DARI KITAB KE KESADARAN ROHANI:
(Internalisasi, Transinternalisasi, dan Transendensi Nilai Akhlak di Pesantre
Oleh: Duski Samad
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
Abstrak
Pendidikan akhlak di pesantren sering dinilai dari penguasaan kitab, kepatuhan pada tata tertib, dan kesantunan santri. Ketiganya penting, tetapi belum sepenuhnya menunjukkan bahwa nilai telah menjadi keyakinan pribadi. Artikel ini menguraikan hubungan antara internalisasi, transinternalisasi, dan transendensi dalam pendidikan akhlak. Dengan pendekatan konseptual, gagasan pendidikan Islam dibaca bersama taksonomi afektif Krathwohl, pendidikan karakter Lickona, pembelajaran sosial Bandura, dan perkembangan penalaran moral Kohlberg. Keempatnya digunakan untuk menjelaskan penanaman cinta kepada Allah, Rasulullah, orang tua, dan ilmu. Pengalaman yang disampaikan tentang Pesantren Nurul Yaqin menjadi ilustrasi perilaku akhlak dalam keseharian, sekaligus mengingatkan perlunya membedakan ketaatan yang tampak dari kesadaran batin yang memerlukan pengamatan lebih mendalam.
Kata kunci: akhlak, pesantren, internalisasi nilai, transinternalisasi, transendensi, tasawuf.
Pendahuluan
Santri dapat menghafal uraian tentang kejujuran, tetapi masih berbohong ketika terdesak. Ia dapat mengetahui keutamaan menghormati guru, tetapi berlaku santun hanya ketika guru hadir. Jarak antara pengetahuan dan perilaku inilah yang menjadi persoalan pokok pendidikan akhlak.
Pendidikan akhlak memerlukan proses yang berkesinambungan. Nilai diperkenalkan melalui pembelajaran, dihidupkan melalui pembiasaan dan keteladanan, lalu direnungkan sampai seseorang menyadari alasan terdalam untuk mengamalkannya. Tujuannya bukan semata-mata menghasilkan perilaku yang tertib di lingkungan pesantren, melainkan membentuk pribadi yang menjaga akhlaknya dengan sepenuh hati, setiap hari, termasuk setelah ia meninggalkan pesantren.
Artikel ini menggunakan tiga istilah sebagai kerangka pembacaan: internalisasi, transinternalisasi, dan transendensi. Dalam literatur pendidikan Islam, transinternalisasi lazim dibahas bersama tahap transformasi dan transaksi nilai. Sementara itu, transendensi dalam tulisan ini digunakan untuk menegaskan orientasi ilahiah dari akhlak; ia tidak dimaksudkan sebagai tahap baku tambahan dalam taksonomi psikologi pendidikan (Muhaimin, 2006; Munif, 2017).
Dari Nilai yang Diajarkan ke Nilai yang Dihayati
Internalisasi adalah proses ketika nilai mulai diterima sebagai bagian dari pedoman diri. Santri mempelajari apa itu amanah, mengapa dusta merusak kepercayaan, bagaimana menghormati orang tua, serta mengapa menuntut ilmu merupakan tanggung jawab. Kitab, penjelasan guru, diskusi, dan pengalaman sehari-hari menyediakan bahan bagi proses tersebut.
Taksonomi ranah afektif Krathwohl, Bloom, dan Masia membantu menjelaskan kedalaman penerimaan nilai: seseorang mula-mula memperhatikan suatu nilai, meresponsnya, menghargainya, menempatkannya dalam susunan nilai pribadi, lalu memperlihatkannya secara konsisten dalam perilaku (Krathwohl, Bloom, & Masia, 1964). Artinya, mendengarkan nasihat tentang kejujuran baru merupakan permulaan. Pendidikan perlu bergerak sampai ke titik ketika santri memilih jujur meskipun kejujuran itu mempunyai konsekuensi bagi dirinya.
Transinternalisasi menekankan hubungan yang lebih dalam antara pendidik, peserta didik, dan nilai yang diajarkan. Dalam pembahasan pendidikan Islam, istilah ini digunakan untuk menggambarkan proses yang melampaui penyampaian informasi dan interaksi lahiriah: kepribadian serta keteladanan pendidik ikut berbicara dalam pendidikan nilai (Muhaimin, 2006; Munif, 2017). Guru tidak hanya menerangkan kesabaran, tetapi bersabar ketika membimbing santri yang keliru. Ia tidak hanya meminta santri jujur, tetapi juga bersedia mengakui kekeliruannya sendiri.
Di sini teori pembelajaran sosial Bandura memberi penjelasan: manusia belajar juga dengan mengamati perilaku orang lain dan akibat dari perilaku tersebut (Bandura, 1977). Dalam kehidupan pesantren, teladan guru, pengasuh, dan santri senior dapat memperkuat ataupun melemahkan pesan yang tertulis dalam kitab. Nasihat tentang rendah hati akan lebih dipercaya apabila santri menyaksikan kerendahan hati dalam hubungan sehari-hari.
