Interaksi Budaya dan Pelestarian Trasdisi di Keraton Kecirebonan dengan Pendekatan Antropologi
Oleh:
Ahmad Naufal Marom, Sayyid Zamzami, Octavia Nur Fadhilah
Dosen pengampu: Fadli Daud Abdullah, S.H.,M.H.
Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam ( FEBI)
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Keraton kecirebonan adalah salah satu tempat kebudayaan yang masih berfungsi di daerah Cirebon, dimana tradisi dan praktik budaya tidak hanya diteruskan tetapi terus dilaksanakan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Dalam perspektif antropologi, keraton ini bisa di lihat sebagai ruang kebudayaan yang dinamis, tidak hanya sebagai situs sejarah, nilai nilai tradisioanal di dalamnyatetap ada melalui cara cara sosial, interaksi, dan penyesuaian, bukan membekukan masalalu.
Pelestarian tradisi dikeraton kecirebonan ini menunjukan partisipasi dari berbagai pihak. Menurut pendapat Ningrum, Putri Siti Juenda,Ardian Syah, dan Widiana Tiara, keberhasilan dalam menjaga tradisi sangat bergantung pada keterlibatan pemain kunci seperti keraton, pemerintah, dan masyarakat. Mereka menekankan bahwa kolaborasi ini mencerminkan kesadaran budaya yang mendalam, walaupun partisipasi masyarakat masih perlu diperluas sehingga budaya tidak hanya dilihat, tetapi juga dihidupi oleh orang banyak.
Kegiatan budaya yang diadakan setiap minggu sekali seperti acara malam minggu semkain menegaskan keberlangsungan budaya keraton in. dalam acara tersebut, masyarakat dapat melukis topeng juga masyarakat dapat berpartisipasi dalam lokaraya budaya, serta menyaksikan pertunjukan tari topeng kecirebonan,oleh karena itu, praktik tersebut menunjukan bagaimana tradisi bisa bertahan selama tetap memiliki arti sosialbagi komunitas.
Dalam hal arsitek Ratna Puspita Dewi menjelaskan bahwa ruang baluarti dikecirebonan mencerminkan kombinasi modern. Namun , mereka mengkeritikbahwa program pelestarianyang ada saat ini kurang melibatkan masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan. Dari sudut pandang antropologi , arsitektur keraton tidak hanya sekedar struktur fisik, tetapi sebagai symbol dari identitas dan tatanan sosial, sehingga partisipasi masyarakat sangat penting,
Selanjutnya ruang seni dan budaya di keraton kecirebonan termasuk area untuk latihan tari topeng mencerminkan nilai kemanusiaan dan kearifan lokal, mereka berpendapat bahwa moderenisasi tidak secara otomatis menghilangkan tradisi , melainkan memberikan kesempatan agar nilai nilai lokal tetap hidup selama terus di peraktikan .
Dalam tradisi kerajinan batik agus nursalim dan bandi sobandi menyoroti cara pemulihan batik keraton melalui penelusuran motf sejarah , rekontruksi dan penggabungan elemen budaya dengan inovasi modern. Mereka menekankan bahwa relevansi batik keraton di zaman sekarang bisa tetap terjaga jika ada konteks penggabungan budaya, bukan hanya sekedar pengulangan motif masalalu.
Aspek spiritual juga menegaskan peran penting keraton kecirebonan. Dasti, Ubaidillah, dan Kaerul menunjukan bahwa tarekat syattariah masih memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam komunitas kraton, tradisi spiritual suffi tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan , tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang memperkuat solidarutas dan kebersamaan diantara anggota masyarakat.
Secara keseluruhan, temuan tersebut menunjukan bahwa pelestarian di keraton kecirebonan memiliki banyak dimensi yang meliputi seni pertunjukan, kerajinan, arsitektur, praktik spiritual, pariwisata budaya, dan regenerasi sosial. Ditengah perkembangan modern, generasi muda memiliki peran krusial dalam merawat dan melestarikan tradisi, seperti tari topeng, batik, festival, dan berbagai kegiatan budaya lainnya menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya diwariskan secara pasif, tetapi diciptakan kembali melalui kreatifitas dan partisipasi aktif.
Rendahnya keterlibatan masyarakat setempat dalam upaya menjaga Keraton Kacirebonan dipengaruhi oleh beberapa faktor penting berikut:
Keterbatasan Pengetahuan dan Pendidikan: Minimnya sosialisasi tentang nilai sejarah dan status Cagar Budaya membuat banyak orang menganggap keraton hanya sekadar bangunan tua, bukan sebagai warisan yang perlu dilestarikan bersama.

Faktor Keuangan: Masyarakat lebih memilih aktivitas ekonomi yang memberikan keuntungan langsung secara finansial. Jika pelestarian budaya tidak terlihat berdampak positif secara ekonomi bagi mereka, keinginan untuk berpartisipasi aktif pun akan berkurang.
Minimnya Pemberdayaan Komunitas: Walaupun ada peluang pengembangan Kampung Wisata Kacirebonan, keterlibatan masyarakat setempat dalam proyek-proyek strategis seringkali terbatas pada fungsi pendukung, bukan sebagai pengelola atau pengambil keputusan utama
Modernisasi dan Perubahan Gaya Hidup: Pergeseran budaya di era modern membuat generasi muda di sekitar keraton lebih tertarik dengan budaya global daripada mempelajari tradisi lokal, sehingga terjadi perpisahan antara nilai-nilai keraton dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Masalah Infrastruktur dan Aksesibilitas: Penurunan kondisi fisik bangunan tua dan lingkungan sekitar keraton dapat mengurangi daya tarik lokasi tersebut bagi masyarakat setempat untuk berkunjung atau terlibat dalam kegiatan pelestarian.
Namun , pariwisata budaya juga memunculkan tantangan tersendiri, di satu sisi, wisata membuka akses public untuk menikmati kekayaan tradisioanal keraton. Namun, disis lainya komersialisasi yang berlebihan beresiko mengubah makna sakral tradisi. Oleh karena itu, upaya pelestarian budaya harus memperhatikan nilai simbolik dan pemaknaan sosial, bukan hanya aspek fisik dan pertunjukan yang terlihat.
Pada akhirnya, interaksi antar budaya di keraton kecirebonan menunjukan bahwa suatu tradisi akan mampu bertahan jika di berikan ruang untuk berkembang bersamaan dengan zaman tanpa kehilangan nilai nilai fundamental. Mempertahankan budaya tidak hanya sebatas menjaga unsur fisik atau menyelenggarakan acara formal, tetapi juga memastikan bahwa makna simbolis pengalaman spiritual dan identitas sosial yang terkandung didalamnya tetap relevan bagi masyarakat yang mendukungnya. Oleh karena itu, keberhasilan dalam memelihara budaya tidak hanya di ukur dari banyaknya tradisi yang tapil dihadapan public, melainkan seberapa jauh tradisi tersebut terintegrasi dalam kehidupan generasi sekarang. Dengan terjalinya kerja sama yang baik antar keraton, pemerintah, masyarakat, dan khususnya generasi muda, kertonkecirebonan dapat menjadi contoh nyata bahwa tradisi bukan hanya sekedar warisan masalalu saja, tetapi juga dasar yang membentuk masa depan







