GERAK WASILAH:
(Rukun, Sinergi, Damai, dan Maju)
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol
Di tengah dunia yang kian bising oleh polarisasi, perbedaan sering kali tidak lagi diperlakukan sebagai rahmat, melainkan dianggap ancaman. Perbedaan cara beragama, metode berdakwah, pendekatan sosial, bahkan pilihan kebijakan, mudah berubah menjadi sumber kecurigaan dan konflik. Ironisnya, banyak pertengkaran itu justru lahir dari niat yang sama-sama mengatasnamakan kebaikan.
Dalam konteks inilah, Islam menawarkan satu konsep kunci yang kerap terlupakan: wasilah. Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan manusia untuk bertakwa, tetapi juga untuk mencari wasilah—jalan pendekatan—dalam meraih tujuan kebaikan. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah untuk mendekatkan diri kepada-Nya,” demikian firman Allah dalam QS. Al-Māidah ayat 35.
Ayat ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan beragama, tujuan dan cara tidak boleh dipisahkan. Takwa adalah fondasi, tetapi tanpa wasilah yang tepat, takwa bisa kehilangan wujud sosialnya. Sebaliknya, wasilah tanpa takwa akan melahirkan pragmatisme yang kering nilai.
Masalahnya, tidak sedikit konflik keagamaan dan sosial hari ini justru muncul karena kegagalan membedakan wilayah wasilah. Semua hal diperlakukan seolah-olah sama: kaku, tertutup, dan saling menafikan. Padahal, Islam sangat tegas sekaligus sangat lentur dalam soal ini.
Dalam urusan ibadah mahdhah, Islam menutup rapat pintu inovasi. Cara shalat, puasa, zakat, dan haji tidak boleh dikreasikan sesuka hati. Prinsipnya jelas: ibadah harus mengikuti tuntunan Nabi. Tujuan yang baik tidak cukup untuk membenarkan cara yang salah. Di sini, disiplin beragama menjadi benteng agar agama tidak tereduksi oleh selera zaman.
Namun, ketika masuk ke wilayah muamalah sosial, Islam justru membuka ruang yang luas bagi kreativitas dan inovasi. Hukum asal muamalah adalah boleh, selama tidak melanggar syariat, tidak merusak akhlak, dan tidak menzalimi manusia. Teknologi digital, sistem administrasi modern, dialog lintas iman, kerja sama lintas kelompok, hingga kebijakan publik adalah bagian dari wasilah yang sah untuk mencapai kemaslahatan.
Ketika perbedaan ini tidak dipahami, lahirlah dua ekstrem yang sama-sama bermasalah. Di satu sisi, ada sikap membekukan agama sehingga tidak mampu menjawab tantangan zaman. Di sisi lain, ada kecenderungan melonggarkan agama tanpa batas hingga kehilangan prinsip. Keduanya sama-sama menjauhkan agama dari fungsi utamanya sebagai rahmat bagi semesta.
Karena itu, yang kita butuhkan hari ini adalah Gerak Wasilah—sebuah orientasi berpikir dan bertindak yang menempatkan wasilah secara proporsional. Gerak Wasilah bukan kompromi terhadap prinsip, melainkan kecerdasan dalam memilih jalan. Ia bukan relativisme, tetapi kebijaksanaan.
Dalam kehidupan kebangsaan, Gerak Wasilah menjadi energi penting untuk merawat kerukunan. Indonesia adalah rumah besar dengan keragaman agama, budaya, dan pandangan. Jika perbedaan pendekatan selalu diperlakukan sebagai ancaman, maka konflik akan terus berulang. Tetapi jika perbedaan wasilah dipahami sebagai keniscayaan, maka dialog dan saling menghormati akan tumbuh dengan sendirinya.
Gerak Wasilah juga menjadi fondasi sinergi. Pembangunan bangsa tidak mungkin diserahkan pada satu aktor saja. Negara, ulama, akademisi, tokoh adat, dan masyarakat sipil harus berjalan bersama. Dalam konteks ini, kehadiran institusi seperti Kementerian Agama Republik Indonesia menjadi sangat strategis sebagai penghubung antara nilai keagamaan, kebijakan negara, dan kehidupan masyarakat. Sinergi bukan berarti menyeragamkan cara, tetapi menyatukan tujuan.
Lebih dari itu, Gerak Wasilah adalah jalan menuju kedamaian. Damai tidak lahir dari pemaksaan kebenaran, tetapi dari rasa keadilan dan penghormatan. Sejarah Nabi Muhammad menunjukkan bahwa kelembutan, dialog, dan keteladanan jauh lebih efektif daripada konfrontasi. Masyarakat yang merasa dihargai akan lebih mudah menerima pesan kebaikan.
Pada saat yang sama, Gerak Wasilah juga menjadi motor kemajuan. Islam tidak pernah anti-ilmu dan teknologi. Justru kemajuan menjadi wasilah penting untuk meningkatkan kualitas hidup, memperluas manfaat, dan menguatkan daya saing bangsa. Yang ditolak Islam bukanlah modernitas, melainkan kerusakan yang lahir dari keserakahan dan ketidakadilan.
Di tengah tantangan global—krisis moral, disrupsi teknologi, konflik identitas—umat beragama dituntut untuk tampil tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga cerdas secara sosial. Kesalehan tanpa kecerdasan akan melahirkan ketegangan. Kecerdasan tanpa nilai akan melahirkan kehampaan.
Maka pesan utama Gerak Wasilah sesungguhnya sederhana namun mendasar. Dalam ibadah, patuhlah tanpa inovasi. Dalam muamalah, berkreasilah tanpa melanggar. Tujuan kita bukan memenangkan cara sendiri, tetapi menghadirkan kebaikan bersama. Wasilah harus menjadi jembatan yang menghubungkan, bukan tembok yang memisahkan.
Jika prinsip ini dipegang, agama tidak akan menjadi sumber konflik, melainkan energi pemersatu. Gerak Wasilah pada akhirnya adalah energi peradaban: menuntun bangsa ini menuju kehidupan yang lebih rukun, sinergis, damai, dan maju.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Gerak Wasilah mengajarkan satu kebijaksanaan mendasar dalam kehidupan beragama dan berbangsa: bahwa kebaikan tidak cukup hanya dengan niat, tetapi harus ditempuh dengan jalan yang tepat dan proporsional. Islam membimbing umatnya untuk tegas dalam prinsip ibadah, namun lentur dan cerdas dalam urusan sosial. Ketika perbedaan wasilah dipahami sebagai keniscayaan, bukan ancaman, maka ruang dialog akan terbuka, sinergi akan terbangun, dan konflik dapat diredam.
Di tengah kompleksitas zaman—polarisasi sosial, disrupsi teknologi, dan krisis kepercayaan—umat beragama dituntut untuk menghadirkan kesalehan yang berwajah sosial, bukan kesalehan yang eksklusif. Gerak Wasilah menempatkan agama sebagai energi pemersatu, bukan sumber perpecahan; sebagai jembatan peradaban, bukan tembok identitas. Jika prinsip ini dipegang secara konsisten, maka agama akan kembali menjalankan peran utamanya: menuntun masyarakat menuju kehidupan yang rukun dalam perbedaan, sinergis dalam kerja, damai dalam relasi, dan maju dalam peradaban.DS. 07012026.





