KOSMOLOGI QUR’ANI DAN KESADARAN MORAL

KOSMOLOGI QUR’ANI DAN KESADARAN MORAL

Oleh: Duski Samad

Guru Besar UIN Imam Bonjol

 

Goncangan Semesta, Kemuliaan Nabi, Dan Keniscaan Ajaran Ilahi dapat dibaca dan dipahami satu di antaranya melalui tafsir  surah at-Takwīr dan relevansinya bagi moralitas. Surah At-Takwīr (QS. 81) menghadirkan narasi kosmik tentang destabilisasi alam sebagai penegas kepastian Hari Kiamat, kemuliaan Nabi Muhammad SAW, dan keniscayaan wahyu ilahi sebagai sumber hidayah. Artikel ini menganalisis Surah At-Takwīr melalui pendekatan tematik—mencakup kosmologi Qur’ani, otoritas kenabian, serta teologi hidayah—dan merefleksikan relevansinya dalam konteks moralitas manusia modern yang dilanda krisis nilai, disinformasi digital, dan disorientasi spiritual. Kajian menunjukkan bahwa Surah At-Takwīr tidak hanya berbicara tentang gambaran futuristik Kiamat, tetapi juga menguatkan struktur etika dan kesadaran moral manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Qur’an menggunakan pendekatan retoris yang sangat kuat melalui gambaran kosmik untuk membangkitkan kesadaran manusia. Surah At-Takwīr merupakan salah satu surah Makkiyyah yang paling padat memuat deskripsi apokaliptik (apocalyptic imagery). Ayat-ayat awal (1–14) menampilkan runtuhnya struktur kosmos sebagai penanda bahwa dunia dengan segala kemapanannya akan berakhir. Setelah itu, ayat-ayat 19–25 menegaskan kemuliaan Rasul Muhammad SAW, sedangkan penutup surah (26–29) menggariskan bahwa tiada arah keselamatan kecuali mengikuti wahyu Allah.

Artikel ini mengelaborasi tiga tema utama yang terkandung dalam surah tersebut:

  1. Peristiwa semesta sebagai pengingat moral bagi manusia,
  2. Kemuliaan dan otoritas kenabian Nabi Muhammad SAW,
  3. Keniscayaan ajaran ilahiyah sebagai satu-satunya rujukan keselamatan.

Pendekatan yang digunakan adalah kajian tafsir tematik dengan memadukan perspektif tafsir klasik, wacana kontemporer, dan analisis filosofis-teologis.

  1. Kosmologi Kiamat dan Kesadaran Moral Manusia

Gambaran Destabilisasi Semesta dalam Surah At-Takwīr. Ayat-ayat pertama Surah At-Takwīr membawa pembaca pada visualisasi kolapsnya alam. Matahari digulung (إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ), bintang-bintang berjatuhan, gunung-gunung dihempaskan, lautan meluap, dan langit dilenyapkan. Tafsir Ibn Kathir memahami ini sebagai gambaran literal runtuhnya struktur semesta pada hari Kiamat. Sementara al-Qurtubi memaknainya sebagai bahasa simbolik untuk menunjukkan perubahan total kosmos.

Dalam perspektif kosmologi modern, gambaran ini dapat dipahami sebagai bentuk cosmic collapse, seperti teori heat death, big crunch, atau cosmic inflation reversal. Al-Qur’an sengaja menggunakan bahasa kosmis untuk menggugah perenungan eksistensial manusia.

  1. Fungsi Etis-Eskapologis

Deskripsi kiamat bukan sekadar informasi futuristik, tetapi perangkat pedagogis moral. Ayat 14 menegaskan: “Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (Untuk menegakkan hisab dan pertanggungjawaban amal.)

Ini menegaskan bahwa manusia mesti menata diri secara etis karena alam sendiri menjadi saksi tentang kesementaraan hidup. Dalam teori sosiologi pengetahuan (Berger & Luckmann), realitas sosial manusia dipengaruhi struktur makna—dan Surah At-Takwīr menghadirkan struktur makna kosmik untuk menata kembali moralitas manusia.

  1. Relevansi Bagi Dunia Digital

Guncangan semesta dalam narasi Qur’an dapat dianggap sebagai metafora untuk mengguncang kesadaran manusia modern yang mengalami krisis akhlak, terjebak dalam budaya konsumtif-materialistik, terombang-ambing oleh banjir informasi dan disinformasi digital. Surah At-Takwīr menggariskan kembali: manusia tidak bisa melihat dunia sebagai ruang absolut, tetapi sebagai fase sementara menuju kehidupan akhirat.

