ADAB IKHTILAF:
Oleh: Duski Samad
Pembina Surau Digital Tuanku Professor (#02)
Dalam perjalanan hidup manusia, perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Bahkan dalam memahami agama—yang bersumber dari wahyu yang sama—manusia tetap berbeda dalam penafsiran, pendekatan, dan pengamalan. Di sinilah Islam menunjukkan keagungannya: bukan dengan menghapus perbedaan, tetapi dengan mengatur adab dalam perbedaan.
Allah telah memberi pedoman yang sangat jelas dalam firman-Nya: “Jika kamu berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul…” (QS. An-Nisa’: 59)
Ayat ini bukan sekadar perintah teologis, tetapi juga panduan etika intelektual dan sosial. Ia mengajarkan bahwa ketika perbedaan muncul, manusia tidak boleh menjadikannya ajang ego, apalagi permusuhan. Perbedaan harus dikembalikan kepada sumber kebenaran, bukan kepada kepentingan.
Namun, di sisi lain, Allah juga menegaskan: “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan…” (QS. Al-Ma’idah: 48)
Ayat ini membuka cakrawala yang lebih luas: bahwa perbedaan itu sendiri adalah kehendak Allah. Ia bukan kecelakaan sejarah, bukan pula kesalahan manusia semata, tetapi bagian dari skenario Ilahi untuk menguji kedewasaan manusia dalam beragama.
Di sinilah letak keseimbangan ajaran Islam:
Di satu sisi, perbedaan harus dikembalikan kepada wahyu
Di sisi lain, perbedaan itu sendiri adalah ruang ujian dan rahmat
Masalahnya, manusia sering gagal memahami keseimbangan ini.
Perbedaan yang seharusnya menjadi rahmat, justru berubah menjadi fitnah.
Hari ini, kita menyaksikan fenomena yang memprihatinkan: perbedaan pendapat tidak lagi dikelola dengan adab, tetapi dengan emosi.
Diskusi berubah menjadi debat, debat berubah menjadi permusuhan,
dan permusuhan berujung pada perpecahan umat.
Padahal, generasi terbaik umat ini telah memberi teladan yang luar biasa.
Para sahabat berbeda, tetapi tidak saling membenci.
Para imam mazhab berbeda, tetapi tetap saling menghormati.
Mengapa?
Karena mereka memahami satu hal yang sangat mendasar:
yang harus dimenangkan bukan ego, tetapi kebenaran.
Adab ikhtilaf mengajarkan bahwa:
Tidak semua perbedaan harus diseragamkan
Tidak semua perbedaan harus dipertentangkan
Dan tidak semua perbedaan layak diperdebatkan
Ada perbedaan yang cukup dihormati, tanpa harus dipaksakan untuk disepakati.
Dalam perspektif yang lebih dalam, terutama dalam tasawuf, perbedaan sering kali bukan semata persoalan dalil, tetapi persoalan hati.
Ketika hati dipenuhi ego, maka perbedaan sekecil apa pun akan menjadi besar.
Sebaliknya, ketika hati bersih, perbedaan sebesar apa pun bisa dikelola dengan bijak.
Maka, adab ikhtilaf sesungguhnya adalah bagian dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
Ia bukan hanya soal bagaimana kita berbicara, tetapi bagaimana kita merasakan dan menyikapi perbedaan.
Dalam konteks umat hari ini, adab ikhtilaf menjadi semakin penting.
Kita hidup di era keterbukaan informasi, di mana setiap orang merasa berhak berbicara tentang agama, meskipun tanpa landasan ilmu yang memadai.
Akibatnya, perbedaan tidak lagi dipandu oleh ulama, tetapi oleh opini yang liar.
Di sinilah relevansi QS. An-Nisa’ 59 kembali menguat:
bahwa dalam setiap perselisihan, harus ada rujukan kepada otoritas ilmu dan wahyu.
Dan QS. Al-Ma’idah 48 mengingatkan:
bahwa energi kita tidak boleh habis untuk berdebat, tetapi harus diarahkan untuk berlomba dalam kebaikan.
Akhirnya, kita harus jujur mengakui:
perbedaan bukanlah ancaman terbesar bagi umat ini.
Yang menjadi ancaman adalah hilangnya adab dalam menyikapi perbedaan.
Jika adab dijaga, perbedaan akan melahirkan kekayaan pemikiran.
Jika adab hilang, perbedaan akan melahirkan perpecahan.
Maka, mari kita belajar kembali: bagaimana berbeda tanpa bermusuhan,bagaimana berdebat tanpa melukai,dan bagaimana mencari kebenaran tanpa kehilangan persaudaraan.
Karena pada akhirnya,
Islam tidak hanya mengajarkan kita apa yang benar, tetapi juga bagaimana cara menyampaikan dan menyikapi kebenaran. itu. Khutbah Masjid Almunawarah 27022026.


