Makam Sunan Gunung Jati Jadi Lokasi Sindikat Pengemis, Ratusan Pelaku Terjaring Razia
Oleh:
Rafadhea Naura Putri, Arya Rizqi Mahardika, Yunita Suharyanti, Guntur Budi Santoso
Dosen Pengampu: Fadli Daud Abdullah, S.H.,M.H.
Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Sunan Gunung Jati, yang bernama asli Syarif Hidayatullah adalah salah satu Walisongo yang berperan besar dalam menyebarkan Islam di Cirebon dan Jawa Barat. Ia berasal dari keturunan bangsawan dan ulama, serta pernah menimba ilmu agama di Timur Tengah. Setelah kembali ke tanah Jawa, ia memimpin Cirebon dan menyebarkan Islam dengan cara damai dan melalui pendekatan budaya. Setelah wafat, Sunan Gunung Jati dimakamkan di Gunung Sembung, Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Hingga kini, makamnya menjadi tempat ziarah penting dan warisan sejarah bagi masyarakat.
Selama bertahun-tahun, makam Sunan Gunung Jati di Kabupaten Cirebon telah menjadi salah satu tempat wisata religius paling banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Ribuan orang setiap hari datang ke sini untuk berdoa, berziarah, dan mengenang perjuangan Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Namun, sayangnya, sindikat pengemis menggunakan tempat yang seharusnya tenang dan sakral ini untuk mencari keuntungan yang tidak masuk akal

Para pengemis terlihat berjejer di sepanjang jalur peziarah, di area parkir, di sekitar tangga menuju makam, dan di pintu masuk utama. Mulai dari orang tua, remaja bahkan anak-anak kecil pun ikut serta. Ada yang tidak hanya mengulurkan tangan, tetapi mereka juga terus mengikuti pengunjung, memaksa, dan bahkan menghalangi jalan untuk mendapatkan uang. Banyak peziarah merasa terganggu, tidak nyaman, dan kehilangan kekhusyuan saat beribadah karena kondisi ini. Akhirnya, karena keadaan semakin memburuk, pemerintah daerah bersama dengan aparat gabungan melakukan razia besar-besaran di kawasan tersebut. Razia ini melibatkan Satpol PP, Dinas Sosial, Kepolisian, dan pihak yang mengelola kawasan makam. Di seluruh area wisata religi, razia menyeluruh dilakukan untuk menghilangkan praktik mengemis yang sudah dianggap berlebihan dan terorganisir.
Secara perspektif normatif, Makam Sunan Gunung Jati seharusnya menjadi tempat suci di mana seluruh pengunjung menjaga kehormatannya. Namun, jelas terjadi penyimpangan dari nilai yang seharusnya dijunjung ketika area ini digunakan sebagai tempat sindikat pengemis beraktivitas. Area ziarah harus dijaga tertib, bersih, dan sakral, sehingga tidak dibenarkan praktik apa pun yang merugikan, termasuk pengemis terorganisir. Untuk mengembalikan fungsi asli makam sebagai tempat ibadah dan refleksi spiritual, bukan sebagai tempat eksploitasi atau aktivitas yang mengganggu masyarakat, ratusan pelaku ditahan di razia. Diharapkan upaya ini dapat mempertahankan prinsip moral, norma sosial, dan penghormatan terhadap lokasi sejarah.