  1. Kemuliaan dan Otoritas Kenabian Muhammad SAW
  2. Argumen Qur’ani tentang Otentisitas Nabi. Ayat 19–25 menyebut Rasul pembawa wahyu sebagai “dzī quwwah” (berkekuatan), “makīn” (berkedudukan tinggi),“mutā’in” (dituruti),“amīn” (dipercaya).

Tafsir al-Razi menyatakan bahwa karakteristik Jibril ini sekaligus menunjukkan keagungan Rasul Muhammad SAW sebagai penerima wahyu. Ayat-ayat ini mematahkan tuduhan masyarakat Quraisy yang menuduh Nabi sebagai tukang sihir, penyair, atau orang gila.

  1. Kesaksian Historis dan Ilmiah. Secara historis Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai al-Amīn. Tidak pernah ditemukan catatan yang meragukan integritas moralnya. Risalahnya konsisten, berkesinambungan, dan tidak bertentangan dengan profil kepribadiannya.

Dalam epistemologi Islam, keotentikan kenabian dibangun melalui: 1. Integritas moral Nabi (s}idq, amanah, fat}anah, tablīgh), 2. Kesempurnaan wahyu yang tidak kontradiktif,3. Kesinambungan tradisi (sanad) sebagai jaminan validitas transmisi.

  1. Keteladanan sebagai Realitas Sosial. Dalam pendekatan ilmu sosial, Nabi bukan hanya figur spiritual, tetapi institusi peradaban yang mempengaruhi hukum, pendidikan, budaya, dan etika publik. Sebagaimana dikaji dalam prophetic sociology (Ali Shariati, Kuntowijoyo), Nabi Muhammad SAW adalah model sosial yang memadukan akhlak personal dan visi transformasi masyarakat.
  2. Keniscayaan Wahyu sebagai Arah Penyelamatan Manusia
  3. Keterbatasan Nalar Manusia. Ayat 26–29 menegaskan bahwa manusia tidak memiliki arah keselamatan selain wahyu. Penegasan ini tidak menafikan kebebasan manusia, tetapi menempatkan kebebasan dalam kerangka etis-transenden.

Teologi Maturidi menafsirkan bahwa manusia memiliki akal untuk memilih, namun arah keselamatan hanya dapat diketahui melalui petunjuk Allah. Sementara pandangan Asy’ari lebih menekankan keterikatan kehendak manusia pada kehendak Allah.

  1. Wahyu Sebagai Kerangka Moral dan Peradaban. Wahyu bukan sekadar ajaran ritual, tetapi sistem nilai, kerangka etika sosial, fondasi hukum, dan sumber makna hidup. Dalam epistemologi kontemporer (Quraish Shihab), wahyu adalah mekanisme untuk mengarahkan nalar manusia menuju kebenaran objektif.
  2. Relevansi Pada Krisis Modernitas. Modernitas menghasilkan disorientasi moral relativisme nilai, individualisme ekstrem, dekonstruksi makna, dan nihilisme. Surah At-Takwīr mengingatkan bahwa tanpa wahyu, manusia kehilangan kompas etis. Kehidupan menjadi sekadar ruang kompetisi tanpa keadilan moral.
  3. Sintesis Teologis–Sosiologis. Melalui pembacaan tematik, Surah At-Takwīr memberikan tiga pelajaran besar: 1. Kosmologi Qur’ani memulihkan kesadaran moral. Ketika manusia melihat alam sebagai ciptaan yang kelak hancur, ia akan menata diri secara etis. 2. Kemuliaan Nabi adalah legitimasi moral peradaban Islam. Otoritas kenabian memberikan dasar epistemologis bagi semua ajaran Islam.
  4. Wahyu adalah satu-satunya orientasi keselamatan

Tanpa wahyu, manusia tersesat dalam relativisme moral dan krisis spiritual. Analisis ini menunjukkan bahwa Surah At-Takwīr bukan hanya teks keagamaan, tetapi fondasi moral, sosial, dan epistemologis bagi kehidupan manusia lintas zaman.

Kesimpulan

Surah At-Takwīr menghadirkan narasi kosmik untuk mengguncang kesadaran manusia akan keterbatasan dunia. Surah ini juga meneguhkan keotentikan Rasulullah SAW sebagai pembawa wahyu yang benar dan amanah. Pada akhirnya, surah ini menutup dengan pesan besar bahwa keselamatan manusia hanya dapat ditemukan dalam ajaran ilahiyah.

Di tengah krisis moral global dan tantangan digital, pesan Surah At-Takwīr tetap sangat relevan: manusia membutuhkan orientasi hidup yang bersumber dari wahyu, agar tidak tersesat oleh arus modernitas yang se31ring menjauhkan dari nilai-nilai transenden.ds.21112025nurulilmiunand.

Leave a Reply

News Feed