DARI MANA MEMULAI STUDI ISLAM?

DARI MANA MEMULAI STUDI ISLAM?

Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang

 

Dalam sejarah pendidikan Islam, studi Islam (Islamic Studies) selalu menjadi fondasi lahirnya peradaban. Namun, di era modern, muncul pergeseran orientasi: dari studi agama yang bersifat normatif ke arah studi sosial- keagamaan yang lebih empiris.

Pertanyaannya: apa esensi sejati dari studi Islam di tengah modernisasi dan globalisasi ilmu?

Al-Qur’an sendiri telah menjawab arah dasar studi Islam: “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq” (QS. Al-‘Alaq: 1) “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu dalam Islam berawal dari kesadaran tauhid. Membaca realitas apa pun harus dalam bingkai bismi rabbika — dengan nama Tuhan. Maka, esensi studi Islam bukan hanya transfer of knowledge, melainkan transformation of being — perubahan manusia menjadi hamba dan khalifah yang berilmu dan beradab.

Secara akademik,
pertanyaan “Dari mana memulai studi Islam?” merupakan persoalan epistemologis yang menentukan arah, metodologi, dan orientasi pendidikan Islam. Artikel ini menelusuri tiga titik awal studi Islamyakni wahyu (teks), manusia (subjek), dan realitas sosial (konteks) dalam kerangka epistemologi bayani, irfani, dan burhani. Melalui analisis literatur klasik dan kontemporer, ditemukan bahwa pendidikan Islam harus dimulai dari integrasi ketiganya: wahyu sebagai sumber nilai, manusia sebagai penerima dan pelaku ilmu, serta realitas sosial sebagai ruang praksis keilmuan. Dengan model ini, studi Islam melahirkan insan ulul albab yang berilmu, berzikir, dan beramal.

Sejak masa awal Islam, ilmu tidak pernah dipisahkan dari iman dan amal. Tradisi keilmuan Islam berakar pada perintah wahyu pertama:
“Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq” (QS. Al-‘Alaq: 1) “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Perintah membaca ini menandai lahirnya tradisi intelektual Islam yang berorientasi pada tafaqquh fiddin — pemahaman mendalam terhadap agama sebagaimana ditegaskan dalam QS. At-Taubah ayat 122.

Namun, dalam perjalanan sejarah pendidikan Islam, muncul persoalan baru: dari mana seharusnya studi Islam dimulai agar tetap otentik, ilmiah, dan relevan?
Sebagian berpendapat bahwa studi Islam harus dimulai dari wahyu (teks dan tradisi), sebagian dari manusia (pengalaman dan moralitas), dan sebagian lagi dari realitas sosial (konteks dan perubahan masyarakat).
Artikel ini berupaya menjelaskan ketiganya dalam kerangka epistemologi Islam, agar pendidikan Islam modern tidak kehilangan arah spiritual dan metodologisnya.

Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research).
Data bersumber dari: Nash keagamaan (Al-Qur’an dan hadis) yang berkaitan dengan ilmu dan pendidikan.

Karya ulama klasik seperti al-Ghazali, al-Zarnuji, dan Ibn Khaldun.
Pemikiran kontemporer seperti M. Amin Abdullah, Azyumardi Azra, Fazlur Rahman, dan Seyyed Hossein Nasr.

Analisis dilakukan dengan pendekatan epistemologis dan filosofis, untuk mengidentifikasi titik awal dan orientasi studi Islam secara konseptual dan aplikatif.

ANALISIS

1.Wahyu Sumber Bayani

Wahyu merupakan fondasi pertama studi Islam. Ia menjadi sumber nilai, makna, dan hukum. Dalam epistemologi Islam, pendekatan ini dikenal sebagai bayani, yaitu upaya memahami realitas melalui teks wahyu dan nash (al-Jabiri, 1991).

Wahyu bukan hanya sumber hukum, tetapi juga sumber ilmu.

Allah berfirman: “Allama al-insana ma lam ya’lam” (QS. Al-‘Alaq: 5)
“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Studi Islam harus dimulai dari penguasaan ilmu-ilmu alat dan ulumul syar’iyyah, seperti: Ulumul Qur’an dan Ulumul Hadis. Fiqh dan Ushul Fiqh. Ilmu Kalam, Tasawuf, dan Aqidah.

Fazlur Rahman (1982) menegaskan bahwa wahyu adalah panduan normatif yang dinamis; ia tidak berhenti pada teks, tetapi mengarahkan manusia menafsirkan kehidupan berdasarkan nilai ilahiah.
Dengan demikian, tafaqquh fiddin adalah langkah awal yang menanamkan kerangka nilai dalam berpikir ilmiah dan berkehidupan sosial.

