PEMICU KESADARAN BATIN
Asbābul Murāqabah dalam Pemikiran Syekh Muhammad Djamil Djaho
Oleh: Duski Samad
Muraqabah tidak serta-merta hadir dalam hati manusia. Hati memiliki keadaan yang berubah-ubah. Ada saatnya hati hidup, peka, mudah menerima nasihat dan dekat kepada Allah. Namun ada pula saat hati diselimuti ghaflah, kelalaian yang membuat manusia mengetahui kebenaran tetapi tidak merasakan kehadirannya dalam kehidupan.
Dalam kerangka pemikiran Syekh Muhammad Djamil Djaho sebagaimana dikembangkan dalam Tadzkiratul Qulub fi Muraqabati ‘Allamil Ghuyub, kesadaran batin perlu dibangunkan. Muraqabah bukan sekadar pengetahuan bahwa Allah Maha Melihat. Ia adalah keadaan hati yang benar-benar merasakan pengawasan Allah sehingga kesadaran tersebut memengaruhi pikiran, ucapan, pilihan, dan perbuatan.
Kesadaran seperti itu membutuhkan pemicu. Di antara pemicu kesadaran batin tersebut dapat dijelaskan melalui tafakkur, tazkirah, dan ru‘b. Ketiganya bekerja pada ruang batin yang saling berhubungan: tafakkur menggugah pikiran, tazkirah mengetuk hati, dan ru‘b mengguncang jiwa.
Tafakkur adalah jalan kesadaran melalui perenungan. Manusia tidak cukup hanya melihat kehidupan, tetapi harus memikirkan apa yang ada di balik kehidupan itu. Ia melihat dirinya, lalu bertanya dari mana ia berasal dan ke mana akan kembali. Ia menikmati nikmat, lalu bertanya siapa yang menganugerahkannya. Ia melihat kematian, lalu menyadari bahwa pada suatu saat dirinya pun akan mengalaminya.
Tafakkur dengan demikian bukan sekadar aktivitas intelektual. Tafakkur adalah berpikir dengan hati. Semakin dalam seseorang memikirkan dirinya, alam, kehidupan, kematian, nikmat dan kekuasaan Allah, semakin terbuka kesadarannya bahwa manusia tidak pernah berada di luar pengetahuan Allah.
Dari sinilah tafakkur bergerak menuju muraqabah: berpikir, menyadari, lalu merasa diawasi.
Namun manusia adalah makhluk yang mudah lupa. Kesadaran yang telah tumbuh melalui tafakkur dapat kembali melemah oleh kesibukan, kepentingan dunia, hawa nafsu dan rutinitas kehidupan. Karena itu diperlukan pemicu kedua, yaitu tazkirah.
Tazkirah berarti peringatan. Peringatan diperlukan bukan selalu karena manusia tidak tahu, tetapi justru karena manusia tahu tetapi lupa. Ia mengetahui kematian, tetapi hidup seolah-olah tidak akan mati. Ia mengetahui Allah Maha Melihat, tetapi masih berbuat seakan-akan tidak ada yang menyaksikan. Ia mengetahui halal dan haram, tetapi kepentingan sesaat dapat mengalahkan pengetahuannya.
Karena itu Al-Qur’an, zikir, nasihat ulama, majelis ilmu, pengalaman kehidupan, bahkan kematian orang-orang di sekitar kita menjadi tazkirah. Semuanya mengetuk hati agar manusia kembali dari kelalaian.
Tazkirah mengubah ghaflah menjadi dzikr. Yang semula lupa menjadi ingat. Yang semula lengah menjadi waspada. Yang semula merasa bebas melakukan apa saja kembali menyadari bahwa setiap perkataan dan perbuatan mempunyai pertanggungjawaban.
Bila tafakkur menggugah pikiran, maka tazkirah mengetuk hati.
