BENCANA SALAREH AIR DAN SAWIT
Lereng Diganti Sawit, 4 Jorong Tertimbun Banjir Bandang: Ketika Fasad Alam Menuntut Balik
Oleh: Duski Samad
Pembina Pendidikan dan Pemerhati Kebencanaan Sumatera Barat
Pendahuluan:
Bencana yang Dipanen dari Ulah Tangan Manusia
Bencana hebat yang menghantam kawasan Salareh Air, Palembayaan, Kabupaten Agam dan Sawit bukanlah kejadian tiba-tiba tanpa sebab. Ketika lereng dan bukit yang selama ratusan tahun menjadi benteng alam digantikan oleh perkebunan sawit di empat jorong sekaligus, keseimbangan ekologis pun runtuh.
Kini, banjir bandang—galodo—menghondoh pemukiman, menyapu rumah, hewan ternak, dan fasilitas publik. Data sementara menunjukkan lebih dari 300 kepala keluarga terdampak langsung. Angka ini sangat mungkin bertambah karena pencarian korban masih berlangsung.
Ini bukan sekadar bencana alam. Ini adalah bencana ekologis—akibat dari perubahan bentang alam yang terlalu cepat dan tidak terkendali.
Kerusakan yang Nyata: Fasad yang Menganga
Allah telah memberi peringatan dalam Al-Qur’an:
> “Zaharal fasādu fil barri wal baḥri bimā kasabat aidin-nās…”
(QS. Ar-Rum: 41)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia…”
Ayat ini menjadi sangat relevan ketika kita melihat apa yang terjadi di Palembayaan:
Hilangnya hutan primer di lereng-lereng curam.
Penggantian tutupan hijau dengan monokultur sawit yang akarnya tidak mampu mengikat tanah secara kuat.
Pengerukan bukit dan pengubahan pola aliran air, membuat air hujan tidak lagi diserap lereng, tetapi jatuh deras langsung menuju lembah.
Sedimentasi besar-besaran, memperpendek waktu respon banjir.
Hilangan zona lindung dan buffer alami yang harusnya menjadi tameng bencana.
Proses geologis ini menciptakan kondisi rawan mass wasting (longsor), debris flow, dan galodo besar—sebuah kombinasi mematikan yang menyapu apapun di depannya.
Sawit:
Kemakmuran Semu, Risiko Nyata
Keputusan mengganti hutan dengan sawit sering kali dibingkai sebagai peningkatan ekonomi masyarakat. Namun, sawit di lereng curam adalah bom waktu ekologis.
Mengapa?
1.Akar sawit tidak membentuk jaring pengikat tanah seperti akar pohon hutan. Lereng menjadi longgar.
2.Kanopi sawit tidak menahan curah hujan ekstrem, menyebabkan air jatuh langsung ke permukaan dan mempercepat aliran.
3.Sistem monokultur memperlemah ekosistem, membuat tanah tidak mampu menahan volume air ekstrem.
4.Perubahan hidrologi: debit puncak aliran meningkat drastis setelah hutan diganti sawit.
Di empat jorong dalam satu nagari, kerusakan itu bekerja secara terakumulasi. Dampaknya pun berlipat: banjir lebih cepat, lebih besar, lebih menghancurkan.
Dimensi Sosial:
Warga Menanggung Harga dari Kebijakan yang Lalai
Kapasitas mitigasi masyarakat desa tentu terbatas. Mereka berada di hilir dari keputusan struktural yang sering tidak melibatkan mereka. Yang menjadi korban:
Rumah dan ladang yang lenyap
Anak-anak dan lansia kehilangan tempat tinggal
Ribuan hektare sawah tertimbun lumpur
Infrastruktur desa rusak berat
Trauma psikologis
Warga tidak pernah meminta bencana. Namun mereka memikul beban dari kegagalan:
perencanaan tata ruang,
pengawasan izin,
eksploitasi alam tanpa kendali, lemahnya penegakan aturan ekologis,
dan abai terhadap daya dukung lingkungan.
Dimensi Teologis:
Ketika Amanah Memelihara Alam Dikhianati
Islam memandang manusia sebagai khalifah yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Ketika amanah ini diabaikan, alam memberikan “peringatan keras”.
Para ulama klasik menegaskan bahwa fasad dalam ayat di atas bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga kerusakan moral—tamak, rakus, dan mengabaikan etika ekologis.
Dengan kata lain, bencana adalah:
1.Peringatan (tadzkirah) agar manusia kembali menjaga amanah.
2.Konsekuensi natural dari pelanggaran hukum-hukum ekologis Allah.
3.Ajakan untuk memperbaiki diri dan tata kelola lingkungan.
Agenda Pemulihan: Membangun Kembali dengan Prinsip Ekologi
Rekonstruksi pascabencana tidak cukup dengan membangun rumah kembali. Harus ada perubahan paradigma:
1.Reforestasi Lereng (Revegetasi Permanen)
Hutan harus kembali sebagai benteng alam, bukan sawit di zona merah.
2.Audit Izin dan Tata Ruang
Evaluasi semua izin sawit di lereng curam.
Tegakkan sanksi bagi pihak yang melanggar.
3.Teknologi Rekayasa Lereng
Sabuk hijau
Bronjong dan check dam
Terasering alami
Drainase pengendali
4.Zona Rawan 3 Harus Kosong
Rumah-rumah di zona paling rawan harus direlokasi dengan pendekatan humanis.
5.Edukasi Mitigasi Berbasis Surau
Surau dapat menjadi pusat edukasi bencana berbasis adat dan syarak.
Penutup:
Bangsa akan Selamat Jika Ramah pada Alam
Bencana Palembayaan adalah cermin bahwa kita berada pada titik kritis hubungan manusia–alam. Kerusakan yang dihasilkan sawit di lereng curam bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi persoalan akhlak ekologis.
Jika alam dirusak, maka alam akan “menuntut kembali”.
Jika keseimbangan hilang, maka fasad akan muncul.
Semoga musibah ini menjadi pelajaran bersama untuk membangun nagari yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih ramah pada ciptaan Allah.
Semoga Allah memberi kesabaran kepada korban dan memberikan hikmah untuk pemerintah serta masyarakat dalam memperbaiki kebijakan, perilaku, dan tata kelola lingkungan. Ds.29112025.






