Dampak Trauma Masa Kecil terhadap Kepribadian
Siti Rahma Nuraeni
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Falah
Trauma adalah kondisi yang timbul sebagai akibat dari pengalaman atau peristiwa buruk yang dialami oleh seseorang entah itu sudah dewasa ataupun masih masa kanak kanak (childhood trauma). Bagi anak, dunia seharusnya menjadi tempat yang aman untuk tumbuh dan belajar. Namun ketika rasa aman itu direnggut, anak belajar melihat dunia sebagai tempat yang tidak bisa dipercaya. Tidak semua luka terlihat oleh mata. Ada luka yang tertanam dalam, membekas di hati, dan terus mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku hingga dewasa. Luka tersebut yaitu trauma masa kecil, pengalaman emosional atau fisik yang menyakitkan di masa kanak-kanak yang meninggalkan jejak mendalam dalam kepribadian seseorang. Menurut Sigmund Freud, masa kanak-kanak adalah masa pembentukan struktur kepribadian – id, ego, dan superego. Konflik atau pengalaman negatif yang terjadi di masa ini dapat mempengaruhi cara seseorang berpikir dan merespons dunia di masa depan. Artikel ini akan mengupas tentang bagaimana pengalaman traumatis mempengaruhi kepribadian seseorang hingga dewasa serta cara mengatasinya.
Apa Saja Dampak Terhadap Kepribadian?
Dampak dari trauma masa kecil terhadap kepribadian sangatlah banyak dan beragam, dan itu akan membentuk kepribadiannya saat ini karena menurut psikologi kepribadian seseorang terbentuk dari interaksi antara faktor biologis dan pengalaman hidup. Trauma masa kecil adalah salah satu pengalaman yang paling kuat membentuk pola pikir dan perilaku seseorang.
Berikut beberapa dampak trauma terhadap pembentukan kepribadian :
Kesulitan mempercayai orang lain (trust issues),seorang anak mengalami pengalaman di masa kecil seperti dikhianati dan disakiti oleh orang yang seharusnya melindunginya, saat dewasa ia mempunyai rasa waspada berlebihan dan takut dekat dengan orang lain.
- Harga diri rendah (insecure), seorang anak yang selalu dibanding banding kan dan diremehkan selagi kecil, ia akan berpikir dan menganggap dirinya tidak berharga dan ini akan membawa pola pikirnya sampai dewasa.
- Masalah Regulasi Emosi, seorang anak yang tidak diajarkan untuk mengontrol emosi dan hidup dengan penuh kekerasan, ketika dewasa cenderung ia akan mudah marah, sensitif dan tidak tau caranya meredam rasa emosi.
- kecenderungan perfeksionis, seorang akan menerapkan ini sebagai bentuk pertahanan diri, ia belajar bahwa satu satunya yang akan diterima adalah menjadi sempurna dan ingin terlihat sempurna.
Mengapa Trauma Masa Kecil Sulit Dilupakan?
Trauma masa kecil sering kali muncul ketika merasa pengalaman yang menimbulkan rasa takut, tidak aman, atau tidak berdaya. Trauma masa kecil juga bukan sekadar kenangan buruk saja, melainkan rekaman biologis dalam otak. Saat anak mengalami stres berat atau ketakutan ekstrim, otaknya memproduksi hormon stres (kortisol dan adrenalin) secara berlebihan. Jika terjadi terus-menerus, bagian otak yang mengatur emosi seperti amigdala menjadi terlalu aktif, sementara bagian yang mengatur logika dan kontrol diri seperti prefrontal cortex menjadi lemah. Akibatnya, walaupun sudah lama tapi tubuh anak tersebut akan bereaksi seolah ancaman itu masih ada, hal ini lah yang membuat anak tersebut menangis, cemas tanpa alasan yang jelas ketika menghadapi situasi yang memicu ingatan lama nya.
Trauma masa kecil juga tidak hanya faktor biologis saja, ada juga faktor budaya yang selalu mengajarkan kita untuk selalu kuat, menyembunyikan marah, rasa takut, serta melakukan kekerasan (dimarahi dan dipukul) dengan alasan agar anak bisa terdidik dan lebih mengerti, tapi ini justru membuat anak tersebut hidup dalam penekanan dan menyebabkan trauma yang sulit untuk dihilangkan.
Proses Pemulihan dan Cara Mengatasi Trauma Masa Kecil
Trauma memang sulit untuk dilupakan, tapi tidak berarti trauma tersebut tidak bisa diatasi/diobati hanya saja perlu proses dan langkah dalam mengatasi trauma tersebut, diantaranya:
- Mengakui dan Menyadari Adanya Trauma
Kadang seseorang sering kali tidak menyadari atau enggan untuk mengakui memiliki trauma hanya karena rasa malu, takut, dan ingin terlihat kuat, namun tanpa adanya pengakuan luka batin akan tetap muncul dalam bentuk emosi dan cemas yang berlebih, takut mengenal orang, bahkan enggan untuk bersosialisasi dengan lingkungan, mengakui bukan berarti lemah. Justru sebaliknya, itu adalah tanda keberanian dan awal menuju penyembuhan.
