Dari Silaturrahmi Hang Tuah 158

Dari Silaturrahmi Hang Tuah 158: Sanad Adab dan Intelektualitas dalam Jejak Inyiak Canduang dan HMI.

Afrizal Moetwa

 

Bismillāhirrahmānirrahīm.

Silaturrahmi ini bukan sekadar pertemuan alumni HMI, Ia adalah perjumpaan sanad—sanad adab, ilmu, dan perjuangan. Wisma Hang Tuah 158 bukan hanya bangunan fisik, melainkan ruang sejarah tempat nilai ditanam, diuji, dan diwariskan.

Jika kita menoleh ke awal 1900-an, Syekh Sulaiman Arrasuli—Inyiak Canduang—telah lebih dahulu merintis pemikiran besar peradaban melalui pendidikan.

Di saat Minangkabau diguncang kolonialisme, perdebatan kaum tua dan kaum muda, serta masuknya sistem sekolah modern Belanda, inyiak Canduang tampil sebagai guru besar umat. Melalui Surau Canduang yang berkembang menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), beliau melakukan ijtihad pendidikan:

memadukan sistem klasikal modern tanpa melepaskan akar turats, menjaga mazhab Syafi’i, serta meneguhkan prinsip “Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah.”

Bagi Inyiak Canduang, pendidikan bukan sekadar transmisi ilmu, tetapi pembinaan adab. Rasulullah ﷺ bersabda: “Innamā bu‘itstu li utammima makārimal akhlāq” — sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.
Maka adab didahulukan sebelum ilmu, karena ilmu tanpa adab dapat melahirkan kerusakan.

Empat dekade kemudian, tahun 1947, HMI lahir dalam konteks kebangsaan yang baru merdeka. Jika Inyiak Canduang membangun kader ulama penjaga tradisi, maka HMI membangun kader intelektual muslim penjaga moral bangsa. Nilai dasarnya sama: tauhid sebagai pusat orientasi, ilmu sebagai instrumen perubahan, dan pengabdian sebagai jalan kemuliaan.

Di Sumatera Barat, semangat itu menemukan momentum historis ketika diperjuangkan di Ranah Minang, tentu fi perjuangkan dengan visi kepemimpinan yang jauh ke depan, sehingga perjuangan itu berhasil membawa Kongres HMI ke-16 ke Padang. Itu bukan sekadar peristiwa organisatoris, melainkan pengakuan atas kapasitas intelektual dan strategis kader HMI Sumatera Barat.

Kongres tersebut menegaskan bahwa Padang—tanah ulama dan pejuang—mampu menjadi panggung nasional bagi dialektika pemikiran dan arah perjuangan mahasiswa Islam.

Hari ini, generasi kita menghadapi tantangan berbeda: disrupsi digital, krisis etika publik, dan relativisme nilai.

Kolonialisme bukan lagi dalam bentuk fisik, tetapi dalam penetrasi budaya dan pemikiran. Maka warisan Inyiak Canduang dan spirit HMI harus dipertemukan kembali. Kader tidak cukup cerdas secara intelektual, tetapi harus kokoh secara moral, adab dan spiritual.

Allah berfirman:

“Yarfa‘illāhu alladzīna āmanū minkum walladzīna ūtul ‘ilma darajāt.”
(Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat) — QS. Al-Mujādilah: 11.

Hang Tuah 158 harus menjadi ruang kaderisasi yang menumbuhkan iman, mengasah ilmu, dan mematangkan adab. Dari sini lahir generasi yang bukan hanya mampu memimpin organisasi, tetapi juga memimpin nurani zamannya.

Silaturrahmi ini hendaknya menjadi penguat tekad: merawat sanad perjuangan, menjaga kehormatan ilmu, dan memastikan bahwa kader HMI tetap berdiri tegak sebagai penjaga nilai, penggerak perubahan, dan pewaris peradaban.

Inilah sisi pertemuan di Wisma HMI Jum’at sore, Semoga ALLAH Subhanahu wa Ta’ala mencurahkan Rahman Rahiimnya kepada kita. Amiin.

Leave a Reply