BELAJAR AGAMA TAPI TAK BERAGAMA: KESENJAGAN ILMU DAN AMAL DALAM PRAKTIK PEMBELAJARAN PAI

BELAJAR AGAMA TAPI TAK BERAGAMA: KESENJAGAN ILMU DAN AMAL DALAM PRAKTIK PEMBELAJARAN PAI

Oleh

Muhammad Ihsan Fauzi

Mahasiswa S3 Pendidikan Agama Islam (PAI) UPI

 

PENDAHULUAN

Fenomena “belajar agama tapi tak beragama” menjadi ironi yang kian terasa dalam dunia pendidikan kita. Banyak siswa mampu menjelaskan dan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, atau menjelaskan ajaran-ajaran agama dengan fasih, namun dalam keseharian masih mudah mengucap kata kasar, membully teman, menyontek, mengabaikan etika digital, bahkan terlibat tindakan kekerasan. Mereka menguasai dalil-dalil, tetapi tidak menjadikannya pedoman. Di sosial media, kita kerap menyaksikan pelajar yang mengunggah konten hinaan kepada guru, tawuran antar pelajar, hingga perilaku intoleran yang menunjukkan bahwa nilai agama belum benar-benar membumi dalam karakter mereka. Fenomena ini menyiratkan adanya jurang besar antara apa yang diketahui dan apa yang diamalkan, antara hafalan ajaran dan akhlak keteladanan, antara belajar agama dan benar-benar beragama.

Pendidikan Agama Islam (PAI) sejatinya dirancang untuk membentuk manusia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Namun realitas menunjukkan pembelajaran agama sering terjebak pada orientasi kognitif, mengejar nilai, dan ketuntasan administrasi. Guru fokus menyelesaikan kurikulum, siswa fokus pada ujian, sementara nilai spiritual yang seharusnya menjadi ruh pendidikan justru tercecer di luar kelas. Akibatnya, agama tampak seperti mata pelajaran yang “harus lulus”, bukan cahaya yang menuntun kehidupan. Ketika PAI hanya menjadi rutinitas formalitas, ia kehilangan fungsinya yaitu membentuk manusia yang mampu menerjemahkan nilai iman dalam aksi nyata.

Kasus-kasus yang muncul pada generasi muda saat ini mempertegas persoalan tersebut. Tidak sedikit narasi tentang siswa yang memperkarakan gurunya, mengancam hukum, atau menyerang balik disiplin sekolah dengan dalih “hak siswa”. Ada pula kelompok remaja yang salah memahami agama sehingga mudah mengklaim paling benar dan menghakimi orang lain yang tidak sepemahaman. Di sisi lain, muncul kritik bahwa sebagian pesantren dianggap membangun hierarki yang kaku dan berpotensi menumbuhkan feodalisme. Dua fenomena yang tampak berlawanan itu sejatinya memiliki akar yang sama, yaitu gagalnya internalisasi nilai agama sebagai semangat kemanusiaan, kasih sayang, dan kerendahan hati dalam praktik kehidupan.

 

PEMBAHASAN

Fenomena lemahnya kualitas pemahaman dan penghayatan nilai-nilai agama pada peserta didik merupakan persoalan kompleks yang tidak dapat dijelaskan melalui satu faktor tunggal. Ia merupakan hasil dari interaksi berbagai aspek mulai dari metode pembelajaran, lingkungan keluarga, dinamika sosial, hingga perkembangan teknologi digital. Oleh karena itu, pembahasan ini akan mengurai secara lebih mendalam faktor-faktor penyebab, konsekuensi, serta langkah strategis dalam mengembalikan Pendidikan Agama Islam (PAI) pada orientasi pembentukan akhlak mulia.

