JEJAK PENGABDIAN ALM. ADI BERMASA: PERS, KERUKUNAN, DAN DEMOKRASI
Oleh: Duski Samad
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumatera Barat
Jagad medsos dipenuhi ucapan dukacita atas wafat almarhum H. Adi Bersama, tokoh lintas gerakan dan pemikiran, Sabtu, 13 Juni 2026 pukul 18.00 dan sudah dikebumikan hari Ahad di pandam pekuburannya di Payakumbuh.
Wafatnya Alm. Adi Bersama meninggalkan duka mendalam bagi banyak kalangan di Sumatera Barat. Bagi sebagian orang, beliau dikenal sebagai wartawan senior. Bagi yang lain, beliau adalah pegiat kerukunan, aktivis sosial, penggerak masjid, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), sekaligus tokoh yang ikut mengawal demokrasi pada masa-masa awal reformasi. Namun bagi siapa saja yang pernah berinteraksi dengannya, satu hal yang paling mudah dikenang adalah sikapnya yang kritis tetapi santun.
Dalam perjalanan hidupnya, Adi Bersama tidak hanya hadir sebagai pengamat peristiwa, tetapi juga pelaku sejarah yang terlibat langsung dalam berbagai proses penting pembangunan sosial, keagamaan, dan demokrasi di Sumatera Barat.
Dari Dunia Pers Menuju Ruang Pengabdian Publik
Jejak pengabdian Adi Bersama bermula dari dunia informasi dan komunikasi. Beliau pernah aktif sebagai pegiat warta dan hubungan masyarakat di Departemen Agama. Pengalaman tersebut membentuk kemampuannya memahami komunikasi publik, hubungan antarlembaga, dan dinamika masyarakat.
Selanjutnya beliau terjun ke dunia jurnalistik. Namanya dikenal sebagai wartawan Harian Singgalang, salah satu media terbesar di Sumatera Barat. Tidak berhenti di situ, beliau ikut mendirikan Koran Padang dan aktif menulis di berbagai media massa, termasuk Kompas dan sejumlah surat kabar lainnya.
Bagi Adi Bersama, pers bukan sekadar profesi, melainkan instrumen pendidikan masyarakat. Melalui tulisan, ia berusaha menyampaikan informasi, mengkritisi kebijakan, sekaligus membangun kesadaran publik. Karena itu, tulisan-tulisannya selalu memiliki pijakan moral dan kepedulian sosial yang kuat.
Aktor Kerukunan Sejak Awal Berdirinya FKUB
Ketika pemerintah menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama serta Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Adi Bersama termasuk tokoh yang aktif mengawal implementasinya di Sumatera Barat.
Sejak awal berdirinya FKUB, beliau terlibat dalam berbagai dialog, mediasi, dan kegiatan penguatan kerukunan. Dalam berbagai pertemuan, beliau selalu menekankan bahwa kerukunan bukan hanya urusan agama, melainkan fondasi pembangunan daerah.
Beliau memahami bahwa masyarakat Sumatera Barat memiliki modal sosial yang besar berupa budaya musyawarah, nilai adat, dan semangat kebersamaan. Karena itu, kerukunan harus terus dirawat melalui komunikasi yang terbuka dan saling menghormati.
Dalam banyak kesempatan, beliau tampil sebagai jembatan yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat. Ia percaya bahwa perbedaan tidak harus melahirkan konflik, tetapi dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik.
Mengawal Demokrasi pada Masa Reformasi
Perjalanan reformasi membuka babak baru demokrasi Indonesia. Pada masa awal pelaksanaan pemilihan langsung pasca reformasi, Adi Bersama mendapat amanah sebagai Ketua Pengawas Pemilu (Bawaslu) di daerah.
Tugas tersebut tentu tidak ringan. Demokrasi Indonesia saat itu sedang belajar menjalankan sistem baru yang menuntut transparansi, keadilan, dan partisipasi publik yang luas.
Dalam posisi tersebut, Adi Bersama dikenal sebagai sosok yang tegas namun tetap menjunjung etika. Ia berupaya memastikan proses demokrasi berjalan sesuai aturan tanpa kehilangan semangat persatuan. Baginya, demokrasi bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi juga menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem politik yang sedang dibangun.
Aktif di MUI dan Dewan Masjid Indonesia
Sejak sekitar tahun 2005, setahu penulis, beliau aktif sebagai pengurus MUI Sumatera Barat. Di lembaga ini, Adi Bersama memberikan kontribusi pemikiran dalam berbagai persoalan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Selain itu, beliau juga dikenal sebagai penggerak masjid. Sejak awal tahun 2000-an, beliau aktif di Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sumatera Barat. Perhatian beliau terhadap masjid tidak hanya pada aspek fisik bangunan, tetapi juga pada fungsi masjid sebagai pusat pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, dan pembinaan umat.
Bagi beliau, masjid adalah pusat peradaban yang harus hidup sepanjang waktu. Karena itu, berbagai program pemberdayaan jamaah dan penguatan manajemen masjid selalu menjadi perhatian utamanya.
Pengabdian di Bidang Kesejahteraan Sosial
Pada masa pemerintahan Gubernur Irwan Prayitno, Adi Bersama juga aktif dalam Badan Kesejahteraan Sosial (BKS). Keterlibatannya menunjukkan bahwa ruang pengabdiannya tidak terbatas pada bidang pers dan keagamaan semata, tetapi juga menyentuh aspek kesejahteraan masyarakat.
