Anak Gen Alpha dan Tantangan Parenting Islami di Era Digital
Oleh
Sarah Rahmadika
Mahasiswa Doktoral Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia
PENDAHULUAN
Bayangkan sebuah sore di ruang keluarga. Seorang anak sepuluh tahun duduk di sofa sambil menatap layar tablet, sedangkan ayahnya berusaha membacakan buku tentang kisah Nabi dan Rasul. Tanpa menatap, si anak menjawab, “Aku sudah lihat di YouTube, ayah”. Lalu apakah ini tanda kemajuan tekhnologi atau justru pertanda mulai berkurangnya peran orang tua sebagai pendidik di dalam keluarga?. Generasi Alpha yang lahir antara tahun 2010-2025 adalah generasi yang paling akrab dengan teknologi digital dan generasi yang diklaim paling cerdas dibanding generasi-generasi sebelumnya. Yeni umardin menyebutkan bahwa sebanyak 2,5 juta anak Generasi alpha lahir di dunia setiap minggunya. Menurutnya, gen A merupakan generasi yang paling akrab dengan internet sepanjang masa. juga memprediksi bahwa generasi alpha tidak lepas dari gadget, kurang bersosialisasi, kurang daya kreativitas, dan juga bersikap individualis.
Generasi ini tumbuh Bersama gawai, AI dan internet sejak usia dini, hal tersebut membentuk kemampuan yang baik untuk beradabtasi dengan teknologi, mereka berfikir lebih cepat dan visual. Sisi positif lain adalah anak gen alpha lebih terbiasa dengan keberagaman, mereka mengenal banyak budaya dan Bahasa, hal ini menyebabkan Tingkat toleransi nya jauh lebih baik dari generasi yang lain juga akses belajarnya sangat luas dan tidak terbatas.
Namun, ada banyak pula pengaruh negative dari teknolgi tersebut, diantaranya anak-anak cenderung menginginkan hal-hal yang instan dan kurang menghargai proses. Hal ini disebabkan oleh keasikan mereka dengan gadget yang membuat mereka teralienasi secara sosial. Di media sosial saja contohnya, banyak sekali video pendek yang menarik perhatian anak, mengganti video setiap beberapa detik membuat mereka mudah bosan saat belajar di dunia nyata. Sebenarnya gadget bisa membuat daya kreatif anak meningkat pesat, asalkan mereka diarahkan untuk menjadi creator bukan hanya sekedar konsumen. Kebanyakan Gen A menghabiskan segaian besar waktunya berada di depan layar, mulai dari belajar, bermain sampai bersosialisasi. Informasi datang dari segala arah diluar jangkauan orangtua, tanpa saringan, tanpa pandang bulu menghampiri siapapun yang mengaksesnya.
Perkembangan teknologi yang ada saat ini menyebabkan berbagai perubahan pola hidup yang terjadi di berbagai sisi kehidupan manusia sehingga mampu mempengaruhi individu dalam hal cara berpikir dan berperilaku. Hal yang ikut terdampak karena perkembangan teknologi Adalah pola asuh atau parenting dari orang tua pada anaknya. Gen A adalah anak-anak yang kebanyakan orang tuanya adalah gen Milenial dan gen Z, dimana mereka juga adalah pengguna teknologi yang sangat aktif. Pada dasarnya tekhnologi ada untuk mempermudah segala aktivitas manusia namun jika digunakan oleh anak-anak tanpa pengawasan dan bimbingan orantua, tekhnologi bisa menjadi racun yang akan mematikan potensi baiknya.
PEMBAHASAN
Teknologi memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupan manusia, namun juga memiliki banyak dampak negatif ketika digunakan dengan tidak bijak. Penggunaan teknologi yang kurang bijaksana juga dapat berdampak pada karakter anak. Tidak adanya filter dalam pengaksesan gadget maupun social media menjadikan mereka agresif dan tidak terkontrol. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menimbulkan karakter seperti individualis, emosional, kurang focus, serta bahasa yang tidak sesuai dengan usianya.
Adapun beberapa tantangan pola asuh di era digital ini antara lain:
- Paparan Layar dan Ketergantungan Digital; Anak yang terbiasa dengan gadget sejak dini, berisiko memiliki beberapa gangguan seperti kecanduan bermain gawai, kurang aktivitas fisik, dan bahkan mengalami gangguan tidur. Karena terlalu banyak terpapar Cahaya gadget akan membuat otak terus aktif meskipun di waktu tidur. Selain itu dibanyak kasus lain, anak-anak cenderung ingin terus bermain gadget, saat orang tua melarang, mereka akan mulai menangis dan tidak bisa mengendalikan emosinya.