Akan tetapi, ada kalanya pikiran telah mengetahui dan nasihat telah berulang kali diberikan, tetapi hati tetap keras. Pada keadaan seperti inilah terdapat pemicu ketiga, yaitu ru‘b, rasa takut, gentar, atau guncangan batin.
Dalam kehidupan, tidak sedikit manusia berubah justru setelah mengalami peristiwa yang mengguncangkan. Sakit membuat seseorang menyadari lemahnya tubuh. Musibah mengingatkan bahwa harta dan kekuasaan tidak selalu dapat melindungi. Kematian orang terdekat menghadirkan kesadaran bahwa perjalanan dunia mempunyai batas. Bahkan bayangan tentang hisab dan azab akhirat dapat mengguncang hati yang sebelumnya tenggelam dalam kelalaian.
Ru‘b dalam konteks ini bukan ketakutan yang membawa manusia kepada keputusasaan. Ia adalah guncangan yang memecahkan dinding ghaflah. Rasa gentar menyadarkan manusia tentang kelemahannya di hadapan Allah dan akibat yang akan diterimanya dari setiap perbuatan.
Bila tafakkur bekerja melalui kedalaman pikiran dan tazkirah melalui kekuatan peringatan, ru‘b menyentuh manusia melalui pengalaman rasa. Ada orang yang sadar setelah berpikir. Ada yang sadar setelah dinasihati. Ada pula yang baru tersentak setelah kehidupannya diguncang oleh suatu peristiwa.
Tujuan akhirnya sama: hati kembali hidup.
Ketika hati hidup, muraqabah mulai tumbuh. Seseorang tidak lagi hanya mengatakan, “Allah Maha Melihat,” tetapi merasakan bahwa dirinya sedang dilihat Allah. Ia tidak hanya mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui, tetapi menyadari bahwa lintasan hati, ucapan, dan perbuatannya berada dalam pengetahuan-Nya.
Pada tingkat inilah agama berpindah dari sekadar pengetahuan menjadi kesadaran batin.
Maka prosesnya dapat dipahami sebagai perjalanan dari ghaflah menuju muraqabah. Tafakkur membangunkan pikiran dari kelalaian. Tazkirah mengembalikan hati kepada ingatan. Ru‘b mengguncang jiwa dari rasa aman semu. Ketiganya bermuara pada kesadaran bahwa manusia hidup di bawah pengawasan Allah.
Dalam bahasa yang sederhana:
Tafakkur menggugah pikiran.
Tazkirah mengetuk hati.
Ru‘b mengguncang jiwa.
Muraqabah menjaga diri.
Inilah pentingnya muraqabah bagi manusia modern. Pengawasan eksternal semakin canggih. Kamera ada di mana-mana, transaksi meninggalkan jejak digital, lembaga mempunyai auditor, negara mempunyai aparat dan hukum mempunyai sanksi. Namun semua pengawasan itu mempunyai batas.
Ada ruang yang tidak dapat dijangkau kamera. Ada niat yang tidak terbaca oleh auditor. Ada manipulasi yang mungkin lolos dari hukum. Tetapi tidak ada satu pun yang berada di luar pengetahuan Allah.
Karena itu benteng terakhir kehidupan bukanlah CCTV, bukan pula semata-mata hukum dan sanksi. Benteng terakhir itu adalah hati yang hidup dalam muraqabah.
Orang Minangkabau sejak lama mengingatkan:
Ba jalan paliharo kaki,
ba kato paliharo lidah,
ba agamo paliharo hati.
Memelihara hati itulah pekerjaan muraqabah. Tafakkur, tazkirah, dan ru‘b menjadi jalan untuk membangunkannya. Sebab ketika hati sudah terjaga, manusia bukan hanya takut berbuat salah karena ada orang yang melihat, tetapi mampu menahan dirinya ketika tidak seorang pun melihatnya, karena ia sadar Allah tetap melihatnya.
Itulah puncak kesadaran batin: dari tahu kepada sadar, dari sadar kepada merasa diawasi, dan dari merasa diawasi kepada kemampuan menjaga diri.
