI LEPAH AN

Sebuah Cermin Etik tentang Prioritas Tanggung Jawab

Oleh:
Duski Samad

 

Pepatah Minangkabau “Baruak di rimbo disusuan, anak di pangku dilepahkan” adalah teguran halus namun sangat menusuk: bagaimana mungkin energi, kasih, dan perhatian tercurah sepenuhnya pada orang lain, sementara keluarga sendiri—yang menjadi amanah utama—justru terabaikan?

Pepatah ini relevan untuk aktivis masyarakat, politisi, tokoh agama, dan siapa pun yang sibuk di ranah publik tetapi kehilangan sentuhan terhadap kewajiban rumah tangga.

A. KELUARGA ADALAH AMANAH PERTAMA

1.Al-Qur’an. Allah Swt berfirman:

> “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrīm: 6)

Ayat ini menegaskan urutan prioritas: Diri sendiri, Keluarga, Baru kemudian masyarakat.

2.Hadis Nabi SAW

Rasulullah SAW bersabda:

> “Cukuplah seseorang dianggap berdosa bila ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.”
(HR. Abu Dawud)

Hadis ini seakan berkata:

> “Jangan menjadi pahlawan di luar rumah, tapi pelaku kelalaian di dalam rumah.”

3.Prinsip Fikih

Para ulama menyatakan:
الْأَقْرَبُ فَالْأَقْرَبُ
Kewajiban dimulai dari yang paling dekat.

Dalam kaidah maqāṣid al-syarī‘ah, hifz al-nasl (menjaga keluarga dan keturunan) adalah tujuan pokok syariat.
Maka, menyalurkan seluruh energi kepada publik namun menelantarkan keluarga adalah ketidakseimbangan maqasid.

B. BEBAN PERAN DAN. KELELAHAN MORAL

1.Role Strain dan Role Conflict (Sosiologi Modern)

Sosiolog menyebut kondisi ini sebagai:

Role Strain: Beban peran terlalu besar pada satu bidang.

Role Conflict: Konflik antara peran publik dan peran domestik.

Seorang politisi bisa sangat idealistis, namun ia gagal menjalankan role sebagai ayah, ibu, atau suami/istri.
Fenomena ini muncul ketika pengabdian publik menjadi pelarian, sementara relasi keluarga retak perlahan.

2.Psikologi Keluarga

Peneliti menyebut kondisi “Emotional Neglect at Home” sebagai salah satu faktor: munculnya kecemasan anak, renggangnya hubungan pasangan, hilangnya kelekatan emosional.

Tokoh publik sering menyangka “keluarga pasti maklum”. Padahal, keluarga adalah primary relationship yang menuntut hadirnya sosok, bukan hanya namanya.

C. ANTROPOLOGI MINANGKABAU:

URANG MAMBANGUN RANAH DIMULAI DARI RUMAH

1.Falsafah ABS-SBK
Dalam adat Minang, prioritas itu tegas:

“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”
Pengabdian sosial adalah bagian dari ibadah,
namun tidak sah bila rumah tangga terabaikan.

2.Pepatah dalam Sistem “Rumah-Gadang Society”

Minangkabau adalah masyarakat matrilineal dan komunal, namun tetap mengenal prinsip keseimbangan peran:

Ayah angku, mamak panghulu, sumando nan dihormati. Tungku tigo sajarangan mengandaikan harmoni rumah-adat- agama.

Pepatah “baruak di rimbo disusuan” adalah sindiran etis kepada mereka yang mengejar citra sosial, menyusukan “kera di hutan” (publik), tapi justru melepas “anak di pangku” (keluarga).

3.Nilai “Saciok Bak Ayam, Sadanciang Bak Basi”

Masyarakat Minang menjunjung tinggi:
kesetiakawanan,
tanggung jawab,
keseimbangan peran.

Aktivis yang melupakan keluarga dianggap tidak matang dalam adat, sebab:

> “Nan gadang ditinggikan, nan ketek dipayuangkan.”

Bukan sebaliknya:
> “Nan ketek dibiaran, nan jauah dipapakan.”

D. RELEVANSI UNTUK TOKOH PUBLIK, AKTIVIS, DAN PEJABAT

Fenomena hari ini menunjukkan: pejabat sibuk kunker tapi tak hadir saat keluarga sendiri berduka, aktivis memperjuangkan hak masyarakat tapi gagal mendidik anaknya, tokoh umat ceramah di mana-mana tapi tak ada waktu untuk orang tua.

Semua ini adalah gambaran ketimpangan prioritas yang ditegur oleh pepatah Minang tersebut.

E. PENEGASAN MORAL: PRIORITAS ITU AMANAH

Kesimpulannya:

1.Pengabdian publik itu mulia.
2.Namun keluarga adalah amanah pertama.
3.Adat, syariat, ilmu pengetahuan, dan antropologi Minang sepakat:
“Jangan menyusui kera di rimba, lalu melepas anak di pangku.”

Karena: Menjaga keluarga adalah ibadah.Menjalankan peran domestik adalah amanah.Dan keharmonisan keluarga adalah fondasi keberhasilan sosial.

F. TAUSHIYAH PENUTUP

> Uruslah rumahmu sebagaimana engkau ingin membangun negerimu.
Sebab negeri yang kuat dimulai dari rumah yang terjaga.

Pepatah Minang ini bukan kritik sinis, tetapi nasihat luhur untuk memastikan bahwa tugas publik tidak merampas kewajiban domestik. 04122025.

Leave a Reply