BUKAN TOUR LEADER UMRAH, MESTINYA BUYA LEADER UMRAH

BUKAN TOUR LEADER UMRAH, MESTINYA BUYA LEADER UMRAH

Oleh: Duski Samad
STP#series88.14042026

Diskusi pagi ini, Selasa, 14 April 2026, disebuah warung sarapan pagi terasa biasa, tetapi substansinya tidak sederhana. Bersama seorang owner travel haji dan umrah dari Solok, serta beberapa sahabat yang telah berulang kali menunaikan umrah—baik sebagai pembimbing maupun sebagai jamaah—terbuka satu kenyataan yang selama ini sering disembunyikan oleh gemerlap promosi: bahwa umrah hari ini berada di antara dua tarikan besar, ibadah dan industri.

Di satu sisi, umrah adalah panggilan ruhani. Di sisi lain, ia telah menjadi ekosistem bisnis dengan perputaran dana miliaran rupiah. Owner travel menjelaskan, untuk memulai usaha ini saja dibutuhkan investasi lebih dari satu miliar rupiah—terutama untuk deposit tiket dan kontrak hotel. Dua titik ini sekaligus menjadi wilayah paling rawan. Tidak sedikit travel yang jatuh karena spekulasi harga dan pengelolaan dana jamaah yang tidak sehat. Dan ketika sistem runtuh, yang paling menderita adalah jamaah—mereka yang datang dengan niat ibadah, tetapi terjebak dalam kegagalan manajemen.

Padahal sejak awal, Al-Qur’an telah menegaskan orientasi dasar ibadah ini:
“Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah…” (QS. Al-Baqarah: 196).

Ayat ini bukan hanya perintah, tetapi arah. Umrah harus dilaksanakan karena Allah, bukan semata karena peluang ekonomi. Di titik ini, kita mulai melihat bahwa persoalan umrah hari ini bukan sekadar lemahnya sistem, tetapi bergesernya orientasi.

Ketika umrah diperlakukan seperti paket wisata biasa, maka ruh ibadah perlahan memudar. City tour menjadi sekadar kunjungan, bukan refleksi. Belanja menjadi lebih dominan daripada dzikir. Bahkan pembimbing perjalanan pun seringkali terjebak dalam peran administratif yang kering dari nilai spiritual.

Karena itu, salah satu gagasan penting yang muncul dalam diskusi ini adalah perlunya redefinisi peran pendamping jamaah. Istilah “tour leader” terasa terlalu sempit—ia hanya mengurus perjalanan, bukan memimpin ibadah. Padahal jamaah membutuhkan lebih dari sekadar pemandu teknis; mereka membutuhkan figur pembimbing ruhani.

Di sinilah muncul istilah yang lebih tepat: Buya Leader Umrah.

“Buya” bukan sekadar panggilan, tetapi simbol otoritas moral dan kedalaman ilmu. Seorang Buya Leader bukan hanya memastikan jadwal berjalan lancar, tetapi juga memimpin shalat, membimbing doa, menguatkan niat, dan menjaga adab jamaah selama di tanah suci. Ia hadir sebagai murabbi—pendidik jiwa—dalam perjalanan ibadah.

Jika peran ini dihadirkan secara serius, maka seluruh struktur perjalanan akan berubah. Itinerary tidak lagi hanya berisi jadwal teknis, tetapi juga ruang-ruang pembinaan: ceramah di Haramain, refleksi di tempat bersejarah, bimbingan adab berbelanja, hingga penguatan makna setiap ritual. Umrah tidak lagi sekadar perjalanan fisik, tetapi menjadi madrasah ruhani yang bergerak.

Dalam kerangka itu, city tour pun perlu direposisi. Pelaksanaannya setelah Zhuhur bukan hanya soal waktu, tetapi strategi edukatif—agar jamaah merasakan resonansi antara umrah dan haji, antara sejarah dan praktik ibadah. Setiap langkah menjadi pelajaran, setiap tempat menjadi pengingat.

Untuk mengikat semua itu, diperlukan satu kesadaran bersama bahwa:
“Umrah: Ibadah yang Menguatkan, Ziarah yang Mencerahkan.”

Ia adalah ibadah yang meneguhkan hubungan dengan Allah, sekaligus ziarah yang memperluas kesadaran sejarah dan spiritual umat.

Namun satu hal yang sering dihindari untuk dibicarakan secara terbuka adalah soal ujrah, fee, dan honor. Dalam praktiknya, ustaz pencari jamaah dan pembimbing perjalanan sering ditempatkan dalam posisi yang tidak jelas—antara dakwah dan komersial. Padahal jika dikelola secara profesional dan transparan, justru di sinilah letak kekuatan sistem.

Ustaz pencari jamaah bekerja dengan etika dakwah, bukan sekadar menjual paket. Buya Leader mendapatkan penghargaan yang layak atas peran spiritualnya. Dan jamaah merasa aman karena dibimbing oleh figur yang kredibel. Dalam kondisi seperti ini, nilai ibadah meningkat, dan secara bersamaan kepercayaan jamaah pun tumbuh. Dan dalam dunia travel, kepercayaan adalah modal yang jauh lebih mahal daripada promosi.

Rasulullah SAW telah memberikan dimensi spiritual dari perjalanan ini melalui sabdanya:
“Dari satu umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa umrah bukan sekadar ritual sesaat, tetapi proses penyucian diri yang berkelanjutan. Namun tentu saja, nilai ini hanya akan hadir jika umrah dilaksanakan dengan benar—ikhlas, tertib, dan dibimbing dengan baik.

Pada akhirnya, seluruh sistem ini bertumpu pada satu hal: sinergi. Owner travel, pencari jamaah, dan Buya Leader tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Jika ketiganya terpisah, yang muncul adalah konflik kepentingan. Tetapi jika disatukan dalam visi yang sama, maka akan lahir keseimbangan: sistem yang kuat, dakwah yang hidup, dan ibadah yang berkualitas.

Owner menjaga keberlanjutan usaha. Pencari jamaah membangun jaringan dengan kejujuran. Buya Leader menjaga kualitas ruhani jamaah. Ketika tiga unsur ini bertemu dalam satu niat yang sama—lillāh—maka hasilnya bukan hanya umrah yang maqbul, tetapi juga usaha yang sehat dan berkelanjutan.

Di titik inilah kita memahami, bahwa persoalan umrah hari ini bukan sekadar soal manajemen perjalanan, tetapi soal kepemimpinan spiritual dalam ekosistem bisnis.

Maka benar adanya:
yang dibutuhkan bukan lagi sekadar tour leader,
tetapi Buya Leader Umrah
yang tidak hanya memimpin perjalanan,
tetapi mengantarkan hati menuju Allah.DS