ISU KESEHATAN MENTAL DI KALANGAN MASYARAKAT
Elsa Aulia Azzahra
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Falah
Di tengah kesibukan, hiruk pikuk dan tekanan kehidupan di era modern ini, tanpa disadari banyak individu merasakan guncangan terhadap kestabilan mentalnya. Kesehatan mental merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan dalam kehidupan manusia, Namun sayang, ketika kita terjun langsung di kalangan masyarakat, hal ini jarang mendapatkan perhatian, mereka masih beranggapan bahwa isu-isu mental hanyalah tanda kelemahan pribadi dan bukanlah hal yang serius.
Belum lama ini Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperkirakan sekitar 30 % dari penduduk Indonesia diperkirakan mengalami gangguan kesehatan mental. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental masih tergolong rendah. Banyak dari mereka lebih memilih menutupi perasaannya karena takut dengan pandangan orang-orang yang beranggapan bahwa orang dengan gangguan mental adalah orang tidak normal. Dengan munculnya perspektif seperti itu, penderita semakin enggan untuk mencari bantuan, entah itu bantuan profesional maupun orang terdekat, sehingga kondisinya semakin memburuk. Dikutip dari beberapa sumber, banyak faktor sosial yang memengaruhi, seperti :
- Tekanan ekonomi dan sosial : Termasuk gaya hidup serba cepat dan tuntutan sosial media. Kondisi ekonomi yang tidak stabil, sulitnya mencari pekerjaan, serta biaya hidup yang tinggi menjadi faktor utama yang menambah tekanan.
- Pengaruh media sosial : Terlalu fokus memantau kehidupan maya juga tidak baik. Media sosial membuat generasi muda khususnya, lebih mudah membandingkan diri dengan orang lain. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) mendorong rasa cemas karena merasa tertinggal dari pencapaian orang lain. Padahal, apa yang terlihat di media sosial sering kali hanya potret terbaik yang sudah dikurasi.
- Tuntutan pekerjaan : Pola kerja yang padat, jam kerja panjang, serta tekanan untuk selalu produktif membuat banyak orang kehilangan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Fenomena ini sering disebut sebagai work-life imbalance. Banyak pekerja yang mengalami stres berkepanjangan, kelelahan mental (burnout), hingga kehilangan motivasi dalam bekerja. Perusahaan dan lembaga kerja perlu memperhatikan kesejahteraan mental karyawannya.
- Adanya stigma (orang yang konsultasi psikolog dianggap “gila” atau “lemah”) : Banyak orang masih berpikir bahwa mendatangi psikolog atau psikiater berarti dirinya “gila”, “lemah”, atau tidak beriman. Pandangan seperti ini membuat individu yang sedang berjuang dengan tekanan batin memilih untuk diam dan menanggung semuanya sendiri. Padahal, berkonsultasi dengan tenaga profesional bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
- Kurangnya edukasi tentang kesehatan mental di keluarga dan sekolah : Di lingkungan keluarga, pembahasan tentang perasaan, stres, atau kecemasan sering dianggap tidak penting, bahkan cenderung dihindari. Akibatnya, anak-anak tumbuh tanpa kemampuan untuk mengekspresikan emosi dengan sehat. Sementara itu, di sekolah, pelajaran mengenai kesehatan mental masih sangat minim. Fokus pendidikan lebih banyak pada pencapaian akademik dibandingkan kesejahteraan emosional siswa.
- Minimnya akses layanan psikologis di daerah-daerah : Sebagian besar layanan psikologi dan psikiatri masih terpusat di kota-kota besar, sedangkan masyarakat di daerah terpencil kesulitan menjangkau tenaga profesional. Kalaupun ada layanan yang tersedia, biayanya sering kali tidak terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pemerintah perlu memperluas jangkauan layanan psikologis hingga ke tingkat puskesmas dan fasilitas kesehatan desa, agar setiap lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan dukungan mental yang layak.
Kurangnya edukasi mengenai kesehatan mental ini juga menjadi PR bukan hanya bagi lingkungan sekolah maupun lingkungan keluarga, tetapi juga dibutuhkan peran aktif semua pihak termasuk masyarakat dan pemerintah untuk mendukung kesejahteraan dan kesehatan mental masyarakatnya. Selain dari itu, akan ada dampak yang timbul dari turunnya kesehatan mental individu, antara lain :
- Gangguan konsentrasi, produktivitas menurun, sulit tidur, mudah marah, bahkan bisa memengaruhi hubungan sosial.
- Bisa berujung ke burnout, depresi, atau keinginan menyakiti diri jika tidak ditangani.
