BADAI MANSON MENGHANTAM SUMATERA
Oleh: Duski Samad
Fenomena cuaca ekstrem yang terjadi di Sumatera pada penghujung tahun 2025 menunjukkan intensifikasi sistem monsun Asia–Australia yang dikenal sebagai *Badai Manson*. Artikel ini menelaah faktor meteorologis, perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta implikasi sosial-ekologis yang memperparah dampak banjir bandang, longsor, dan kerusakan infrastruktur. Pendekatan digunakan adalah sintesis data klimatologi, teori ekologi politik, dan kerangka moral keagamaan untuk memetakan hubungan antara dinamika alam dan perilaku manusia. Temuan menunjukkan bahwa bencana tidak semata akibat fenomena atmosfer, tetapi hasil interaksi kuat antara anomali cuaca dan kerentanan ekologis yang diciptakan manusia.
**Kata kunci:** Badai Manson, monsun Asia, banjir bandang, ekologi Sumatera, perubahan iklim, ekologi manusia.
—
1. Pendahuluan**
Fenomena cuaca ekstrem yang melanda Sumatera pada akhir November–Desember 2025 merupakan peristiwa hidrometeorologi yang memicu banjir bandang, longsor, dan pengerusan sungai. Banyak ahli mengaitkannya dengan intensifikasi *Badai Manson*, sebuah anomali monsun barat yang membawa massa udara basah dari Samudra Hindia.
Beberapa tahun terakhir, bencana hidrometeorologi meningkat signifikan di Indonesia. BNPB mencatat bahwa **90–95% bencana nasional adalah bencana hidrometeorologi**, didorong oleh perubahan iklim global, kerusakan lingkungan, dan urbanisasi tidak terkontrol. Sumatera Barat salah satu wilayah paling rentan karena kombinasi topografi curam, sungai pendek, dan kerentanan tata ruang.
Ayat **QS. Ar-Rum:41** memberikan perspektif religius:
*“Telah tampak kerusakan di darat dan laut karena perbuatan tangan manusia…”*
Menunjukkan bahwa bencana adalah kombinasi “sunatullah alam” dan “kesalahan manusia.”
Artikel ini bertujuan:
1. Menjelaskan apa itu *Badai Manson* secara ilmiah.
2. Menganalisis faktor ekologis dan sosial yang memperparah dampaknya.
3. Menawarkan kerangka mitigasi dan adaptasi.
2. Kajian Teoritis / Tinjauan Literatur
2.1. Monsun Asia dan Sistem Manson Circulation
Teori monsun merujuk pada perbedaan tekanan udara antara benua Asia dan Samudra Hindia. *Manson circulation* (Manson, 1981) menjelaskan pola angin baratan yang menguat saat musim basah dan melemah saat musim kering. Penyimpangan pola angin ini dapat memicu hujan ekstrem.
2.2. Pemanasan Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole – IOD)
Pemanasan suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature/SST) 1–2°C mampu meningkatkan penguapan drastis. Ketika IOD positif lemah bersamaan dengan monsun aktif, Sumatera menerima curah hujan ekstrim (>150 mm/hari).
2.3. Ekologi Politik dan Kerentanan Bencana
Escobar (1999) dan Adger (2006) menegaskan bahwa kerentanan bencana bukan hanya faktor alam, tetapi hasil *political ecology*: perizinan lahan, pengelolaan DAS, dan tata ruang.
## **2.4. Perspektif Islam tentang Relasi Manusia–Alam**
Al-Qur’an menempatkan manusia sebagai khalifah (QS. Al-Baqarah:30) dengan tanggung jawab memakmurkan bumi (QS. Hud:61). Ketika manusia merusak ekosistem, konsekuensi ekologis menjadi tak terhindarkan.
—
# **3. Metodologi Kajian**
Metode dalam artikel ini bersifat **kualitatif-analitis**, melalui:
1. Analisis data meteorologi
Data BMKG, NOAA, Indian Ocean Observation System tentang anomali SST dan intensitas monsun barat 2025.
2. Analisis ekologis
Kajian penggunaan lahan, deforestasi, perubahan DAS, aktivitas galian C, dan penimbunan rawa berdasarkan riset ekologi Sumatera.
3. Analisis sosial-keagamaan
* Menggunakan kerangka konstruksi makna bencana dari perspektif Islam dan sosiologi bencana (Quarantelli, 2005).