  1. Kelemahan Pendekatan dan Metode Pembelajaran Pembelajaran

Salah satu akar permasalahan terbesar adalah dominasi pendekatan hafalan dalam pembelajaran PAI. Model ini memang memiliki fungsi dasar dalam membantu siswa menguasai ayat-ayat Al-Qur’an, doa, dan konsep fikih, namun ia tidak secara otomatis membentuk penghayatan spiritual dan kesadaran etis. Hafalan cenderung menghasilkan pemahaman yang dangkal dan fragmentaris. Siswa dapat menyebutkan definisi akhlak terpuji, tetapi tidak mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari karena mereka tidak dibiasakan untuk merenungkan makna, hikmah, maupun tujuan syariat (maqashid al-syari’ah) yang menjadi fondasi etika Islam. Lebih jauh, pola pembelajaran yang terlalu berorientasi pada teks mengabaikan aspek dialogis yang penting dalam pendidikan moral. Siswa mungkin tahu bahwa “menjaga lisan itu wajib,” tetapi tidak diarahkan untuk mengevaluasi bagaimana kebiasaan mereka berkomentar di media sosial dapat melukai orang lain. Pendidikan agama seharusnya membuka ruang bagi perenungan, diskusi nilai, pengambilan keputusan moral, dan pemaknaan ulang ajaran sesuai konteks kehidupan modern.

 

  1. Materi PAI yang Kurang Kontekstual dengan Dunia Siswa

Selain faktor metodologis, problem lain adalah kurikulum dan materi PAI yang cenderung normatif serta kurang menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa masa kini. Ketika guru menjelaskan tentang amanah, misalnya, pembahasan sering berhenti pada contoh-contoh formal seperti mengembalikan barang temuan atau melaksanakan tugas piket. Padahal, realitas anak hari ini diwarnai isu yang jauh lebih kompleks, seperti integritas dalam dunia digital, keamanan privasi, serta dampak penyebaran konten negatif. Perundungan siber, ujaran kebencian, kecanduan gawai, perilaku konsumtif online, hingga hilangnya empati sosial akibat over-exposure terhadap konten digital seharusnya menjadi bagian integral dalam pengajaran akhlak. Ketika PAI gagal mengaitkan nilai agama dengan masalah nyata siswa, pembelajaran tampak abstrak, jauh dari kehidupan, dan sulit menginspirasi perubahan perilaku.

  1. Peran Guru PAI yang Kurang Maksimal

Guru memiliki peran kunci dalam pembentukan karakter. Namun kenyataannya, banyak guru PAI menghadapi hambatan struktural dan profesional yang signifikan. Sebagian guru belum cukup terlatih dalam metodologi pembelajaran modern yang menekankan kolaborasi, refleksi, dan partisipasi aktif siswa. Sebagian lainnya masih kesulitan memanfaatkan teknologi, sehingga pembelajaran menjadi kurang menarik bagi generasi digital native. Beban administrasi yang sangat besar juga menggerus waktu dan energi guru. Ketika perhatian guru tersita untuk laporan, perangkat pembelajaran, dan sistem penilaian, maka ruang untuk memberi pendampingan moral secara personal kepada siswa menjadi semakin terbatas. Padahal pembinaan akhlak membutuhkan kedekatan, kehadiran, dan interaksi manusiawi yang konsisten bukan sekadar ceramah.

  1. Lemahnya Keteladanan dan Peran Pendidikan Agama dalam Keluarga

Keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak. Namun pada banyak kasus, pendidikan agama di rumah melemah karena kesibukan orang tua, tekanan ekonomi, atau pola komunikasi yang kurang sehat. Sebagian orang tua menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan akhlak kepada sekolah, padahal anak justru lebih banyak menghabiskan waktu di luar lingkungan sekolah. Keteladanan orang tua sangat menentukan. Anak yang diajarkan sopan santun tetapi melihat orang tuanya mudah marah, mengumpat, atau melakukan praktik manipulatif, akan mengalami disonansi nilai. Pesan moral guru menjadi tidak relevan jika tidak diperkuat keteladanan di rumah. Hal ini memperlemah proses internalisasi agama.