- Akses Informasi Tanpa Filter; konten yang di konsumsi anak tanpa pengawasan rentan terpapar kekerasan, pornografi, cyberbullying dan judi online. Dimana anak yang berusia dibawah 10 tahun belum memiliki filter pribadi akan konten yang baik dan buruk.
- Minim Keterampilan Hidup Nyata; jika anak terlalu banyak duduk di depan layar hal itu akan membuat aktivitas fisik anak berkurang, sehingga ia tidak bisa melakukan hal-hal yang seharusnya anak-anak lakukan seperti bermain di alam dan bersosialisasi dengan teman sebayanya.
- Sikap Serba Instan; Terbiasa dengan video pendek dan permainan cepat, membuat mereka mudah menyerah dan kurang sabar. Karena dalam penelitian dijelaskan bahwa konten video pendek bisa menyebabkan brainrot atau pembusukan otak sehingga anak malas untuk berfikir dan bekerja lebih keras. Hal tersebut akan berimbas pada kehidupan sehari-hari nya, dimana anak akan cenderung malas beraktifitas dan tidak kreatif.
- Kurangnya Kelekatan Emosional; Minim interaksi langsung antara orang tua dan anak menyebabkan terhambatnya pembentukan karakter anak.
- Risiko Kesehatan Mental: Paparan dunia digital yang intens dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi pada Gen Alpha. Hal ini disebabkan oleh banyaknya konsumsi konten yang menampilkan kehidupan pribadi orang lain, secara tidak langsung anak jadi membandingkan kehidupan real nya dengan apa yang ditampilkan orang lain di dalam konten.
Untuk mensiasati tantangan tadi, ada beberapa Solusi yang bisa diterapkan sesuai ajaran Islam:
- Pondasi Keagamaan; tentunya pondasi agama Adalah hal yang paling kuat untuk membentuk karakter baik seseorang. Anak bisa diajarkan nilai-nilai Islam, doa, sholat, dan akhlak mulia sejak dini sebagai benteng karakter. Selain itu orang tua hendaknya menanamkan nilai esensi seperti rasa hormat, kejujuran, dan kerja keras.
- Orang tua Adalah sekolah pertama bagi anak, dimana mereka harus menjadi contoh dalam penggunaan teknologi yang bijak dan beradab. Orang tua harus memberi contoh penggunaan gadget untuk hal yang bersifat ubudiyah seperti untuk membaca al-Qur’an, membaca sirah nabawiah dan menonton video edukasi Islami.
- Aturan dan Pengawasan; orang tua harus menetapkan batasan waktu dan memilih jenis konten (parental control). Selain itu juga aktivitas online, riwayat pencarian, dan aplikasi yang diunduh oleh anak harus dalam pengawasan orangtua.
- Prioritaskan waktu berkualitas tanpa gawai; connection atau hubungan antara anak dan orangtua harus dibangun dengan meluangkan waktu Bersama. Hal tersebut dapat berkontribusi dalam Kesehatan dan perkembangan anak. Saat koneksi tadi sudah terjalin, pengendalian ranah digital anak akan menjadi lebih mudah. Anak akan lebih terbuka tentang apa yang ia lihat dan baca saat menggunakan gadget. Hendaknya orantua jadi tempat paling nyaman dan aman bagi anak berbagi segala hal.
- Edukasi Adab Digital: Ajarkan sopan santun di dunia maya, sama seperti di dunia nyata. Tekankan pentingnya menjaga privasi, tidak membagikan data pribadi, dan waspada terhadap cyberbullying. Nilai esensi tadi juga harus diterapkan oleh anak saat di dunia maya.
- Komunikasi dan Kepercayaan: beri anak kepercayaan dan bangun komunikasi terbuka agar anak merasa nyaman bercerita tentang dunia digitalnya. Kadang kala, melarang anak dengan keras malah menjadikan anak enggan untuk terbuka, dan malah membuat jarak yang jauh antara anak dan orangtua.
Salah satu pendekatan dalam pola asuh anak adalah Islamic parenting atau parenting islami. Pola asuh ini berlandaskan pada ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan tujuan membentuk karakter dan moral anak sesuai nilai-nilai Islam. Di tengah perubahan zaman yang cepat, orang tua muslim dituntut mampu mendidik anak sejak dini agar tidak terjerumus pada krisis moral, sekaligus bijak memanfaatkan teknologi dalam proses pengasuhan.
Untuk mendidik gen alpha diperlukan perlakuan khusus, saat mereka diperlakukan dengan gaya otoriter, mereka malah menjauh secara emosional. Sebaliknya, gaya permisif yang memberi kebebasan penuh sering kali diartikan sebagai ketidakpedulian terhadap anak. Maka, tantangan terbesar orang tua masa kini bukan melarang anak menggunakan gadget, tetapi menemukan cara agar nilai-nilai agama tetap hidup dan relevan di tengah derasnya arus digitalisasi.
