BISMILLĀHI MAJRĒHĀ WA MURSĀHĀ (09)

BISMILLĀHI MAJRĒHĀ WA MURSĀHĀ (09)

Dari Boarding Pass Menuju Tanah Para Nabi

Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Segala puji hanya milik Allah SWT. Setiap perjalanan menuju jalan-Nya selalu dimulai dengan nama-Nya, diiringi tawakal kepada-Nya, dan diakhiri dengan harapan memperoleh rida-Nya.

Penantian panjang sejak pukul 09.00 WIB akhirnya berakhir. Setelah menunggu hingga sekitar 15.30 WIB, rombongan Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H/2026 M mulai memasuki antrean konter Saudia Airlines di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta untuk keberangkatan menuju Madinah al-Munawwarah, kota yang dimuliakan Allah SWT dan menjadi tempat peristirahatan manusia termulia, Nabi Muhammad SAW.

Ketika melangkah meninggalkan rumah, keluarga, dan tanah air, hati terlebih dahulu memanjatkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW:

«اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ»

“Ya Allah, Engkaulah Sahabat dalam perjalanan ini dan Engkaulah Penjaga keluarga yang kami tinggalkan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya perjalanan, dari pemandangan yang menyedihkan, serta dari kepulangan yang buruk terhadap harta dan keluarga.” (HR. Muslim)

Doa ini menghadirkan ketenangan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Seorang musafir menuju Baitullah sesungguhnya tidak pernah berjalan sendirian. Allah SWT menjadi sahabat terbaik sepanjang perjalanan, sekaligus penjaga bagi keluarga, rumah, dan seluruh amanah yang ditinggalkan.

Di tengah hiruk-pikuk bandara, hati ini kemudian berbisik dengan doa Nabi Nuh AS:

«بِسْمِ اللَّهِ مَجْرٰىهَا وَمُرْسٰىهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ»

“Dengan nama Allah kapal ini berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Hūd: 41)

Walaupun ayat ini turun dalam konteks bahtera Nabi Nuh AS, para ulama menjadikannya sebagai doa yang dianjurkan ketika memulai perjalanan, baik di laut, di darat, maupun di udara. Semua kendaraan hanyalah sarana, sedangkan yang menggerakkan dan menyelamatkan perjalanan adalah Allah SWT.

Kemudian doa safar pun mengalir dari bibir:

«بِسْمِ اللَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ»

“Dengan nama Allah. Segala puji bagi Allah. Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami kami akan kembali.” (QS. Az-Zukhruf: 13–14)

Saat doa-doa itu dipanjatkan, suasana bandara yang ramai seakan berubah menjadi ruang munajat. Antrean panjang, pemeriksaan dokumen, dan penantian berjam-jam tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi bagian dari proses menuju panggilan Allah.

Bayangan bahwa beberapa jam lagi kaki ini akan menapaki Kota Nabi membuat seluruh rasa letih menghilang. Hati membayangkan saat pertama memasuki Masjid Nabawi, bersujud di dalamnya, memperbanyak salawat, serta berdiri dengan penuh adab di hadapan makam Rasulullah SAW.

Benarlah, apabila hati dipenuhi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, perjalanan yang berat berubah menjadi ringan, bahkan terasa sebagai kenikmatan.

Yang ada hanyalah kerinduan untuk segera menyampaikan salam:

«السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيبَ اللَّهِ»

“Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Rasulullah. Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Nabi Allah. Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Kekasih Allah.”

Pada saat itu terasa semakin jelas bahwa umrah bukan sekadar perjalanan geografis dari Jakarta menuju Madinah. Umrah adalah perjalanan ruhani dari hati yang dipenuhi dosa menuju hati yang berharap ampunan; dari jiwa yang sibuk oleh dunia menuju jiwa yang rindu kepada Allah; dari kehidupan yang dipenuhi urusan manusia menuju kehidupan yang ingin lebih dekat kepada Sang Pencipta.

Di ruang tunggu bandara tampak jamaah dari berbagai bangsa dengan pakaian dan bahasa yang berbeda. Ada yang mengenakan pakaian nasional, ada yang berseragam rombongan, dan ada pula yang berpakaian sederhana tanpa penanda apa pun. Semua perbedaan itu menjadi pelajaran bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur oleh warna kulit, kebangsaan, jabatan, ataupun pakaian, melainkan oleh ketakwaan.

