KITAB DAN KARYA ULAMA PERTI AWAL
(Kekuatan Tradisi Literasi, Keilmuan, dan Peradaban)
Oleh: Duski Samad
Disarikan Dari Halaqah Digital Perti Selasa, 30 Juni 2026 narsum Apria Putra Dosen UIN Bukittinggi
Salah satu kekuatan utama ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) pada masa awal berdirinya terletak pada tradisi membaca, berdiskusi, dan menulis. Ulama PERTI tidak hanya dikenal sebagai pengajar kitab kuning di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), tetapi juga sebagai penulis produktif yang menghasilkan puluhan kitab dalam berbagai disiplin ilmu Islam. Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa tradisi keilmuan PERTI tumbuh dari perpaduan antara penguasaan turats, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian terhadap kebutuhan umat.
Keberadaan manuskrip Minhaj al-Thalibin peninggalan Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka memperlihatkan tingginya perhatian ulama PERTI terhadap pengkajian kitab turats. Manuskrip yang dipenuhi catatan pinggir (hasyiyah), syarah, dan penjelasan menunjukkan bahwa proses belajar tidak berhenti pada membaca, tetapi dilanjutkan dengan analisis, dialog, dan pengembangan pemikiran. Manuskrip seperti ini sekaligus menjadi bukti adanya sanad keilmuan yang menghubungkan ulama PERTI dengan jaringan ulama Nusantara hingga Timur Tengah.
1. Standar Keilmuan Guru MTI
Guru-guru MTI memiliki standar keilmuan yang tinggi karena diwajibkan menguasai kitab-kitab induk Mazhab Syafi’i, ilmu alat, tafsir, hadis, ushul fiqh, balaghah, mantiq, tasawuf, dan berbagai cabang ilmu lainnya. Penguasaan kitab tidak sekadar membaca teks, tetapi juga memahami syarah, hasyiyah, serta mampu melakukan istidlal terhadap persoalan-persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Standar tersebut melahirkan guru yang memiliki otoritas ilmiah sekaligus mampu membimbing santri menjadi calon ulama.
2. Literasi Santri sebagai Persiapan Menjadi Ulama
Tradisi literasi menjadi bagian penting dalam pendidikan MTI. Santri dibiasakan menyalin kitab, memberi makna gandul, membuat ringkasan, menyusun catatan, hingga menulis risalah sederhana. Kebiasaan ini membentuk kemampuan membaca secara mendalam sekaligus melatih keterampilan menulis ilmiah sejak dini.
Karena itu, setelah menjadi guru atau ulama, mereka telah memiliki bekal intelektual untuk menghasilkan karya tulis yang bermanfaat bagi masyarakat.
3. Forum Diskusi dan Istidlal
Budaya mubahatsah, munazarah, dan forum istidlal menjadi laboratorium intelektual ulama PERTI. Dalam forum tersebut, santri dan guru menguji argumentasi berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, qiyas, serta pendapat ulama mazhab.
Tradisi diskusi ini melahirkan kemampuan berpikir logis, kritis, sistematis, dan menghargai perbedaan pendapat. Dengan demikian, ulama PERTI tidak hanya menjadi penghafal kitab, tetapi juga mampu menjelaskan dan mempertahankan pendapat secara ilmiah.
4. Produktif Menulis
Tradisi menulis merupakan ciri khas ulama PERTI. Karya-karya yang dihasilkan memiliki beragam fungsi sesuai kebutuhan pendidikan dan dakwah.
a. Kitab Madkhal atau Kitab Pelajaran
Banyak ulama PERTI menyusun kitab pengantar (madkhal) sebagai bahan ajar di MTI. Kitab-kitab ini berfungsi memudahkan santri memahami kitab turats yang lebih besar dan lebih sulit.
Sebagian besar kitab pelajaran tersebut diterbitkan dengan dukungan Wizarah al-Ma’arif, sehingga dapat digunakan secara luas di madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah.
Di antara karya-karya penting ialah:
Bidayatul Ushul karya Buya Mansur Dt. Nagari Basa.
Bidayatul Balaghah karya Buya Sirajuddin Abbas.