Pada awalnya, kawasan Makam Sunan Gunung Jati hanya dipenuhi dengan peziarah yang datang untuk berdoa dan mengenang jasanya. Namun, seiring waktu, ramainya pengunjung mulai dimanfaatkan oleh sejumlah individu yang melihatnya sebagai peluang untuk mencari keuntungan. Pengemis datang dari berbagai tempat, sebagian karena kebutuhan, tetapi sebagian lainnya diarahkan oleh kelompok tertentu yang mengatur mereka. Pada mulanya, pengemis tidak terlalu terlihat. Mereka duduk di sekitar pintu masuk makam, dengan cara yang tampaknya masuk akal, meminta bantuan. Namun, jumlah mereka terus meningkat hingga mencapai ratusan, dan pola yang muncul menunjukkan adanya pengaturan lokasi mereka diatur. Kondisi ini membuat area makam menjadi tidak kondusif, mengganggu peziarah, dan membahayakan nilai sejarahnya. Setelah banyak laporan dari masyarakat dan pengelola makam, razia besar-besaran dilakukan oleh aparat gabungan. Ratusan pengemis yang diduga menjadi anggota sindikat terjaring selama operasi. Tujuan dari perbaikan ini adalah untuk mengembalikan ketertiban dan mempertahankan kehormatan situs ziarah yang merupakan salah satu ikon religius di Cirebon

Pagi itu, kompleks Makam Sunan Gunung Jati tampak berbeda dari hari-hari biasanya. Hari itu, barisan petugas kepolisian, Satpol PP, dan pemerintahan daerah berkumpul di halaman makam, yang tidak biasanya dipenuhi peziarah. Mereka sedang melakukan razia terhadap pengemis yang diduga beroperasi secara terorganisir di area ziarah tersebut. Beberapa tokoh masyarakat dan pengurus makam hadir, berdiri untuk mendengarkan penjelasan dari aparat tentang proses penertiban. Ekspresi para petugas menunjukkan bahwa operasi ini bukan sekadar penertiban biasa itu adalah upaya untuk mengembalikan kenyamanan, ketertiban, dan kekhusyukan para peziarah yang sering terganggu oleh aktivitas para pengemis. Operasi ini menjadi perhatian utama karena banyak laporan tentang pengemis yang memaksa atau mengganggu pengunjung, terutama pada hari-hari ketika jumlah peziarah meningkat.
Dampak normatif yang signifikan bagi masyarakat. Tempat yang seharusnya suci sekarang dipenuhi dengan aktivitas yang bertentangan dengan prinsip religius dan etika sosial. Kehadiran pengemis dalam jumlah besar, terutama yang dikumpulkan secara sistematis, mengganggu suasana ziarah dan mengurangi nilai sakral makam. Setelah ratusan pelaku ditangkap, razia menjadi pengingat betapa pentingnya penegakan aturan untuk menjaga ketertiban. Kawasan tersebut dikembalikan ke fungsi normalnya sebagai tempat ibadah yang tenang, tertib, dan layak dihormati.
Sebaliknya, orang-orang diingatkan tentang pentingnya menghormati ruang publik dan menghindari memanfaatkan keramaian untuk tindakan yang merusak tatanan sosial. Melalui peristiwa ini, semua orang menyadari bahwa semua orang bertanggung jawab untuk menjaga nilai moral, etika berziarah, dan kesucian tempat ibadah. Tidak hanya peristiwa ini menciptakan ketertiban, tetapi juga mengajarkan masyarakat tentang etika dan peraturan yang berlaku di lingkungan makam.
Razia di Makam Sunan Gunung Jati membawa tantangan besar bagi para petugas. Dan menghadapi banyak kesulitan saat menjaga makam Sunan Gunung Jati. Terlepas dari fakta bahwa ratusan pengemis telah ditangkap, penanganannya tidak dapat diselesaikan dalam satu hari karena beberapa di antaranya tergabung dalam sindikat yang terorganisir. Petugas harus memastikan area makam tetap tenang dan nyaman bagi peziarah karena aktivitas pengemis mengganggu banyak pengunjung. Selain itu, pemerintah kesulitan menangani pengemis yang benar-benar mengalami masalah ekonomi. Mereka harus dilatih agar mereka tidak kembali ke sana. Sebaliknya, makam harus tetap dianggap sebagai tempat ziarah, dan semua lembaga terkait harus bekerja sama untuk mengatasi masalah ini secara konsisten.
Dengan ditertibkannya sindikat pengemis, kawasan Makam Sunan Gunung Jati berpotensi berubah menjadi tempat ziarah yang lebih teratur dan nyaman. Suasana yang aman membuat peziarah betah dan jumlah pengunjung dapat meningkat, dan penataan yang lebih rapi membuka peluang bagi bisnis lokal untuk berkembang secara lebih teratur. Selain itu, citra makam sebagai wisata religi juga dapat meningkat, menarik lebih banyak wisatawan dari berbagai daerah.
Pada intinya Makam Sunan Gunung Jati yang biasanya ramai oleh peziarah mendadak menjadi sorotan setelah petugas menemukan adanya sindikat pengemis yang beroperasi secara terorganisir di kawasan tersebut. Dalam razia besar yang digelar, ratusan pengemis berhasil diamankan. Peristiwa ini mengungkap bahwa keramaian peziarah telah dimanfaatkan sebagai ladang bagi jaringan pengemis untuk mencari keuntungan, sehingga penertiban pun dilakukan demi menjaga ketertiban dan kenyamanan tempat ziarah.