  1. Pengaruh Lingkungan Sosial dan Media Digital

Tantangan moral generasi muda semakin berat ketika lingkungan sosial dan media digital tidak memfasilitasi perkembangan karakter positif. Media sosial sering menampilkan figur publik yang mendapatkan popularitas bukan karena akhlaknya, melainkan karena sensasi dan hiburan yang dangkal. Budaya viral yang menormalisasi kekerasan verbal, penghinaan, dan provokasi semakin membentuk pola interaksi yang tidak sejalan dengan nilai agama. Ketika anak terbiasa mengonsumsi konten yang menormalisasi gaya hidup materialistik dan individualistik, maka pendidikan agama akan dianggap sebagai sesuatu yang “kuno” dan tidak relevan. Inilah penyebab munculnya generasi yang “percaya Tuhan tetapi tidak beragama” percaya pada spiritualitas, tetapi mengabaikan aturan dan moralitas agama dalam hidup keseharian.

Jika masalah ini tidak ditangani serius, kita berpotensi melahirkan generasi yang Pintar berdebat tetapi miskin akhlak, menguasai teori tetapi tidak memiliki sensitivitas moral. Memahami teks agama tetapi tidak memahami konteks sosial, sehingga muncul kecenderungan radikal akibat pemahaman yang kaku dan hitam-putih. Merasa agama tidak relevan dengan masalah modern, sehingga berkembang sikap apatis atau sekularisme ekstrem. Pandai berargumen tetapi gagal mempraktikkan nilai, misalnya menghafal dalil amanah tetapi tetap menyontek. Jurang antara ilmu dan amal pada akhirnya mengurangi fungsi agama sebagai pedoman hidup dan hanya menjadikannya sebagai pengetahuan teknis yang steril dari praktik. Untuk menjawab tantangan tersebut, PAI harus kembali kepada esensinya, yaitu membentuk akhlak mulia dan karakter rahmatan lil ‘alamin. Transformasi pembelajaran dapat dilakukan melalui:

  1. Pembiasaan dan Keteladanan

Transformasi pembelajaran PAI tidak mungkin terwujud tanpa kehadiran teladan nyata dari pendidik. Dalam tradisi Islam, keteladanan (uswah hasanah) adalah metode pendidikan paling kuat karena menyentuh ranah afektif dan moral siswa. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana nilai agama diterapkan dalam tindakan sehari-hari, seperti cara berbicara, cara menyelesaikan konflik, cara menunjukkan empati, hingga cara menggunakan media digital secara bijak.

 

  1. Refleksi Moral

Refleksi moral adalah proses membantu siswa memahami pengalaman mereka dari perspektif etika Islam. Di era digital, anak-anak menghadapi banyak dilema moral, seperti cyberbullying, hoaks, pergaulan, konten negatif, hingga tekanan sosial media. Guru PAI dapat menyelenggarakan sesi refleksi mingguan, misalnya melalui diskusi kelompok kecil atau jurnal refleksi, untuk mengajak siswa mengevaluasi perilaku mereka di rumah, sekolah, atau dunia maya. Tujuan refleksi bukan menghakimi, tetapi menumbuhkan kesadaran. Ketika siswa mampu menyadari bahwa suatu perilaku bertentangan dengan nilai agama, mereka menjadi lebih mandiri dalam mengambil keputusan moral. Hal ini membuat pembelajaran PAI tidak hanya menjadi transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter yang berakar pada kesadaran diri (self-awareness).