Bidayatut Tauhid karya Buya Rusli Abdul Wahid.
Tadzkiratul Qulub karya Syekh Jamil Jaho.
Kasyafatul Awisyah karya Syekh Jamil Jaho.
Hidayatut Thalibi karya Buya Mansur Dt. Nagari Basa.
Kitab-kitab tersebut merupakan bentuk taisir (memudahkan) dan tahsil (menyederhanakan) materi-materi berat agar lebih mudah dipahami oleh santri.
b. Karya Orisinal
Selain kitab pelajaran, ulama PERTI juga menghasilkan karya-karya yang memuat gagasan asli dan pemikiran pribadi. Karya-karya ini menjadi ruang bagi ulama untuk menyampaikan pandangan ilmiah, konsep pendidikan, pemikiran tasawuf, maupun pengembangan ilmu-ilmu keislaman.
Beberapa di antaranya ialah:
Al-Aqwalul Wasithah fi Dzikir wa Rabithah karya Syekh Sulaiman Arrasuli.
Targhib ila Rahmatillah karya Syekh Bayang.
Intar Permata karya Syekh Mudo Wali Aceh.
Karya-karya tersebut menjadi rekaman sejarah intelektual ulama PERTI sekaligus menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menghasilkan pemikiran baru yang lahir dari tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah.
c. Kitab Pembelaan
Sebagian besar karya ulama PERTI juga lahir sebagai bentuk pembelaan terhadap paham Ahlussunnah wal Jama’ah bermazhab Syafi’i, terutama dalam menghadapi berbagai kritik dan perdebatan keagamaan pada awal abad ke-20.
Melalui kitab-kitab tersebut, ulama PERTI berdialog secara ilmiah, menyampaikan argumentasi berdasarkan dalil, sekaligus menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam.
Di antaranya:
Tanbihul Awam karya Syekh Sa’ad Mungka.
Burhanul Haq karya Syekh Khatib Ali.
d. Kitab Ikhbar dan Informasi
Sebagian karya ulama juga berfungsi sebagai media penyebaran informasi keagamaan (ikhbar), fatwa, tuntunan ibadah, dan penjelasan terhadap berbagai persoalan umat. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi menulis di lingkungan PERTI memiliki fungsi pendidikan, dakwah, sekaligus pelayanan kepada masyarakat.
Tantangan yang Dihadapi
Tradisi besar tersebut kemudian mengalami kemunduran. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:
Kurangnya perhatian terhadap dokumentasi manuskrip dan karya ulama.
Banyak kitab hilang akibat perang, perpindahan generasi, dan lemahnya kaderisasi.
Menurunnya minat generasi muda untuk menulis karya keagamaan berbasis tradisi MTI.
Berhentinya percetakan kitab-kitab ulama PERTI.
Belum adanya program sistematis untuk menghimpun, menyunting, menerbitkan kembali, dan mendigitalisasi karya-karya ulama PERTI.
Agenda Kebangkitan Literasi PERTI
Memasuki abad kedua PERTI, kebangkitan tradisi literasi menjadi kebutuhan mendesak. Beberapa agenda strategis yang perlu diwujudkan ialah:
1. Menghidupkan kembali budaya mubahatsah, diskusi, dan istidlal di kalangan santri MTI.
2. Menumbuhkan semangat menulis di kalangan guru, santri, dan ulama PERTI.
3. Menginventarisasi, mengedit, menerjemahkan, mendigitalisasi, dan menerbitkan ulang manuskrip serta kitab-kitab ulama PERTI.
4. Mendirikan Penerbit PERTI sebagai pusat publikasi karya ulama dan intelektual Tarbiyah Islamiyah.
5. Menjadikan karya-karya ulama PERTI sebagai rujukan utama dalam pengembangan pendidikan, dakwah, dan peradaban Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia.
Dengan menghidupkan kembali tradisi membaca, berdiskusi, dan menulis sebagaimana diwariskan para ulama terdahulu, PERTI tidak hanya menjaga warisan intelektualnya, tetapi juga menyiapkan generasi ulama yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar sanad keilmuan dan identitas Ahlussunnah wal Jama’ah. DS.30062026.










