HIZBULLAH DAN HIZBUS SYAITHAN: MEMBACA KONFLIK DUNIA DENGAN KACAMATA MORAL AL-QUR’AN
Oleh: Duski Samad
Pengasuh surautuanku professor@series45.
Al-Qur’an dalam Surat Al-Mujadilah memberikan satu klasifikasi moral yang sangat tajam dalam melihat manusia dan peradaban, yaitu adanya dua kecenderungan besar dalam kehidupan: Hizbullah (golongan Allah) dan Hizbusy Syaithan (golongan setan). Klasifikasi ini bukan dimaksudkan sebagai identitas organisasi, negara, atau kelompok formal, tetapi sebagai kategori moral yang ditentukan oleh nilai, orientasi hidup, dan pilihan etika manusia.
Allah berfirman dalam QS Al-Mujadilah ayat 19:
“Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, golongan setan itulah orang-orang yang merugi.”
Sebaliknya dalam ayat 22 Allah menyebut:
“Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.”
Dua ayat ini sebenarnya tidak sedang membangun peta politik dunia, tetapi membangun peta moral manusia. Artinya, Al-Qur’an tidak menilai manusia dari asal bangsa, kekuatan negara, atau afiliasi politiknya, tetapi dari nilai yang mereka bela dalam kehidupan.
Dalam konteks dunia modern, termasuk konflik geopolitik seperti ketegangan Iran, Israel, dan Amerika, perspektif ini menjadi sangat penting agar umat Islam tidak terjebak pada fanatisme identitas, tetapi mampu membaca realitas dengan ukuran moral Qur’ani: keadilan dan kemanusiaan.
Hizbusy Syaithan: ketika kepentingan mengalahkan kebenaran
Para mufassir klasik seperti Ibn Kathir dan Al-Tabari menjelaskan bahwa Hizbusy Syaithan adalah orang yang dikuasai hawa nafsu sehingga meninggalkan petunjuk Allah. Mereka bukan selalu orang yang tampak jahat secara lahir, tetapi mereka yang menjadikan kepentingan sebagai kompas hidupnya.
Indikasinya bisa terlihat dalam beberapa hal.
Pertama, hilangnya orientasi spiritual. Mereka tidak lagi menjadikan nilai Ilahi sebagai pedoman, tetapi menjadikan kekuasaan, harta, dan pengaruh sebagai tujuan utama.
Kedua, normalisasi keburukan. Kebohongan dianggap strategi, manipulasi dianggap kecerdikan, dan kezaliman dianggap bagian dari kompetisi.
Ketiga, melemahnya sensitivitas nurani. Dalam perspektif tasawuf, ini disebut qalbun mayyit, yaitu hati yang tidak lagi peka terhadap kebenaran.
Jika ditarik ke konteks konflik global, karakter seperti ini bisa muncul dalam bentuk:
agresi tanpa batas kemanusiaan,
korban sipil yang diabaikan, perang yang didorong kepentingan dominasi, propaganda yang menghilangkan nilai kemanusiaan lawan.
Al-Qur’an telah memberi batas moral yang jelas dalam QS Al-Baqarah ayat 190: “Perangilah yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.”
Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan dalam perang pun Islam tetap meletakkan etika sebagai batas.
Hizbullah: ketika nilai Ilahi menjadi kompas kehidupan
Sebaliknya, Hizbullah adalah mereka yang menjadikan iman, keadilan, dan integritas sebagai fondasi hidup. Mereka bukan selalu orang yang berkuasa, tetapi orang yang tetap memegang nilai kebenaran walaupun dalam situasi sulit.
QS Al-Mujadilah ayat 22 menjelaskan bahwa ciri utama mereka adalah kuatnya iman dalam hati dan konsistensi dalam membela kebenaran.
Karakter Hizbullah antara lain: jujur walau merugikan diri, adil walau terhadap pihak yang tidak disukai,
menjaga kemanusiaan bahkan dalam konflik,
mengutamakan perdamaian jika memungkinkan.
Allah menegaskan dalam QS Al-Maidah ayat 8:
“Janganlah kebencian suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil lebih dekat kepada takwa.”
Ayat ini sangat penting dalam membaca konflik global. Ia mengajarkan bahwa kebencian politik tidak boleh menghilangkan objektivitas moral.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membela pihak tertentu hanya karena identitas, tetapi membela nilai keadilan di mana pun ia berada.
Membaca konflik global dengan politik moral, bukan politik blok
Dalam konflik Iran, Israel, dan Amerika, banyak orang terjebak dalam cara pandang blok: siapa melawan siapa, siapa Muslim, siapa Barat. Padahal Al-Qur’an mengajarkan pendekatan yang lebih dalam, yaitu melihat konflik dari perspektif moral.
Pertanyaan Qur’ani bukan: siapa yang lebih kuat?
Tetapi: siapa yang lebih adil? Bukan: siapa yang satu kelompok dengan kita? Tetapi: siapa yang menjaga kemanusiaan?
Pertanyaan di atas terjawab oleh peristiwa yang kasat mata disaksikan dunia Israel dan sekutunya adalah pelaku genosida, pembunuh anak-anak, perempuan dan sudah diajukan sebagai penjahat perang dan penjahat kemanusiaan.
Dalam pandangan Al-Qur’an, Hizbullah dan Hizbusy Syaithan bisa muncul di mana saja, bahkan dalam kelompok yang sama.
Ukuran utamanya adalah: apakah tindakan tersebut mendekatkan manusia kepada keadilan atau justru kepada kezaliman.
Pelajaran bagi umat Islam Indonesia
Bagi umat Islam Indonesia, pelajaran penting dari konsep ini adalah pentingnya menjaga sikap ummatan wasathan (umat moderat), sebagaimana disebut dalam QS Al-Baqarah ayat 143.
Umat Islam Indonesia tidak harus menjadi bagian dari polarisasi konflik global, tetapi harus menjadi kekuatan moral yang mendorong:
keadilan,
perdamaian,
kemanusiaan,
kebijaksanaan.
Dalam tradisi Islam Nusantara, termasuk dalam filosofi Minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, keseimbangan antara nilai spiritual dan kehidupan sosial telah lama menjadi pedoman.
Artinya, umat Islam tidak boleh menjadi umat yang mudah terseret emosi global, tetapi harus menjadi umat yang memberikan teladan moral.
Penutup: konflik terbesar adalah dalam diri manusia
Pada akhirnya, pesan terdalam dari Surat Al-Mujadilah bukan tentang konflik antar negara, tetapi konflik dalam diri manusia sendiri.
Apakah manusia memilih jalan iman atau jalan kepentingan?
Apakah ia membela kebenaran atau sekadar membela kelompok?
Karena Hizbullah bukan ditentukan oleh simbol keagamaan, jabatan, atau retorika, tetapi oleh sejauh mana seseorang setia kepada nilai Ilahi dalam hidupnya.
Dan Hizbusy Syaithan bukan ditentukan oleh identitas luar, tetapi oleh sikap ketika seseorang mengetahui kebenaran namun tetap memilih kezaliman.
Sejarah membuktikan bahwa peradaban tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang paling setia kepada nilai keadilan.
Karena pada akhirnya:
Hizbullah membangun peradaban.
Hizbusy Syaithan merusak peradaban.
Dan masa depan dunia tidak akan ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi oleh kekuatan moral manusia.