Beliau memahami bahwa pembangunan yang baik harus memperhatikan kelompok rentan dan masyarakat yang membutuhkan. Karena itu, kepedulian sosial selalu menjadi bagian penting dari aktivitasnya.
Pekerja Keras, Cerdas, Santun, dan Humoris
Dalam pengalaman pribadi penulis berinteraksi dengan Alm. Adi Bersama selama bertahun-tahun di berbagai forum keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan, beliau adalah sosok yang memadukan empat karakter penting sekaligus: pekerja keras, cerdas, santun, dan humoris.
Beliau dikenal sebagai pribadi yang tidak pernah berhenti bekerja. Hampir setiap kegiatan yang melibatkan kepentingan umat, kerukunan, masjid, media, maupun organisasi sosial selalu mendapat perhatian dan kontribusinya. Kesibukan yang padat tidak membuatnya kehilangan semangat untuk hadir, berdiskusi, dan memberikan solusi.
Kecerdasannya tampak dari kemampuannya membaca persoalan secara komprehensif. Sebagai insan pers yang lama bergelut dengan informasi dan dinamika sosial, beliau mampu melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Karena itu, pendapat dan masukannya sering menjadi bahan pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan di berbagai lembaga.
Namun kecerdasan itu tidak pernah menjadikannya arogan. Beliau tetap tampil santun dalam berbicara, menghargai perbedaan pendapat, dan menjaga etika pergaulan. Bahkan ketika mengkritik, beliau melakukannya dengan bahasa yang sejuk dan argumentasi yang kuat sehingga tidak menimbulkan luka ataupun permusuhan.
Yang tidak kalah berkesan adalah sisi humorisnya. Dalam berbagai pertemuan, beliau sering mencairkan suasana dengan gurauan-gurauan ringan yang cerdas dan penuh makna. Humor yang beliau sampaikan bukan sekadar untuk mengundang tawa, tetapi juga menjadi cara untuk mempererat persahabatan dan menghilangkan ketegangan dalam diskusi. Karena itulah kehadirannya selalu dirindukan, bukan hanya karena pemikiran dan pengabdiannya, tetapi juga karena kehangatan kepribadiannya.
Bagi penulis, kombinasi antara kerja keras, kecerdasan, kesantunan, dan rasa humor itulah yang membuat Alm. Adi Bersama diterima oleh berbagai kalangan. Beliau mampu menjadi sahabat bagi banyak orang, sekaligus menjadi penghubung yang menjembatani beragam perbedaan demi kemaslahatan bersama.
Kritis tetapi Santun
Salah satu karakter yang paling menonjol dari Adi Bersama adalah kemampuannya menyampaikan kritik secara elegan. Ia tidak pernah kehilangan keberanian untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga tidak menjadikan kritik sebagai sarana permusuhan.
Dalam dunia yang semakin dipenuhi polarisasi, sikap seperti ini menjadi teladan yang berharga. Beliau menunjukkan bahwa perbedaan pandangan tidak harus merusak persaudaraan.
Kritik baginya adalah bentuk kecintaan terhadap institusi, masyarakat, dan daerah yang ingin terus diperbaiki.
Dua Pituah yang Terus Teringat
Di antara banyak nasihat yang pernah beliau sampaikan, ada dua pituah yang hingga kini terus terngiang dalam ingatan penulis.
Pertama:
“Ulama dan tokoh itu mesti baik silaturahim dengan pejabat. Jika hubungan rusak, umat yang rugi.”
Nasihat ini mengandung hikmah yang sangat dalam. Beliau mengingatkan bahwa komunikasi antara ulama, tokoh masyarakat, dan pemerintah harus selalu dijaga. Hubungan yang baik bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi kemaslahatan masyarakat luas.
Kedua:
“Belajarlah cara Buya Datuk Palimo Kayo dan Gubernur Azwar Anas.”
Melalui ungkapan ini, beliau mengajarkan pentingnya sinergi antara kekuatan moral dan kekuatan pemerintahan. Hubungan harmonis antara ulama dan umara menjadi modal penting dalam membangun daerah serta menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
Penutup
Alm. Adi Bermasa telah menapaki jalan pengabdian yang panjang. Dari dunia pers, kerukunan umat beragama, pengawasan pemilu, organisasi keulamaan, penggerakan masjid, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan, semuanya dijalani dengan penuh dedikasi.
Beliau mungkin telah berpulang, tetapi jejak yang ditinggalkannya tetap hidup dalam ingatan banyak orang. Ia mengajarkan bahwa pengabdian tidak selalu harus dilakukan dari panggung besar. Terkadang, pengaruh terbesar justru lahir dari ketekunan bekerja, kesediaan menjembatani perbedaan, dan kemampuan menjaga persahabatan di tengah perbedaan pandangan.
Bagi penulis, Adi Bersama bukan hanya seorang wartawan, aktivis sosial, atau tokoh kerukunan. Beliau adalah sahabat seperjuangan yang memperlihatkan bahwa kecerdasan harus disertai kerendahan hati, kritik harus dibingkai dengan etika, dan pengabdian harus dijalankan dengan ketulusan.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal pengabdiannya, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan kuburnya, menjadikannya bagian dari hamba-hamba yang saleh, serta menempatkannya bersama para syuhada, shiddiqin, dan orang-orang yang mendapat rahmat-Nya.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Al-Fātiḥah.
