Ketika Anak Pintar Justru Tidak Bahagia: Mengkritisi Budaya Toxic Achievement di Sekolah Indonesia
Oleh:
Asep Aziz Fauzi
Mahasiswa Doktoral Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia
Di banyak sekolah, anak yang pintar sering kali dipuji, tetapi jarang ditanya apakah ia bahagia. Fenomena toxic achievement, budaya yang menilai keberhasilan siswa hanya dari nilai, ranking, dan piala, telah menjangkiti sistem pendidikan Indonesia secara halus namun menyakitkan. Di tengah sorak kemenangan lomba akademik dan kebanggaan orang tua di media sosial, ada sisi gelap yang jarang disorot, anak-anak berprestasi yang hidup dalam tekanan, kehilangan makna belajar, dan tersesat dalam rasa takut gagal.
Fenomena ini semakin relevan ketika riset terbaru OECD PISA 2023 menunjukkan bahwa lebih dari separuh siswa di Indonesia mengalami kecemasan akademik tinggi. Mereka bukan takut belajar, melainkan takut tidak sempurna. Di balik nilai 100 yang dipamerkan, tersembunyi jam tidur yang hilang, air mata di meja belajar, dan perasaan tidak pernah cukup baik.
Budaya toxic achievement tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kombinasi antara ambisi sosial, sistem pendidikan yang kompetitif, dan harapan orang tua yang tanpa disadari menjadi beban psikologis bagi anak. Sekolah, alih-alih menjadi taman belajar, justru berubah menjadi arena kompetisi yang mengikis empati dan rasa ingin tahu.
Pertanyaannya, mengapa sekolah yang seharusnya menjadi tempat anak menemukan jati diri, kini justru menjadi sumber tekanan? Mengapa kita masih mengukur keberhasilan dengan angka di rapor, bukan dengan senyum di wajah anak?
- Akar Masalah: Prestasi yang Salah Makna
Di Indonesia, konsep berprestasi sering disempitkan menjadi soal nilai dan penghargaan formal. Anak yang nilainya tinggi dianggap cerdas, sementara yang nilainya rendah dicap malas atau bodoh. Padahal, seperti dikemukakan Howard Gardner (1983) melalui teori Multiple Intelligences, kecerdasan manusia bersifat majemuk, ada kecerdasan linguistik, musikal, interpersonal, hingga kinestetik.
Namun, sistem pendidikan kita belum sepenuhnya menghargai keragaman tersebut. Sekolah masih fokus pada ujian tulis, ranking kelas, dan lomba akademik. Orang tua pun ikut terjebak dalam logika yang sama, semakin banyak sertifikat, semakin membanggakan. Akibatnya, anak-anak belajar bukan karena ingin tahu, tetapi karena takut mengecewakan.
Menurut Deci & Ryan (2000) dalam Self-Determination Theory, tekanan eksternal seperti harapan orang tua atau penghargaan sosial justru menurunkan motivasi intrinsik dan kebahagiaan belajar. Anak yang hanya mengejar pujian cenderung mengalami stres dan kehilangan rasa cinta terhadap proses belajar itu sendiri. Mereka tidak lagi bertanya “mengapa?”, tetapi hanya “berapa nilainya?”
- Sekolah Sebagai Pabrik Nilai
Sekolah modern seharusnya menjadi tempat yang memerdekakan pikiran dan jiwa, namun kenyataannya, banyak sekolah di Indonesia masih berfungsi sebagai pabrik nilai. Setiap semester, siswa dinilai berdasarkan angka, bukan potensi. Guru dipaksa mengejar target kurikulum yang kaku, sementara kreativitas dan empati sering kali dianggap tidak produktif.
Dalam praktiknya, banyak siswa menghabiskan lebih dari delapan jam di sekolah, ditambah les privat di luar jam belajar. Mereka kehilangan waktu untuk bermain, berimajinasi, atau sekadar istirahat. Ketika dunia anak seharusnya dipenuhi eksplorasi, mereka justru dikurung dalam jadwal tanpa henti.
Fenomena ini bukan sekadar isu individu, tetapi cerminan sistemik. Bahkan sekolah yang berlabel unggulan pun sering menjadikan beban akademik tinggi sebagai tolok ukur kualitas. Guru bangga ketika muridnya menang olimpiade, namun tidak semua bertanya, berapa banyak murid yang diam-diam menangis karena takut gagal?