Boarding Pass Kehidupan

Boarding pass yang kami genggam hanyalah selembar kertas. Di dalamnya tertulis nama penumpang, nomor penerbangan SV821, rute Jakarta (CGK)–Madinah (MED), tanggal keberangkatan 8 Juli 2026, Gate 2C, Terminal 3, kursi 37H, Zona Boarding 4, dan kelas Economy (Y). Bahkan pada boarding pass itu tercantum layanan HAJJ, menandakan bahwa penerbangan ini memang dipersiapkan untuk melayani jamaah haji dan umrah menuju Tanah Suci.

Namun sesungguhnya, informasi terpenting tidak pernah tertulis pada boarding pass itu. Tidak ada kolom tentang keikhlasan, ketakwaan, kesabaran, kejujuran, akhlak, maupun kekhusyukan. Padahal, itulah boarding pass yang sesungguhnya menentukan nilai perjalanan seorang hamba di hadapan Allah SWT.

Boarding pass hanya mengizinkan seseorang memasuki pesawat. Akan tetapi, takwa adalah izin untuk memperoleh kemabruran dan memasuki rahmat Allah. Keikhlasan adalah tiket menuju rida-Nya. Akhlak yang mulia adalah bekal terbaik yang dibawa pulang dari Tanah Suci.

Boarding Pass Menuju Surga

Di ruang keberangkatan, setiap penumpang wajib menunjukkan boarding pass agar diizinkan memasuki pesawat. Tanpa boarding pass, seseorang tidak akan dapat melanjutkan perjalanan, meskipun ia telah berada di bandara, membawa koper, dan memiliki paspor.

Demikian pula perjalanan menuju akhirat. Allah SWT tidak menilai seseorang dari pakaian ihram yang dikenakan, banyaknya foto di Tanah Suci, panjangnya perjalanan, atau banyaknya gelar yang disandang. Yang menjadi penentu adalah iman, takwa, keikhlasan, dan amal saleh.

Boarding pass dunia hanya berlaku beberapa jam, kemudian menjadi selembar kertas yang tidak lagi bernilai. Akan tetapi, boarding pass menuju surga berlaku sepanjang kehidupan. Tiket itu ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan kejujuran, kesabaran, keikhlasan, kasih sayang, dan ketakwaan yang terukir dalam setiap amal.

Maka, ketika boarding pass Saudia Airlines berada di tangan, hati ini bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku juga sedang mempersiapkan boarding pass untuk bertemu Allah?”

Perjalanan menuju Madinah hanya berlangsung beberapa jam, tetapi perjalanan menuju Allah berlangsung sepanjang usia. Pesawat akan mendarat di Bandara Pangeran Muhammad bin Abdulaziz, sedangkan kehidupan akan berakhir di sebuah liang lahat sebelum setiap manusia dipanggil menghadap Rabb semesta alam.

Karena itu, umrah sejatinya bukanlah akhir sebuah perjalanan, melainkan awal dari perubahan diri. Kemabruran tidak diukur dari berapa kali seseorang mengunjungi Baitullah, tetapi dari seberapa besar perubahan akhlak, ibadah, kejujuran, kepedulian sosial, dan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya setelah kembali ke tanah air.

Semoga boarding pass yang kami genggam mengantarkan kami menuju Tanah Para Nabi. Dan semoga boarding pass takwa yang kami persiapkan sepanjang hayat mengantarkan kami memasuki surga-Nya, sebagaimana firman Allah SWT:

«وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ»

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya dan pintu-pintunya telah dibukakan, para penjaganya berkata, ‘Salam sejahtera atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masuklah ke dalamnya untuk tinggal selama-lamanya.’ (QS. Az-Zumar: 73)

Semoga setiap langkah menuju Baitullah menjadi langkah menuju rida Allah, setiap doa menjadi sebab turunnya rahmat-Nya, dan setiap perjalanan di dunia berakhir dengan perjalanan yang paling indah, yaitu kembali kepada-Nya dalam keadaan nafs al-muṭma’innah.

«يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ۝ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝ وَادْخُلِي جَنَّتِي»

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30)

Labbaik Allāhumma Labbaik. Labbayka lā syarīka laka labbaik. Innal-ḥamda wan-ni‘mata laka wal-mulk. Lā syarīka lak.

Madinah al-Munawwarah, 9 Juli 2026