4. Hasil dan Pembahasan**
4.1. Apa Itu Badai Manson?
*Badai Manson* bukan badai tunggal, tetapi intensifikasi sistem monsun barat. Ciri-cirinya:
* angin barat menguat signifikan (>20–30 knot),
* SST Samudra Hindia memanas drastis,
* pertumbuhan awan konvektif besar (Cumulonimbus),
* curah hujan ekstrem di wilayah pesisir Sumatera.
Fenomena ini mirip “*atmospheric river*” kecil: aliran lembap pekat yang jatuh sekaligus ke daratan.
4.2. Mengapa Sumatera Sangat Terdampak?
a. Topografi Ringkas dan Lereng Curam
Sungai di Sumbar pendek dan curam: air cepat melaju dan langsung berubah menjadi banjir bandang.
b. Kerusakan Hutan di Hulu
Deforestasi 20–30 tahun terakhir menyebabkan kehilangan fungsi penahan air. Kajian CIFOR menunjukkan hutan rusak meningkatkan debit limpasan hingga 60%.
c. Alih Fungsi Rawa dan Sawah Menjadi Perumahan
Rawa adalah “ spons banjir”, tetapi kini banyak berubah menjadi permukiman.
d. Aktivitas Galian C dan Penambangan Sungai
Galian C mempercepat pendangkalan dan mempersempit badan sungai, memicu *backwater flood*.
e. Tata Ruang (RT–RW) yang Lemah
Evaluasi sistemik menunjukkan banyak perumahan berada di zona merah banjir.
4.3. Interaksi Badai Manson + Kerusakan Ekosistem = Bencana Kompleks**
Secara ilmiah, bencana terjadi ketika:
> *Hazard (bahaya) + Vulnerability (kerentanan) = Disaster**
Badai Manson adalah *hazard*,
Tetapi kerusakan lingkungan—yang dibuat manusia—adalah *vulnerability*.
Ayat QS. Ar-Ra’d:11 menegaskan:
*“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”*
Dalam konteks ekologi: perubahan tata kelola menentukan keselamatan.
4.4. Dampak Sosial, Ekonomi, dan Spiritual
Dampak utama meliputi:
* hancurnya infrastruktur pendidikan (pesantren, sekolah, surau),
* hilangnya rumah dan mata pencarian,
* trauma psikologis,
* guncangan spiritual,
* migrasi paksa.
Sosiologi bencana menunjukkan masyarakat adat Minang memiliki modal sosial tinggi (gotong royong, surau-based community), tetapi terhambat oleh tata ruang modern yang tidak adaptif.
5. Kesimpulan
1. **Badai Manson adalah fenomena monsun yang mengalami intensifikasi akibat pemanasan Samudra Hindia dan perubahan iklim global.**
2. **Dampak ekstrem di Sumatera diperparah oleh kerusakan lingkungan yang dilakukan manusia**, termasuk deforestasi, alih fungsi lahan, penambangan sungai, dan tata ruang yang tidak disiplin.
3. **Bencana adalah peristiwa ekologis sekaligus moral**, menegaskan pentingnya etika pengelolaan bumi.
4. **Mitigasi ke depan harus integratif**, mencakup restorasi ekosistem, audit tata ruang, moratorium galian C, serta edukasi masyarakat berbasis surau dan pesantren.
6. Rekomendasi Kebijakan**
1. **Rehabilitasi DAS prioritas** (Batang Kuranji, Batang Air Dingin, Batang Ulakan, Batang Sumpur).
2. **Moratorium total** terhadap izin baru perumahan di area resapan banjir.
3. **Program Green Nagari** berbasis kearifan lokal Minang serta konsep *khalifah fil ardh*.
4. **Integrasi mitigasi bencana ke dalam pendidikan pesantren dan surau** (literasi iklim).
5. **Early Warning System berbasis komunitas** dengan dukungan BMKG.
6. **Penegakan hukum yang tegas** untuk pelaku perusakan hutan dan sungai.
Daftar Pustaka
* Adger, W.N. (2006). *Vulnerability*. Global Environmental Change.
* BMKG. (2025). Laporan Anomali Monsun Asia.
* CIFOR. (2022). *Forest Loss and Hydrological Impact in Sumatera*.
* Escobar, A. (1999). *Political Ecology: Nature and Power*.
* Manson, J. (1981). *Asian Monsoon Classification*.
* Quarantelli, E. (2005). *Sociology of Disaster*.