Temuan Indonesian Journal of Educational Psychology (2021) memperkuat hal ini: 42% siswa SMA di kota besar mengalami stres akademik berat, dengan 60% merasa tidak cukup baik meski berprestasi. Angka ini menunjukkan bahwa krisis kebahagiaan anak sudah nyata di depan mata.
- Dampak Psikologis: Anak Pintar yang Tidak Bahagia
Fenomena anak pintar yang tidak bahagia bukanlah paradoks, melainkan realitas yang kian sering ditemui di berbagai jenjang pendidikan. Banyak siswa berprestasi yang tampak unggul di atas kertas, namun di balik nilai sempurna itu tersembunyi kecemasan kronis, insomnia, bahkan rasa hampa. Menurut hasil riset dari American Psychological Association (APA, 2020), tekanan akademik yang berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan hingga 34% pada remaja usia sekolah. Di Indonesia, survei Kementerian Kesehatan tahun 2023 menunjukkan bahwa 1 dari 3 pelajar SMP dan SMA mengalami gejala stres akademik sedang hingga berat.
Lebih jauh, budaya toxic achievement menanamkan pola pikir bahwa harga diri seseorang ditentukan oleh prestasinya. Anak-anak mulai kehilangan makna intrinsik dari belajar, mereka belajar bukan karena ingin tahu, tetapi karena takut gagal. Kondisi ini sesuai dengan teori self-determination dari Deci dan Ryan (2000), yang menjelaskan bahwa motivasi yang lahir dari tekanan eksternal justru mengikis kesejahteraan psikologis seseorang. Akibatnya, siswa mungkin mencapai nilai tinggi, tetapi tidak merasakan kebahagiaan sejati dalam prosesnya.
Selain itu, anak yang terus dituntut berprestasi sering kali kehilangan kesempatan untuk membangun emotional resilience. Mereka terbiasa dengan pujian dan validasi eksternal, sehingga ketika menghadapi kegagalan pertama, muncul rasa tidak berdaya dan krisis identitas. Dalam konteks ini, kebahagiaan menjadi rapuh, karena ditopang oleh pencapaian, bukan penerimaan diri.
Kondisi tersebut diperparah oleh peran media sosial yang memperkuat budaya perbandingan. Anak-anak yang berprestasi akademik merasa harus mempertahankan citra sempurna di dunia maya, menambah tekanan psikologis yang sudah tinggi. Di beberapa sekolah unggulan di kota besar seperti Jakarta, fenomena academic burnout mulai dianggap lumrah. Siswa kelas 9 atau 12 sering kali mengikuti les hingga larut malam, dengan jadwal yang nyaris tanpa ruang untuk rekreasi atau istirahat emosional.
Padahal, dalam perspektif psikologi perkembangan, masa anak dan remaja adalah periode penting untuk membangun keseimbangan antara achievement (pencapaian) dan well-being (kesejahteraan). Ketika keseimbangan ini hilang, risiko gangguan seperti anxiety disorder, depresi ringan, bahkan perilaku perfeksionis ekstrem dapat muncul. Anak bisa menjadi “pintar di luar, tetapi rapuh di dalam.”
Dalam pandangan Islam, keseimbangan antara ilmu dan kebahagiaan batin juga menjadi pesan penting. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ilmu itu akan menjadi bencana bagi pemiliknya bila tidak disertai dengan ketenangan hati dan niat yang ikhlas.” (HR. Ahmad). Hadis ini mengingatkan bahwa pencapaian tanpa kedamaian batin bukanlah keberhasilan sejati. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual (IQ), tetapi juga kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ).
Dengan demikian, dampak psikologis dari budaya “toxic achievement” tidak boleh dianggap sepele. Ia mengikis rasa percaya diri anak, menurunkan kesehatan mental, dan menjauhkan mereka dari makna sejati pendidikan, yaitu kebahagiaan dalam mencari ilmu.
- Perspektif Nilai dan Spiritualitas, Belajar Bukan Sekadar Lomba
Dalam pandangan Islam, ilmu bukanlah sekadar alat untuk meraih status, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Artinya, ilmu sejati adalah yang membawa keberkahan, bukan beban.
