IKHLAS DALAM BERBUAT KEBAIKAN
Oleh: Dr. H. Ahmad Kosasih, MA
“Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi dikenal sebagai seorang saleh yang jujur dan amanah. Suatu hari ketika berada di Mekkah, dia merasa sangat lapar tidak ada yang akan dimakan sekedar pelepas rasa lapar itu. Tiba-tiba dia menemukan sebuah kantong dari sutra diikat dengan kaus kaki yang terbuat dari sutra juga. Al-Qadhi lantas memungutnya dan membawa pulang ke rumah. Sampai di rumah dibukanya kantong itu, alangkah terkejutnya dia saat melihat isi kantong itu adalah sebuah permata indah yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
Kemudian dia pergi keluar rumah, dan saat itu terlihat seorang lelaki tua yang berteriak mencari kantongnya yang hilang sambil memegang kantong kain yang berisi uang. Orang tua itu berkata, “barang siapa yang telah menemukan kantong sutra yang berisi permata milikku, dan mau mengembalikannya kepadaku, maka aku akan menebusnya lima ratus dinar”. Mendengar itu, Al-Qadhi berpikir akan bisa memiliki uang itu jika mengembalikan kantong sutra yang telah ditemukannya. ‘Hai pak Tua kemarilah’, kata Al-Qadhi. Lalu ia mengajak lelaki tua itu ke rumahnya, lalu ia ceritakan tentang kantong sutra itu dengan rinci. Al-Qadhi memberikan kantong itu dan lelaki itupun memberikan uang 500 dinar sebagai imbalannya. Namun, Al-Qadhi tidak mau mengambil uang itu sambil berkata, ‘memang sudah seharusnya saya mengembalikan barang itu karena barang itu adalah milik bapak’, katanya. Beberapa waktu kemudian, Al-Qadhi pergi berlayar meninggalkan kota Mekah.
Di tengah laut perahu yang ditumpanginya pecah, semua penumpang teggelam hanya dia yang selamat dan terdampar di sebuah pulau. Di pulai itu dia masuk ke sebuah masjid lalu duduk sambil membaca Al-Qur`an. Mendengar Al-Qadhi membaca Al-Qur’an, beberapa orang penduduk pulau itu mendekatinya sambil berkata, ‘ajarilah kami membaca Al-Qur`an ! Al-Qadhi memenuhi pemintaan mereka untuk mengajari membaca Al-Qur`an. Bahkan mereka juga mohon diajari tulis baca. Maka masyarakat berdatangan membawa anak-anaknya untuk belajar membaca Al-Qur`an. Salah seorang Ibu berkata, ‘Kami punya seorang putri yatim, dia punya harta yang cukup banyak. Maukah kamu menikahinya? Mulanya Al-Qadhi menolak tawaran itu. Tapi orang-orang terus mendesak, akhirnya Al-Qadhi memenuhi keinginan mereka.
Ketika gadis itu dibawa ke hadapannya, Al-Qadhi melihat kalung permata yang pernah ditemukannya dulu di Mekah melingkar di leher gadis itu. Gadis itu kecewa karena perhatian Al-Qadhi hanya ke kalungnya. Kemudian Al-Qadhi menceritakan kejadian yang pernah dialaminya tentang menemukan kantong yang berisi sebuah permata dulu. Selesai dia becerita, orang-orang serentak meneriakkan tahlil dan takbir. ‘Ada apa dengan kalian’, Tanya Al-Qadhi. ‘Tahukah engkau bahwa orang tua yang penah kau temukan di Mekkah dulu adalah ayah gadis ini. Dia pernah mengatakan bahwa tidak pernah menjumpai seorang muslim sebaik orang yang pernah mengembalikan kalung itu kepadanya. Maka dia berdoa agar dipertemukan dengannya untuk dinikahkan dengan putrinya. Sekarang hal itu jadi kenyataan’, kata mereka. Al-Qadhi kemudian mengarungi kehidupan bersama putri itu dan dikaruniai dua orang anak”. (Al-Barabbasi, 2009:64-68).










