BILA ISLAM TIDAK MENYAPA DIRI?
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol
Kajian Subuh Mubarakah Masjid Raya SAA, Ahad, 26 Oktober 2025
Agama yang Kehilangan Cahaya
Kita hidup di zaman yang disebut “modern”, tapi sesungguhnya gelap dalam makna. Teknologi melesat, ilmu pengetahuan menembus batas, namun hati manusia justru semakin kosong. Dalam pusaran itulah muncul perasaan getir:
> “Sepertinya tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari agama.”
Ungkapan ini bukan sekadar keputusasaan, melainkan jeritan spiritual dari jiwa yang haus makna. Agama seakan gagal menjawab derita sosial, kekerasan atas nama Tuhan, korupsi berjubah kesalehan, atau retorika moral tanpa teladan. Tapi benarkah agama yang gagal — atau manusianya yang salah memahami agama?
1.Agama Itu Jalan, Bukan Jubah
Al-Qur’an mengingatkan dengan tajam:
> “Apakah kamu menyuruh manusia berbuat baik, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?”
(QS. Al-Baqarah: 44)
Ayat ini menunjukkan akar krisis: agama dijadikan alat perintah, bukan jalan penyembuhan diri.
Ritual menjadi formalitas, bukan transformasi. Dakwah menjadi seruan, bukan keteladanan. Akibatnya, agama kehilangan ruh al-din — jiwa spiritual yang menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan.
Rasulullah ﷺ datang bukan untuk menambah simbol, tetapi untuk menyempurnakan moral:
> “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Malik, Ahmad)
Maka ketika akhlak hilang, agama pun kehilangan harapan. Sebab agama tanpa akhlak hanyalah slogan kosong.
2.Krisis Ruhani Manusia Modern: Pandai Berpikir, Tapi Gagal Merasa
Dari perspektif psikologi agama, manusia modern sedang mengalami split personality — kepribadian terbelah antara iman dan realitas.
Di masjid, ia saleh.
Di kantor, ia licik.
Di media sosial, ia beringas.
Viktor Frankl menyebut fenomena ini sebagai existential vacuum — kekosongan eksistensial.
Manusia kehilangan arah hidup karena makna spiritual tercerabut oleh kesibukan material.
Dalam pandangan Islam, ini disebut qalbun maridh — hati yang sakit.
> “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambahkan penyakitnya.”
(QS. Al-Baqarah: 10)
Hati yang sakit membuat manusia kehilangan empati, kejujuran, dan rasa takut kepada Allah, meski hafal ayat dan rajin beribadah. Ia hidup dalam agama yang tampak, tapi tidak menghidupkan.
3.Agama yang Tidak Menyapa Diri
Dari sudut filsafat eksistensial, agama bukan sekadar sistem kepercayaan, tapi ruang perjumpaan antara manusia dengan keberadaannya yang terdalam.
Krisis agama muncul ketika manusia berhenti mengalami Tuhan — hanya mengenalnya lewat doktrin, bukan perjumpaan batin.
Kata din (agama) dalam bahasa Arab bermakna jalan hidup yang mengikat secara sadar. Tapi modernitas menjadikan agama sebagai atribut sosial — bukan kesadaran eksistensial.
Manusia menjadi makhluk yang sibuk mencari Tuhan di luar, tapi kehilangan-Nya di dalam hati.
Sebagaimana ungkapan Jalaluddin Rumi:
> “Engkau mencari Tuhan di masjid, gereja, dan kuil. Padahal Dia ada di hatimu yang terluka.”
4.Ketika Agama Kehilangan Harapan
Mengapa banyak orang merasa agama tak bisa lagi diharapkan?
1.Agama diseret ke panggung politik, bukan ke ruang batin.
Ajarannya menjadi alat legitimasi kekuasaan, bukan pencerahan nurani.
2.Lembaga keagamaan kehilangan keteladanan moral.
Banyak yang mengajar tentang surga, tapi lupa menunjukkan kasih sayang di bumi.
3.Keterputusan antara simbol dan substansi.
Manusia sibuk berdebat halal-haram, tapi abai terhadap hakikat kasih, keadilan, dan amanah.
Kekecewaan ini nyata, tapi ia seharusnya mengantar manusia kepada pencarian baru — bukan penolakan total.
Karena agama sejatinya tidak mati; yang mati adalah cara kita menghidupinya.
5.Jalan Pulang ke Tuhan: Rekonstruksi Ruhani di Era Modern
Untuk mengembalikan harapan kepada agama, perlu dilakukan revitalisasi ruhani — membangkitkan kembali fungsi agama sebagai cahaya batin dan etika sosial.
a. Kembali kepada Tauhid yang Eksistensial
Tauhid bukan sekadar kalimat, tetapi kesadaran bahwa seluruh hidup terikat dengan kehadiran Allah.
> “Kemanapun engkau menghadap, di sanalah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 115)
Tauhid menumbuhkan keberanian moral, sebab ia membuat manusia hanya takut pada kebenaran, bukan pada kekuasaan.
b. Menjadikan Agama Sebagai Jalan Cinta dan Kasih
Rasulullah ﷺ disebut rahmatan lil ‘alamin — rahmat bagi semesta.
Artinya, agama yang benar bukan yang menakuti, tapi yang menumbuhkan kasih dan harapan.
c. Merevitalisasi Surau, Masjid, dan Komunitas Spiritual
Tempat ibadah harus menjadi pusat penyembuhan sosial — tempat orang menemukan kedamaian, bukan sekadar peraturan.
Gerakan spiritual humanism perlu tumbuh: menggabungkan zikir dengan aksi sosial, ilmu dengan empati.
d. Membangun Spiritualitas Ilmiah.
Ilmu dan iman harus bersatu. Sains tanpa etika melahirkan kerusakan, sementara iman tanpa ilmu melahirkan fanatisme.
Agama harus menjadi inspirasi kemajuan, bukan penghalang peradaban.
6.Harapan itu Masih Ada.
Agama memang tampak tak bisa diharapkan — bila kita hanya melihat perilaku umatnya.
Namun bila kita kembali kepada sumbernya — wahyu, cinta, dan akhlak — maka agama justru menjadi obat bagi dunia yang terluka.
> “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menegaskan: perubahan tidak datang dari luar, tetapi dari kesadaran dalam diri.Maka, agama tidak gagal — manusialah yang harus belajar kembali untuk berharap kepada Tuhan, bukan kepada institusi keagamaan.
Penutup
Modernitas telah membuat manusia mampu menaklukkan langit, tapi tidak mampu menenangkan hatinya sendiri.
Harapan dari agama hanya akan hidup bila ia dikembalikan kepada fungsinya: menuntun manusia pulang — dari kesombongan akal kepada kerendahan hati di hadapan Tuhan.ds.24102025.