2. Manusia Subjek Irfani.

Manusia adalah penerima dan pelaku ilmu. Tanpa hati dan kesadaran, wahyu tidak dapat dipahami. Allah berfirman:
“Sanurihim ayatina fil afaqi wa fi anfusihim…” (QS. Fussilat: 53)
“Kami akan memperlihatkan tanda-tanda Kami di alam dan pada diri mereka sendiri.” Ayat ini menunjuk kan bahwa diri manusia adalah cermin kehadiran Ilahi.

Epistemologi irfani menempatkan pengalaman batin, intuisi, dan kesadaran ruhani sebagai bagian dari jalan menuju ilmu (Nasr, 1987).
Ilmu dalam Islam tidak hanya hasil berpikir rasional, tetapi juga buah dari hati yang bersih.

Imam al-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menekankan pentingnya adab, niat, dan kesucian hati dalam menuntut ilmu. Tanpa adab, ilmu kehilangan berkah dan menjadi sekadar wacana.

Pendekatan ini pula yang menjadi dasar sistem pendidikan pesantren di Nusantara: ilmu harus menumbuh kan akhlak.

Dari perspektif modern, pandangan ini sejalan dengan teori pendidikan humanistik Islam (Rahardjo, 2015), yang menekankan integrasi antara kognisi, afeksi, dan spiritualitas.

3. Realitas Sosial Objek Burhani
Islam bukan hanya sistem teologis, tetapi juga peradaban (civilizational project). Allah berfirman: “Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nas…” (QS. Ali Imran: 110) “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.”
Pendekatan burhani (rasional-empiris) mengajarkan bahwa ilmu harus berfungsi sosial.

Menurut Amin Abdullah (2006), integrasi-interkoneksi keilmuan adalah paradigma yang menjembatani ilmu agama dan ilmu sosial untuk memahami realitas secara utuh.

Dalam konteks ini, studi Islam tidak cukup hanya memahami teks, tetapi juga membaca realitas sosial—kemiskinan, lingkungan, keadilan, dan etika publik—melalui cahaya wahyu.

Titik awal studi Islam juga bisa berasal dari konteks sosial, selama ia diarahkan kembali pada nilai-nilai wahyu. Inilah yang menjadikan Islam tetap relevan dalam setiap zaman.

Integrasi Epistemologi
Ketiga pendekatan tersebut—bayani, irfani, dan burhani—harus diintegrasikan. Pendekatan Fokus Metode Tujuan Ilmu Bayani Wahyu dan teksTafsir, istidlal. Ketaatan dan legitimasi normatif IrfaniHati dan ruh manusia. Tazkiyah, muhasabahPencerahan batin dan akhlakBurhaniRealitas empirisRasional, kontekstual Transformasi sosial dan kemanusiaan.

Integrasi ketiganya melahirkan model pendidikan ulul albab, sebagaimana disebut dalam QS. Ali Imran [3]:190–191, bahwa orang berilmu adalah mereka yang menggabungkan zikir, fikir, dan amal.
Model inilah yang seharusnya menjadi dasar epistemologis bagi PTKIN dan lembaga pendidikan Islam masa kini.

Kesimpulan
Studi Islam harus dimulai dari wahyu yang membimbing akal dan menuntun hati untuk membaca realitas.

Memulai dari wahyu tanpa konteks menjadikan ilmu kering dan normatif; memulai dari manusia tanpa wahyu menjadikan ilmu bebas nilai; memulai dari realitas tanpa akhlak menjadikan ilmu kehilangan arah moral.

Karena itu, studi Islam sejati adalah yang memadukan ketiganya: Wahyu sebagai sumber nilai, Manusia sebagai subjek moral dan spiritual, Realitas sosial sebagai ruang implementasi dan amal.

Dengan demikian, pendidikan Islam akan melahirkan ilmuwan beradab, intelektual beriman, dan pemimpin beramal — insan ulul albab yang menjadi rahmat bagi semesta.

Daftar Pustaka

  1. Abdullah, M. Amin. (2006). Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  2. Abdullah, M. Amin. (2014). “Paradigma Integrasi Keilmuan di UIN.” Jurnal Pendidikan Islam, 3(2), 245–263.
  3. al-Jabiri, Muhammad Abid. (1991). Naqd al-‘Aql al-‘Arabi. Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-‘Arabiyah.
  4. al-Zarnuji. (2000). Ta’lim al-Muta’allim: Thariq al-Ta’allum. Surabaya: al-Hidayah.
  5. Azra, Azyumardi. (2012). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta: Kencana.
  6. Nasr, Seyyed Hossein. (1987). Knowledge and the Sacred. New York: SUNY Press.
  7. Rahardjo, Dawam. (2015). Islam dan Transformasi Sosial Ekonomi. Jakarta: LP3ES.
  8. Rahman, Fazlur. (1982). Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: University of Chicago Press.
    • Samad, Duski. (2024).
  9. Refleksi Pendidikan Islam dan Adab Ilmu di PTKIN. Padang: UIN Imam Bonjol Press.

Leave a Reply

News Feed