BAHTERA NABI NUH DAN BANJIR TABING BANDA GADANG PADANG

BAHTERA NABI NUH DAN BANJIR TABING BANDA GADANG PADANG

Oleh: Duski Samad

 

Melihat sisa-sisa banjir bandang yang menerjang kawasan Tabing Banda Gadang, Padang, pikiran penulis seketika terkoneksi dengan kisah agung dalam Al-Qur’an: banjir besar pada masa Nabi Nuh AS. Sebuah kisah yang bukan sekadar dongeng sejarah, tetapi peringatan peradaban tentang batas-batas akal manusia dan keharusan tunduk pada ilmu dan wahyu.

Ketika Nabi Nuh AS diperintahkan Allah untuk membuat bahtera, kaumnya justru membully dan mengejek. Mereka menertawakan seorang nabi yang membangun kapal di daratan tinggi—tempat yang secara logika kasat mata mustahil akan terendam air. Allah SWT merekam ejekan itu dalam firman-Nya: “Dan Nuh membuat bahtera… maka setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya…”
(QS. Hūd: 38)

Ejekan itu lahir dari kesombongan intelektual—merasa tahu segalanya, merasa alam sepenuhnya bisa diprediksi, merasa bencana hanya mungkin terjadi sesuai kebiasaan lama.

Ilmiah: Data Curah Hujan dan Potensi Banjir Padang

Data klimatologis menunjukkan bahwa Kota Padang adalah salah satu kota hujan tropis basah di Indonesia dengan curah hujan tahunan yang sangat tinggi—rata-rata sekitar 4.300 mm per tahun, jauh di atas kota-kota lain di nusantara. Kondisi ini membuat potensi banjir menjadi kondisi yang terus membayangi jika pengelolaan lahan dan tata ruang tidak memadai.

Analisis lebih lanjut dari berbagai penelitian memperlihatkan adanya tren kenaikan curah hujan di Kota Padang dari sekitar 2.756,4 mm pada 2019 menjadi lebih dari 4.124,2 mm pada 2021, sebuah indikasi bahwa intensitas hujan tinggi dan anomali curah hujan meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

DAS Kuranji, Tata Ruang, dan Risiko Sistemik

Wilayah Tabing Banda Gadang bagian dari ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuranji, yang merupakan salah satu DAS terbesar di Padang. Penelitian geografi bencana lokal menunjukkan bahwa topografi DAS ini memiliki karakteristik lahan yang bervariasi dan tingkat bahaya banjir bandang yang bervariasi, tergantung pada kerentanan sosial dan perubahan penggunaan lahan. Upaya mitigasi termasuk rekayasa biofisik DAS, pengelolaan DAS terpadu, dan penataan ruang berbasis mitigasi bencana sangat diperlukan untuk meminimalisir dampak kejadian serupa di masa mendatang.

Permasalahan utama di banyak kawasan urban termasuk Tabing Banda Gadang adalah fungsi lahan yang berubah cepat ke arah pemukiman tanpa penguatan kapasitas resapan air dan mitigasi sungai. Alih fungsi lahan tanpa sistem manajemen ekologis akan memperburuk risiko banjir bandang, terlebih ketika disertai curah hujan intens yang terus meningkat.

Ketika Akal Dikurung oleh Kebiasaan

Kaum Nabi Nuh menilai realitas hanya dari pengalaman masa lalu. Mereka tidak membayang kan hujan yang tak berhenti, mata air yang memancar dari perut bumi, dan air yang menenggelam kan seluruh daratan. Padahal Allah telah menegaskan: “Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah, dan Kami pancarkan mata air-mata air di bumi…”
(QS. Al-Qamar: 11–12)

Refleksi ini relevan dengan fenomena banjir bandang hari ini: kita sering membangun kawasan permukiman di area dengan risiko tinggi, mengira pengalaman “aman” masa lalu akan terus berulang, padahal data klimatologis dan hidrologis modern menunjukkan latihan ekstrem hujan dapat terjadi di luar pola rutin lama.

Intelektualisme yang Terbatas

Banjir bandang Tabing Banda Gadang bukan hanya tragedi ekologis, tetapi juga cermin keterbatasan intelektual manusia dalam membaca sinyal ilmiah dan sunatullah alam. Banyak yang terjebak pada intelektualisme sempit—cerdas dalam hitungan ekonomi, tetapi miskin kebijaksanaan ekologis; mahir membaca data jangka pendek, tetapi buta terhadap risiko jangka panjang.

Allah SWT mengingatkan: “Mereka mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, tetapi mereka lalai terhadap kehidupan akhirat.” (QS. Ar-Rūm: 7)
Ayat ini relevan bukan hanya soal akhirat, tetapi juga kelalaian membaca dampak jangka panjang dari keputusan pembangunan dan pemanfaatan ruang.

Bahtera sebagai Simbol Kesadaran

Bahtera Nabi Nuh AS bukan sekadar kapal penyelamat fisik, tetapi simbol kesadaran, ketaatan pada ilmu dan wahyu, serta keberanian melawan ejekan publik. Bahtera masa kini bisa berupa tata ruang berbasis mitigasi risiko bencana, penguatan daerah resapan, sistem peringatan dini, dan kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Hari ini, “bahtera” itu harus kita bangun dalam bentuk kebijakan, bukan sekadar material, agar kita tidak terulang sebagai kaum yang menertawakan bukti ilmiah sampai air hujan telah mencapai puncak rumah kita sendiri.ds.tapi bandagadang12012026.

Leave a Reply