  1. Integrasi Kurikulum Kontekstual

PAI akan jauh lebih relevan ketika dikaitkan dengan kehidupan modern. Integrasi kurikulum kontekstual berarti menghubungkan ajaran Islam dengan isu digital, sains, budaya populer, dan realitas sosial. Guru dapat membahas topik seperti etika penggunaan AI, adab bermedia sosial, keadilan sosial, lingkungan hidup, moderasi beragama, hingga isu kesehatan mental dari perspektif keislaman. Dengan pendekatan kontekstual, siswa merasa bahwa Islam hadir menjawab kebutuhan zaman. Mereka memahami bahwa ajaran agama tidak ketinggalan zaman, melainkan sangat relevan untuk dijadikan pedoman hidup. Selain itu, materi berbasis konteks membuat proses belajar lebih menarik karena dekat dengan pengalaman keseharian mereka.

  1. Penguatan Kompetensi Guru

Guru PAI adalah ujung tombak transformasi pembelajaran. Karena itu, mereka perlu dibekali kompetensi modern, tidak hanya pemahaman materi agama. Guru harus menguasai pedagogi abad 21, di antaranya:

  1. literasi teknologi (menggunakan aplikasi, media pembelajaran digital, dan platform interaktif),
  2. kemampuan komunikasi empatik,
  3. pendekatan pembelajaran berbasis proyek,
  4. pengetahuan konseling anak dan remaja,
  5. kemampuan membangun hubungan yang suportif dengan siswa.
  6. Sinergi Sekolah dan Keluarga

Internalisasi nilai agama membutuhkan keselarasan antara sekolah dan rumah. Jika sekolah mengajarkan kejujuran tetapi di rumah anak melihat ketidakjujuran, maka proses pembelajaran tidak akan efektif. Oleh karena itu, komunikasi antara guru dan orang tua menjadi sangat penting.

  1. Menghidupkan Agama sebagai Gaya Hidup

Transformasi pembelajaran PAI mencapai puncaknya ketika nilai agama menjadi gaya hidup siswa. Artinya, agama tidak lagi dipandang sebagai kewajiban formal di kelas, tetapi menjadi cahaya (nur) yang membimbing perilaku sehari-hari. Nilai agama hadir dalam cara siswa bersosialisasi, memilih konten digital, mengatasi konflik, menjaga kebersihan lingkungan, hingga dalam cara mereka merencanakan masa depan. Ketika agama dihidupkan sebagai gaya hidup bukan sekadar hafalan atau pengetahuan kognitif maka pendidikan PAI benar-benar berhasil. Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan siswa yang pintar secara akademik, tetapi generasi yang memiliki hati yang baik, pikiran yang jernih, dan karakter yang kuat

 

KESIMPULAN

Fenomena “belajar agama tetapi tidak beragama” mencerminkan adanya ketimpangan antara pengetahuan keagamaan siswa dan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kesenjangan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari metode pembelajaran PAI yang terlalu menekankan hafalan, materi yang kurang relevan dengan persoalan modern, keterbatasan kompetensi guru, lemahnya keteladanan di rumah, hingga pengaruh lingkungan digital yang sering kali bertentangan dengan nilai Islam. Jika kondisi ini dibiarkan, pendidikan agama hanya menghasilkan generasi yang pandai berteori tetapi miskin akhlak, memahami teks tetapi tidak mampu menerapkannya dalam konteks sosial. Karena itu, PAI perlu dikembalikan pada esensi utamanya, yaitu membentuk karakter dan akhlak mulia. Transformasi pembelajaran harus diwujudkan melalui keteladanan guru, pembiasaan perilaku positif, refleksi moral, integrasi materi yang kontekstual, peningkatan kompetensi pedagogis dan digital guru, serta sinergi yang kuat antara sekolah dan keluarga. Agama harus dihidupkan sebagai gaya hidup yang tercermin dalam cara siswa berperilaku, berinteraksi, dan mengambil keputusan. Dengan demikian, pendidikan agama tidak hanya mencerdaskan secara kognitif, tetapi juga menumbuhkan kepekaan moral, empati, dan integritas sehingga peserta didik dapat menjalani ajaran Islam secara utuh dalam kehidupan nyata

Leave a Reply