Namun, ketika ilmu dijadikan alat kompetisi, nilai spiritual pendidikan hilang. Anak diajarkan untuk menang, bukan untuk bermanfaat. Padahal dalam QS. Al-Mujadilah [58]:11, Allah menegaskan bahwa “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Ayat ini menekankan dua hal penting: iman dan ilmu harus berjalan seimbang. Pendidikan yang memisahkan keduanya akan kehilangan arah, melahirkan anak pintar, tetapi tidak bahagia. Sebaliknya, pendidikan yang menanamkan nilai iman dan kasih sayang akan melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berakhlak.
- Kurikulum Merdeka Sebagai Harapan yang Masih Tertunda
Kementerian Pendidikan memperkenalkan Kurikulum Merdeka sebagai upaya membebaskan siswa dari tekanan akademik yang berlebihan. Konsep “Merdeka Belajar” menekankan kebebasan untuk bereksplorasi dan belajar sesuai minat.
Namun dalam praktiknya, banyak sekolah masih menerapkan sistem lama dengan wajah baru. Penilaian tetap didominasi angka, guru masih terbebani administrasi, dan orientasi sekolah masih pada prestasi kuantitatif.
Meski demikian, Kurikulum Merdeka menyimpan potensi besar jika diterapkan secara konsisten. Proyek Profil Pelajar Pancasila, dengan fokus pada nilai beriman, bernalar kritis, dan gotong royong, bisa menjadi jalan keluar dari budaya toxic achievement.
Yang dibutuhkan sekarang bukan hanya kurikulum baru, tetapi mentalitas baru: bahwa setiap anak berharga bukan karena nilainya, tetapi karena kemanusiaannya. Jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, Kurikulum Merdeka dapat menjadi fondasi pendidikan yang lebih empatik dan seimbang.
- Jalan Keluar untuk Menumbuhkan Ekosistem Pendidikan yang Sehat
Menghapus budaya toxic achievement tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah.
Pertama, sekolah harus meninjau ulang sistem evaluasi. Penilaian harus menekankan proses, bukan hasil. Umpan balik yang mendukung, proyek kolaboratif, dan pembelajaran berbasis minat dapat menggantikan ujian standar yang menakutkan.
Kedua, guru perlu dibekali literasi psikologis. Mereka harus mampu mengenali tanda-tanda stres pada siswa dan menciptakan ruang aman untuk berdialog.
Ketiga, orang tua perlu belajar melepaskan. Mereka harus memahami bahwa anak bukan proyek kebanggaan, melainkan manusia dengan hak untuk bahagia. Dukungan emosional jauh lebih penting daripada piala.
Keempat, pemerintah perlu memperkuat layanan kesehatan mental di sekolah. Setiap lembaga pendidikan idealnya memiliki konselor atau psikolog yang dapat membantu siswa mengelola stres dan kecemasan.
Selain itu, media massa dan masyarakat luas juga perlu berhenti mengagungkan anak berprestasi semata dari ranking. Penghargaan publik perlu diberikan pula kepada anak-anak yang menunjukkan ketekunan, empati sosial, atau semangat berbagi. Dengan begitu, kita membentuk budaya baru, di mana keberhasilan diukur dari karakter, bukan semata angka.
Penutup
Budaya toxic achievement telah membuat banyak anak kehilangan masa kecil dan kebahagiaan. Mereka tumbuh dalam tekanan untuk menjadi yang terbaik, tanpa pernah diberi ruang untuk menjadi diri sendiri. Kita perlu berhenti menilai keberhasilan anak hanya dari nilai dan ranking. Pendidikan sejati bukan tentang siapa yang tercepat mencapai garis akhir, tetapi siapa yang tetap jujur, bersemangat, dan bahagia sepanjang perjalanan. Sekolah dan orang tua harus meninjau ulang arti berprestasi. Prestasi bukan hanya angka di rapor, tetapi kemampuan untuk berpikir kritis, berempati, dan menghargai proses. Kurikulum Merdeka memberi peluang besar untuk itu, asal dijalankan dengan hati, bukan sekadar kebijakan.
Karena sejatinya, anak yang bahagia akan belajar lebih baik, berpikir lebih jernih, dan tumbuh menjadi manusia yang lebih utuh. Dan bukankah itu tujuan tertinggi pendidikan, bukan sekadar mencetak juara, tetapi membentuk manusia yang berbahagia, berkarakter, dan bermanfaat bagi sesamanya?





