Ibadah Paket Penuh di Jantung Kota

MASJID BAITURRAHMAH: SATU JUZ, 23 RAKAAT DAN I’TIKAF
( Ibadah Paket Penuh di Jantung Kota)

Oleh: Duski Samad
Pengasuhsurautuanku professor@34.

 

Pengalaman menjadi jamaah Masjid Baitur rahmah By Pas Padang yang jumlah shalat tarawihnya 23 rakaat, dengan bacaan ayat 1 juz satu malam adalah pengalaman tersendiri yang hanya bisa dirasakan, sulit menceritakannya.

Di tengah hiruk pikuk kota Padang, di antara lalu lintas yang padat dan aktivitas manusia yang tak pernah berhenti, berdiri sebuah ruang teduh yang menjadi tempat pulang bagi hati yang letih. Masjid Baiturrahmah bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi menjadi rumah ruhani bagi mereka yang ingin merasakan Ramadan secara utuh.

Masjid ini menghadirkan satu konsep ibadah yang bisa disebut sebagai “ibadah paket penuh”. Shalat tarawih 23 rakaat dengan bacaan satu juz setiap malam, imam para hafidz dengan suara murattal yang menenangkan, jamaah yang ramai tetapi tetap tertib, serta tradisi i’tikaf yang hidup hingga menjelang sahur.

Di sini terasa bahwa Ramadan tidak hanya dijalani, tetapi dihidupkan.

Al-Qur’an seakan benar-benar menjadi pusat kehidupan. Setiap malam satu juz dibaca, seolah jamaah diajak berjalan perlahan menyusuri 30 juz Al-Qur’an selama Ramadan. Ini bukan sekadar target tilawah, tetapi perjalanan spiritual yang membangun kesabaran, kekhusyukan, dan kedekatan dengan Allah.

Allah berfirman:
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan dan benar).” (QS. Al-Muzzammil: 4)

Tradisi ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam sejarah Islam di Padang lama, terutama di masjid dan surau tradisional yang bermazhab Syafi’i, tarawih 23 rakaat dan khatam Al-Qur’an selama Ramadan adalah praktik yang sudah mengakar. Ini menunjukkan bahwa Islam di Minangkabau sejak dahulu memiliki karakter kesungguhan dalam ibadah, bukan sekadar minimalisme ritual.

Masyarakat lama tidak bertanya: berapa yang paling ringan?

Tetapi bertanya: berapa yang paling bernilai?
Masjid Baiturrahmah seperti menghidupkan kembali semangat itu.

Keistimewaan lain yang langsung terasa adalah kebersihan dan keindahan masjidnya. Lantai bersih, karpet rapi, pencahayaan terang, udara nyaman, serta pengelolaan yang tertib. Semua ini bukan sekadar fasilitas, tetapi bagian dari nilai Islam itu sendiri.

Rasulullah SAW bersabda:
“Kebersihan adalah sebagian dari iman.”
(HR. Muslim)

Bahkan Al-Qur’an menegaskan pentingnya kebersihan tempat ibadah:
“Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang yang thawaf, i’tikaf, rukuk dan sujud.”
(QS. Al-Baqarah: 125)

Masjid yang bersih sebenarnya bukan soal estetika, tetapi soal akhlak kolektif umat. Masjid yang terawat menunjukkan jamaah yang memiliki kesadaran spiritual tinggi.

Masjid yang indah juga memiliki kekuatan dakwah yang sering tidak disadari. Banyak orang tertarik datang bukan karena diajak, tetapi karena merasakan kenyamanan dan ketenangan.

Masjid yang nyaman membuat orang betah. Masjid yang tertib membuat orang khusyuk. Masjid yang hidup membuat umat bangkit.

Yang menarik, Baiturrahmah juga berada dalam satu kawasan pendidikan dan rumah sakit. Ini seperti gambaran kecil dari konsep peradaban Islam klasik yang memadukan tiga kekuatan besar: masjid membangun iman, kampus membangun ilmu, rumah sakit menjaga kehidupan.

Inilah Islam yang utuh: tidak memisahkan agama dari ilmu, tidak memisahkan ibadah dari kemanusiaan.

Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, masjid ini semakin hidup dengan i’tikaf. Ada yang membawa mushaf, ada yang berdzikir, ada yang membaca buku agama, ada yang sekadar duduk lama menundukkan kepala, berbicara dengan Allah dalam diam.

Di sinilah terlihat bahwa manusia modern, sehebat apapun kehidupannya, tetap membutuhkan ruang sunyi untuk menenangkan jiwanya.

I’tikaf mengajarkan satu hal: kadang kita perlu berhenti dari dunia, agar tidak kehilangan arah hidup.

Rasulullah SAW sendiri selalu beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan sebagai bentuk kesungguhan mencari Lailatul Qadar.

Masjid seperti Baiturrahmah sebenarnya mengajarkan satu pelajaran besar kepada kita: peradaban umat tidak dimulai dari gedung- gedung tinggi, tetapi dari masjid yang hidup.

Jika masjid ramai: iman tumbuh.
Jika Al-Qur’an dibaca: akal hidup.
Jika i’tikaf dijaga: jiwa kuat.

Jika jamaah tertib: masyarakat kuat.

Mungkin inilah rahasia mengapa ulama Minangkabau dahulu selalu membangun surau sebelum membangun yang lain. Mereka paham bahwa kekuatan umat bukan hanya pada ekonomi atau politik, tetapi pada kualitas ruhani masyarakatnya.

Masjid Baiturrahmah hari ini seperti mengingatkan kita kembali:

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi tentang membangun kembali hubungan manusia dengan Allah.

Dan dari masjid seperti inilah biasanya lahir generasi yang kuat imannya, jernih pikirannya, dan baik akhlaknya.

Karena sejatinya, umat yang besar selalu lahir dari masjid yang makmur.

Dan mungkin pesan paling sederhana dari semua ini adalah: Jika ingin melihat masa depan umat, lihatlah bagaimana mereka memakmurkan masjidnya. DS.13032024.

Leave a Reply