- Mengungkapkan Perasaan Dengan Rasa Aman
Ketika seseorang seringkali memendam perasaannya dalam waktu yang lama itu bisa mengakibatkan ledakan emosi, tidur terganggu bahkan bisa saja depresi. Maka, mengungkapkan perasaan dengan rasa aman berarti belajar jujur terhadap emosi diri sendiri dan dapat mengungkapkan atau menyalurkannya tanpa ada yang tersakiti entah itu diri sendiri atau orang lain, atau bisa saja melalui media tulis (menulis buku diary) , bercerita kepada orang yang dipercaya (konselor/psikolog), atau menyebarkan lewat seni (melukis). Dengan begitu otak akan mulai memproses ulang pengalaman traumatis dan secara perlahan menurunkan intensitas rasa sakit yang dulu dirasakan.
- Membangun Lingkungan Suportif
Dukungan sosial memiliki peran penting dalam pemulihan trauma, dukungan dari orang sekitar seorang yang memiliki trauma akan merasa tidak sendirian, lebih berani menghadapi masa lalu dan memiliki motivasi untuk sembuh. Dengan lingkungan yang suportif, penyembuhan menjadi lebih cepat dan efektif karena manusia adalah makhluk sosial yang butuh rasa aman dan diterima.
- Mencari Bantuan Profesional (Terapi Psikologis)
Orang yang mengalami trauma masa kecil sering kali membawa luka itu hingga dewasa, misalnya selalu merasa bersalah, takut ditolak, atau sulit percaya orang lain. terapi membantu mereka memahami akar penyebabnya, bukan hanya gejalanya.
Bentuk-bentuk terapi yang umum digunakan:
- CBT (Cognitive Behavioral Therapy)
Membantu mengubah pola pikir negatif akibat trauma menjadi pola pikir yang lebih realistis dan sehat.
Misalnya: dari “Aku tidak berharga” menjadi “Aku berharga dan layak dicintai.”
- EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing)
Terapi khusus yang membantu otak memproses ulang kenangan traumatis agar tidak lagi terasa menakutkan.
- Inner Child Healing
Membantu seseorang berdialog dan memeluk sisi “anak kecil di dalam diri” yang dulu terluka, sehingga bisa berdamai dengan masa lalu.
Manfaat terapi psikologis:
- Mengurangi kecemasan dan depresi,
- Membantu memahami diri dengan lebih baik,
- Meningkatkan rasa percaya diri,
- Dan membentuk kepribadian yang lebih stabil serta dewasa secara emosional
- Pendekatan Spiritual Dalam Psikologi Islam
Penyembuhan trauma tidak hanya dilakukan oleh terapi psikologis tapi bisa juga dengan pendekatan spiritual, yaitu menguatkan hubungan seseorang dengan Tuhan. Dalam konteks psikologi islam pendekatan spiritual membantu seseorang menyembuhkan hati dari dalam, bukan hanya pikiran. Dengan beriman dan berserah diri kepada Tuhan, seseorang belajar menerima masa lalu, menemukan makna dalam penderitaan, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat secara mental dan spiritual. Adapun praktik pendekatan spiritual diantaranya berdzikir dan doa untuk menenangkan hati, tawakal dan sabar sebagai bentuk penerimaan terhadap masa lalu. istighfar dan memaafkan diri sendiri agar hati lebih ringan. membaca Al-Qur’an dan merenungi maknanya untuk mendapatkan ketenangan..
- Membangun Diri Baru (Self-Rebuilding)
Setelah seseorang mulai pulih dari trauma, langkah selanjutnya adalah membangun kembali kepribadian yang lebih sehat dan tangguh dengan menata ulang cara berpikir, merasa, dan berperilaku agar tidak lagi dikuasai oleh luka masa lalu. Ini bukan berarti melupakan masa lalu, tapi belajar dari pengalaman itu untuk membentuk diri yang lebih matang. Dengan cara seperti melatih self-love dan menghargai diri sendiri, menerapkan pola hidup sehat (tidur, olahraga, makan baik), memperluas relasi positif, menetapkan tujuan hidup baru yang realistis, menghindari lingkungan atau orang yang bisa memicu trauma lama.
Trauma masa kecil merupakan luka emosional atau fisik yang tertanam dalam dan berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian seseorang di masa dewasa. Pengalaman buruk di masa kanak-kanak seperti kekerasan, penelantaran, penghinaan, atau kehilangan rasa aman dapat menimbulkan dampak jangka panjang, seperti sulit mempercayai orang lain, rendah diri, sulit mengatur emosi, hingga menjadi perfeksionis sebagai bentuk pertahanan diri.
Trauma sulit dilupakan karena tidak hanya tersimpan sebagai kenangan, tetapi juga terekam secara biologis dalam otak dan diperkuat oleh faktor budaya yang sering menekan ekspresi emosi serta menganggap kekerasan sebagai bentuk pendidikan. Akibatnya, luka batin tetap hidup dan mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku.
Proses pemulihan trauma membutuhkan waktu dan kesadaran diri. Langkah-langkah penting dalam penyembuhan meliputi mengakui adanya trauma, mengungkapkan perasaan dengan aman, membangun lingkungan yang suportif, serta mencari bantuan profesional seperti terapi psikologis (CBT, EMDR, dan inner child healing). Selain itu, pendekatan spiritual dalam psikologi Islam membantu menenangkan hati dan memperkuat iman agar seseorang dapat menerima masa lalunya dengan lapang.
Pada akhirnya, penyembuhan bukan berarti melupakan masa lalu, melainkan berdamai dengannya dan membangun diri baru yang lebih sehat, berdaya, dan penuh kasih terhadap diri sendiri. Melalui proses ini, seseorang dapat tumbuh menjadi pribadi yang matang secara emosional dan spiritual, menjadikan luka masa kecil sebagai pelajaran untuk hidup yang lebih kuat dan bermakna.