Dalam khazanah Islam, pendidikan anak dikenal dengan istilah tarbiyah yang berarti Pendidikan yang mencakup proses menumbuhkembangkan potensi ilahiah dan akal pada seorang anak. Dimana tujuan Pendidikan Islam sendiri Adalah untuk membantu manusia menjalani fitrah sebagai khalifah atau pemimpin dibumi. Oleh karena itu, parenting Islami tidak hanya memberikan aturan, tetapi menciptakan penghayatan akan setiap aturan yang diterapkan.
Inilah tiga pilar dasar pendidikan Islam yang seharusnya menjadi fondasi pola asuh di era Gen Alpha. Menurut seorang Psikolog Diana Baumrind gaya parenting di bagi menjadi tiga, pertama gaya otoriter, pola asuh ini orangtua menerapkan seperangkat peraturan kepada anaknya secara ketat dan sepihak, cenderung menggunakan pendekatan yang bersifat diktator, menonjolkan wibawa, menghendaki ketaatan mutlak. Pola asuh otoriter adalah bentuk pola asuh yang menekankan pada pengawasan orangtua atau kontrol yang ditujukan pada anak untuk mendapatkan ketaatan dan kepatuhan. Kedua, gaya permisif dikenal pula dengan pola asuh serba membiarkan adalah orangtua yang bersikap mengalah, menuruti melindungi secara semua keinginan, berlebihan, serta memberikan atau memenuhi semua keinginan anak secara berlebihan. Ketiga, gaya otoritatif Adalah pola asuh yang dinamis, dimana orangtua menyesuaikan dengan perubahan zaman, sesuai kebutuhan dan kemampuan anak, konsisten demokratis dan menjadi teladan. Gaya otoritatif dianggap paling efektif karena menyeimbangkan kasih sayang dengan disiplin. Dalam konteks Islam, model ini paling mendekati dengan metode pendidikan Rasulullah SAW yaitu tegas dalam prinsip namun lembut dalam pendekatan.
Misalnya, ketika anak meminta izin menonton tv setelah salat Magrib, dari pada langsung melarang nya orang tua bisa berkata: “boleh, tapi bagaimana kalau kita membaca Al-Qur’an dulu sebagai rasa Syukur karena diberi waktu untuk berkumpul dan menonton tv bersama?”
Dengan pendekatan seperti ini, nilai agama tidak disampaikan sebagai beban, tetapi sebagai pengalaman emosional yang menyenangkan. Anak belajar bahwa spiritualitas tidak berlawanan dengan dunia modern, melainkan pusat dari segala yang di kerjakannya.
Banyak orang tua yang menganggap bahwa gadget bisa dijadikan ‘pengasuh’ saat mereka sibuk dengan hal lain. Tanpa disadari bahwa dampak yang dibawanya akan sangat massive. Sering kali kita mengeluh anak zaman sekarang kurang sopan, kurang religius, atau terlalu bergantung pada gawai, lalu serta merta melarang penggunaan teknologi secara total. Namun sesungguhnya yang harus diperhatikan Adalah untuk apa teknologi itu di gunakan, seperti memperhatikan konten apa yang diakses dan mengandung unsur edukasi atau tidak.
KESIMPULAN
Parenting Islami bagi gen alpha bukan tentang memperbanyak ceramah, tapi menanamkan pemahaman spiritual di hati anak agar tumbuh dengan kemampuan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tekhnologi tidak bisa dipandang sebagai musuh, namun arena baru untuk menanamkan nilai-nilai agama. Peran orang tua tidak dapat digantikan sekolah, apalagi gawai. Rumah harus kembali menjadi “madrasah pertama”, tempat anak belajar kasih sayang, kejujuran, dan keteladanan. Anak Gen Alpha memang berbeda, tetapi mereka tetap memiliki fitrah spiritual yang sama: ingin dicintai, didengarkan, dan dimaknai. Jika orang tua mampu hadir dengan bahasa yang relevan hangat, dialogis, dan kontekstual agama akan kembali hidup di hati anak, bahkan di tengah riuh dunia digital. Generasi Alpha tidak dapat dijauhkan dari teknologi, tetapi dapat didekatkan kepada nilai ilahiah. Kesimpulannya, kunci parenting Islami di era digital bukan sekadar mengawasi anak dari layar, melainkan menuntun mereka agar melihat dunia termasuk dunia maya melalui cahaya nilai-nilai Ilahi.