- Juga berdampak pada ekonomi (orang yang mengalami gangguan mental sering absen kerja, menurunkan performa).
Namun, disisi lain media digital juga menjadi harapan baru dan dapat menjadi wadah bagi individu untuk berbagi pengalaman dan mendukung satu sama lain. Saat ini juga semakin banyak kampanye publik dan layanan konseling yang mengajak masyarakat untuk lebih terbuka terhadap isu mental. Untuk lebih memaksimalkan dengan apa yang sudah berjalan, kita juga dapat menerapkan beberapa solusi
- Edukasi publik melalui sekolah, media, dan komunitas.
Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, serta membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjaga kesehatan mental dan mencari bantuan ketika dibutuhkan. Pendidikan yang terintegrasi, menggabungkan materi kesehatan mental ke dalam kurikulum dapat membantu siswa mengenali gejala gangguan mental dan strategi penanganannya. Penyebaran informasi dan sumber daya media dapat menjadi alat untuk menyebarkan informasi tentang layanan dukungan dan sumber daya yang tersedia untuk mereka yang membutuhkan. Komunitas, baik di lingkungan sekitar maupun secara daring, memberikan dukungan sosial yang krusial untuk kesehatan mental.
- Normalisasi konsultasi psikolog/psikiater bukan hal memalukan).
Normalisasi konsultasi dengan psikolog atau psikiater sebagai solusi untuk isu kesehatan mental adalah langkah yang sangat penting. Perlu dipahami bahwa mencari bantuan profesional bukanlah hal yang memalukan, melainkan tindakan proaktif dan bertanggung jawab untuk menjaga kesejahteraan diri, sama seperti saat berobat ke dokter untuk masalah kesehatan fisik.
- Meningkatkan peran keluarga dan teman untuk saling mendukung secara emosional.
Keluarga adalah sistem pendukung utama yang memberikan rasa aman, kasih sayang, dan penerimaan. Saat seseorang menghadapi tekanan, stres, atau masalah psikologis, keluarga menjadi tempat pertama untuk mencari dukungan. Tanpa adanya peran aktif keluarga, masalah kesehatan mental dapat semakin memburuk dan berdampak pada hubungan maupun fungsi sosial anggota rumah. Dukungan teman juga adalah proses dua arah yang membutuhkan upaya dan saling pengertian dan menerima satu sama lain. Menurut berbagai penelitian, koneksi sosial yang kuat berkaitan dengan hasil kesehatan mental yang lebih baik dan peningkatan ketahanan dalam menghadapi kesulitan.
- Pemerintah memperluas layanan kesehatan mental di puskesmas dan fasilitas publik.
Pemerintah Indonesia berupaya memperluas dan mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke dalam sistem kesehatan primer di puskesmas dan fasilitas publik lainnya. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mental yang terjangkau, mudah dijangkau, dan berkualitas. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menargetkan integrasi layanan kesehatan jiwa ke dalam layanan primer. Langkah ini melibatkan deteksi dini, kolaborasi dengan psikolog dan psikiater, hingga pelayanan kunjungan rumah (home visit) untuk kasus-kasus tertentu. Penanganan kesehatan mental tidak hanya terbatas pada sektor kesehatan, tetapi juga melibatkan institusi lain seperti panti sosial, pusat rehabilitasi, dan fasilitas berbasis keagamaan, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Beberapa daerah memanfaatkan teknologi untuk mempermudah akses edukasi kesehatan mental. Contohnya adalah ASIST, sebuah inovasi dari Kemendagri yang menyediakan edukasi kesehatan mental yang mudah diakses.
Meskipun ada kemajuan, integrasi layanan kesehatan mental masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk keterbatasan ketersediaan obat dan sistem pelaporan yang belum seragam di semua wilayah. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan strategi penguatan. Secara keseluruhan, inisiatif pemerintah untuk memperluas layanan kesehatan mental di puskesmas dan fasilitas publik merupakan langkah positif untuk mengatasi isu kesehatan mental. Namun, diperlukan upaya berkelanjutan dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk memastikan implementasinya berjalan efektif dan optimal.
Menjaga kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab bersama sebagai anggota masyarakat. Masalah kesehatan mental bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa seseorang sedang membutuhkan dukungan dan empati. Masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap isu ini dengan lebih terbuka dan penuh pengertian. Dengan saling peduli dan menciptakan lingkungan yang aman secara emosional, kita dapat membantu sesama untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih tenang, kuat, dan bahagia.