Transendensi, sebagaimana digunakan dalam artikel ini, adalah kesadaran bahwa akhlak mempunyai arah yang melampaui penilaian manusia: hubungan dengan Allah dan pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Santri menjaga amanah bukan hanya agar dipuji guru; ia melakukannya karena menyadari nilai amanah dalam kehidupan beragama. Ia belajar bukan semata-mata untuk memperoleh nilai ujian, melainkan untuk mencari ilmu yang bermanfaat. Transendensi tidak menghapus kebutuhan akan aturan dan latihan. Ia memberi kedalaman niat pada perilaku yang sudah dipelajari dan dibiasakan.
Ketiga proses itu tidak harus dipahami sebagai urutan yang sekali dilalui lalu selesai. Pengalaman beribadah dapat membangkitkan keinginan belajar; pelajaran baru dapat memperdalam kesadaran rohani; dan muhasabah dapat mendorong perbaikan kebiasaan. Pendidikan akhlak berlangsung sebagai gerak yang berulang antara memahami, mengamalkan, dan memeriksa kembali niat serta tindakan.
Mempertemukan Pengetahuan, Perasaan, Teladan, dan Penalaran
Lickona mengingatkan bahwa karakter melibatkan moral knowing, moral feeling, dan moral action: memahami kebaikan, mempunyai keterikatan batin dengannya, dan mewujudkannya dalam tindakan (Lickona, 1991). Kerangka ini menjelaskan mengapa pembelajaran kitab saja belum memadai. Santri perlu memahami makna hormat, merasakan pentingnya menghargai orang lain, dan memperoleh kesempatan mempraktikkannya ketika berhadapan dengan guru, teman, serta keluarganya.
Penalaran moral juga perlu dibina. Kohlberg menaruh perhatian pada alasan yang digunakan seseorang ketika mengambil keputusan moral (Kohlberg, 1981). Dalam pendidikan akhlak, pertanyaan “Mengapa saya harus berbuat baik?” perlu mendapat tempat. Santri dapat diajak mendiskusikan cara menyampaikan ketidaksetujuan kepada guru dengan hormat, atau cara memegang amanah ketika tindakannya tidak diketahui orang lain. Diskusi semacam ini melatih pertimbangan moral, meskipun kemampuan memberi alasan yang baik tetap harus diuji melalui perilaku.
Dalam tradisi pendidikan Islam, proses tersebut diperkuat melalui uswah atau keteladanan, ta‘wīd atau pembiasaan, maw‘iẓah atau nasihat, dan muhasabah atau pemeriksaan diri. Keempatnya saling membutuhkan. Pembiasaan tanpa pemahaman dapat menjadi tindakan mekanis; pemahaman tanpa latihan mudah berhenti sebagai wacana; sedangkan latihan tanpa muhasabah dapat kehilangan perhatian pada niat.
Empat Cinta sebagai Inti Pendidikan Akhlak
Pertama, mahabbatullah: cinta kepada Allah. Cinta ini ditanamkan dengan mengajak santri mengenali rahmat dan nikmat Allah, memahami makna ibadah, serta membiasakan syukur dalam tindakan. Al-Qur’an menghubungkan kecintaan kepada Allah dengan kesediaan mengikuti tuntunan Rasul (QS. Ali ‘Imran [3]: 31). Karena itu, cinta kepada Allah tidak berhenti sebagai ungkapan lisan. Ia tampak, antara lain, dalam kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan kesungguhan beribadah.
Kedua, mahabbatur Rasul: cinta kepada Nabi Muhammad saw. Kisah hidup dan akhlak Nabi perlu dihubungkan dengan pengalaman santri: bagaimana menepati janji, memperlakukan orang yang lemah, menyikapi perbedaan, dan menjaga ucapan. Al-Qur’an menyebut Rasulullah sebagai teladan yang baik (QS. Al-Ahzab [33]: 21). Cinta kepada beliau memperoleh bentuk yang nyata ketika perilaku santri semakin mendekati akhlak yang dipelajarinya. Keteladanan guru menjadi jembatan penting antara kisah Nabi dan kehidupan santri.
Ketiga, birrul wālidain: berbakti kepada orang tua. Nilai ini ditanamkan dengan membantu santri memahami pengorbanan orang tua, berlatih berbicara dengan hormat, memperhatikan kebutuhan mereka, serta mendoakannya. QS. Al-Isra’ [17]: 23–24 menegaskan penghormatan dan kelembutan terhadap orang tua. Pendidikan juga perlu membuka ruang untuk membahas bagaimana santri menyampaikan pendapat yang berbeda secara santun. Dengan demikian, bakti tumbuh sebagai kasih dan tanggung jawab yang disadari.
Keempat, mahabbatul ‘ilm: cinta kepada ilmu. Santri perlu mengalami bahwa belajar membantu mereka memahami agama, kehidupan, dan persoalan masyarakat. Doa “Rabbi zidnī ‘ilmā”—“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku”—tercantum dalam QS. Taha [20]: 114. Cinta ilmu terlihat dalam ketekunan membaca, keberanian bertanya, kejujuran akademik, kesediaan menerima koreksi, dan penggunaan pengetahuan bagi kemaslahatan. Al-Ghazali juga menghubungkan pencarian ilmu dengan pembinaan jiwa penuntutnya; adab belajar menyangkut keadaan batin, bukan hanya penguasaan bahan pelajaran (al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitāb al-‘Ilm).
Corak Kitab Akhlak dan Pengalaman Pesantren Nurul Yaqin
Kitab akhlak yang diajarkan di pesantren dapat memiliki titik tekan yang berbeda. Sebagian memberi perhatian besar pada adab pergaulan: cara berbicara, menghormati guru, menjaga tata krama, dan membedakan perbuatan baik dari yang buruk. Corak ini membangun dasar perilaku yang dapat dipelajari dan dilatih.
Sebagian pengajaran bergerak lebih jauh ke wilayah tasawuf dan tazkiyatun nafs, yakni pembinaan rohani dan pembersihan jiwa. Pertanyaannya bukan hanya “Apakah tindakan ini benar?”, melainkan juga “Apa niat di baliknya?” Seorang santri diajak mengenali kemungkinan riya, kesombongan, iri hati, atau keinginan dipuji ketika berbuat baik. Dengan demikian, adab memberi bentuk pada tindakan, sementara pembinaan rohani menguji niat dan kedalaman maknanya.
Dalam pengalaman yang disampaikan mengenai Pesantren Nurul Yaqin, penekanan pada tasawuf tampak sebagai ikhtiar membawa pendidikan akhlak sampai ke dimensi batin. Pembelajaran adab dihubungkan dengan latihan keikhlasan, muhasabah, pengendalian diri, dan kedekatan kepada Allah. Pada tataran keseharian, santri digambarkan menghormati guru, mengikuti arahan dengan tertib, dan menjaga adab ketika menyampaikan pendapat. Kehidupan pesantren juga digambarkan tidak ditandai oleh demonstrasi santri.
Pengamatan tersebut merupakan ilustrasi awal, bukan hasil penelitian lapangan yang telah mengukur tingkat internalisasi seluruh santri. Ketiadaan demonstrasi, misalnya, tidak dengan sendirinya membuktikan kedalaman akhlak; menyampaikan keberatan secara damai pun dapat menjadi tindakan yang bertanggung jawab. Pertanyaan pendidikan yang lebih penting ialah apakah santri mempunyai ruang untuk berbicara secara terbuka dan santun, mampu mengambil keputusan yang benar tanpa pengawasan, serta tetap menjaga akhlaknya setelah keluar dari pesantren.
Untuk menilai hal itu secara lebih kuat, pengamatan perlu dilengkapi dengan percakapan bersama santri, guru, dan alumni; contoh perilaku dalam berbagai situasi; serta penelusuran bagaimana pesantren menangani perbedaan pendapat. Langkah ini akan membantu membedakan kepatuhan yang terlihat dari kesadaran yang sungguh menjadi bagian dari diri.
Penutup
Pendidikan akhlak bergerak dari pelajaran menuju kehidupan. Internalisasi membantu santri memahami dan menerima nilai; transinternalisasi menghidupkannya melalui hubungan, pembiasaan, serta keteladanan; transendensi memperdalamnya dengan kesadaran akan Allah dan tanggung jawab pribadi. Teori Krathwohl, Lickona, Bandura, dan Kohlberg memberi alat untuk membaca proses itu dari sisi penerimaan nilai, hubungan pengetahuan dengan tindakan, pengaruh teladan, dan perkembangan alasan moral.
Di pesantren, keberhasilan proses tersebut terlihat ketika cinta kepada Allah menumbuhkan kejujuran, cinta kepada Rasul menghadirkan kasih sayang, bakti kepada orang tua melahirkan penghormatan, dan cinta kepada ilmu membentuk ketekunan serta kerendahan hati. Ukurannya bukan hanya kitab yang selesai dibaca atau ketaatan yang tampak, melainkan kemampuan santri berbuat baik dengan sadar, ikhlas, dan konsisten—setiap hari, termasuk ketika tidak ada yang melihat selain Allah.
Daftar Referensi
Al-Ghazali, Abu Hamid. Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitāb al-‘Ilm. Rujukan pada bagian adab penuntut ilmu; edisi dan tahun perlu disesuaikan dengan kitab yang digunakan.
Bandura, Albert. 1977. Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Kohlberg, Lawrence. 1981. The Philosophy of Moral Development: Moral Stages and the Idea of Justice. San Francisco: Harper & Row.
Krathwohl, David R., Benjamin S. Bloom, dan Bertram B. Masia. 1964. Taxonomy of Educational Objectives: Handbook II, Affective Domain. New York: David McKay.
Lickona, Thomas. 1991. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.
Muhaimin. 2006. Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Munif, Muhammad. 2017. “Strategi Internalisasi Nilai-Nilai PAI dalam Membentuk Karakter Siswa.” EDURELIGIA: Jurnal Pendidikan Agama Islam.
Al-Qur’an: QS. Ali ‘Imran [3]: 31; QS. Al-Isra’ [17]: 23–24; QS. Taha [20]: 114; QS. Al-Ahzab [33]: 21.
