Makna Simbolik Arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Oleh: Dwi Sulistyo Wati, Aida Mulia Rahma, dan Dhimas Mahardika
Dosen Pengampu : Fadli Daud Abdullah, S.H.,M.H.
Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Masjid Agung Sang Cipta Rasa dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam tertua dan paling berpengaruh di Cirebon. Sejak masa awal berdirinya Kesultanan Cirebon, masjid ini tidak hanya digunakan sebagai tempat beribadah, tetapi juga berkembang menjadi ruang bagi aktivitas sosial, budaya, dan pendidikan umat. Nama Sang Cipta Rasa mengandung makna filosofi yang mendalam “cipta” menggambarkan kekuatan akal manusia, sedangkan “rasa” melambangkan dimensi hati dan spiritualitas. Keduanya berpadu dalam keselarasan, mencerminkan keseimbangan antara logika dan keimanan yang menjadi fondasi ajaran Islam.
Secara historis, masjid ini dibangun sekitar tahun 1480 Masehi atas prakarsa Sunan Gunung Jati, dengan bimbingan spiritual dari Sunan Kalijaga, pendekatan historis ini menegaskan bahwa lahirnya Masjid Sang Cipta Rasa merupakan bagian dari upaya dakwah Islam melalui budaya, Masjid Sang Cipta Rasa merujuk pada tradisi dan kepercayaan masyarakat Cirebon sebelum Islam berkembang. Pada masa itu, masyarakat masih dipengaruhi kuat oleh ajaran Hindu–Buddha yang telah mengakar selama berabad-abad. Pola pikir, kesenian, hingga bentuk bangunan tradisional seperti atap bertingkat dan simbol-simbol kosmologis menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain itu, kepercayaan animisme dan dinamisme juga masih hidup, ditandai dengan penghormatan terhadap roh nenek moyang serta keyakinan pada kekuatan gaib yang dianggap bersemayam dalam alam sekitar. Semua unsur inilah yang membentuk identitas budaya masyarakat Jawa kala itu. Pendekatan ini membuat dakwah Islam lebih mudah diterima, karena masyarakat melihat bahwa ajaran baru ini tidak menolak budaya mereka, melainkan menyempurnakannya. Pendekatan historis ini memperlihatkan bagaimana dakwah Islam di Cirebon berlangsung secara damai, penuh kearifan, dan menyesuaikan diri dengan konteks budaya masyarakat.
Hubungan antara masjid dan Keraton Kasepuhan juga penting dalam memahami konteks sejarahnya. Kedekatan fisik antara keduanya menunjukkan sinergi antara kekuasaan politik dan spiritual pada masa Kesultanan Cirebon. Sultan tidak hanya berperan sebagai pemimpin duniawi, tetapi juga sebagai pelindung nilai-nilai agama. Masjid menjadi pusat kegiatan masyarakat tempat musyawarah, pendidikan, dan pembinaan moral, sementara keraton menjadi pusat pemerintahan. Pola ini menggambarkan bahwa sejak awal, Islam di Cirebon tumbuh dalam kesatuan antara pemerintahan, keadilan, dan keimanan.
Arsitektur masjid pun menjadi refleksi sejarah. Atapnya berbentuk limasan bertingkat tiga, melambangkan tiga tahapan spiritual: iman, Islam, dan ihsan. Bentuk ini sekaligus menunjukkan kesinambungan antara dunia dan akhirat, di mana manusia dituntun untuk terus meningkatkan kualitas keimanannya. Dalam konteks historis, pemilihan bentuk lokal ini menunjukkan bahwa para wali tidak meniru gaya Timur Tengah, melainkan menegaskan identitas Islam Nusantara yang berakar pada kebudayaan Indonesia.
Empat tiang utama atau saka guru di dalam masjid juga menyimpan kisah sejarah dan nilai simbolik yang kuat. Salah satunya, saka tatal, dibuat dari potongan kayu kecil yang disatukan menjadi satu tiang kokoh. Hal ini menggambarkan persatuan dan kekuatan umat Islam Cirebon yang bersatu dalam perbedaan. Dari segi sejarah sosial, saka tatal menjadi metafora tentang semangat masyarakat pesisir utara Jawa yang terbuka, gotong royong, dan menjunjung tinggi persaudaraan.

Selain itu, Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Cirebon memiliki sebuah sumur tua yang terletak di area dalam masjid dan menjadi salah satu elemen penting dalam sejarah arsitekturnya. Sumur ini diyakini telah ada sejak masa pembangunan masjid pada abad ke-15, saat Sunan Gunung Jati dan para Wali Songo berperan dalam pendiriannya. Secara fungsional, sumur tersebut dahulu digunakan sebagai sumber air bersih untuk wudu para jamaah, sekaligus menjadi simbol kesucian dan kebersihan dalam praktik ibadah. Keberadaan sumur ini menunjukkan bagaimana desain masjid tradisional pada masa itu selalu mengutamakan integrasi antara fungsi ibadah dan kebutuhan sehari-hari umat.
Selain fungsi praktisnya, sumur di Masjid Agung Sang Cipta Rasa juga memiliki nilai simbolik dan historis yang tinggi. Masyarakat Cirebon memandang sumur ini sebagai peninggalan bersejarah yang merefleksikan kearifan lokal serta nilai spiritual para pendirinya. Air sumur tersebut sering dikaitkan dengan keberkahan, sehingga tidak jarang pengunjung merasa tertarik untuk melihatnya langsung sebagai bagian dari ziarah budaya. Hingga kini, sumur tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas masjid, memperkuat citra Sang Cipta Rasa sebagai ruang ibadah yang menyimpan warisan arsitektur, sejarah, dan spiritualitas pemerintahan Islam Cirebon pada masa awal penyebaran Islam di Jawa.
Melalui pendekatan historis, dapat dipahami bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa bukan hanya warisan arsitektur, tetapi juga teks sejarah yang hidup. Setiap elemen bangunannya menyimpan kisah dakwah, kebersamaan, dan perjuangan masyarakat dalam mempertahankan identitas keislaman mereka. Masjid ini menjadi simbol perjalanan panjang peradaban Islam di Cirebon yang dibangun atas dasar ilmu, iman, dan budaya.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa menjadi bukti perkembangan Islam di Cirebon yang berlangsung secara damai, bertahap, dan penuh kearifan budaya. Melalui arsitektur tradisional yang sarat makna, keberadaan saka guru dan saka tatal, serta elemen penting seperti sumur tua di dalam masjid, terlihat bahwa para wali dan pendiri Kesultanan Cirebon menggunakan pendekatan dakwah yang menyatukan nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat sosial, budaya, pendidikan, dan simbol spiritual masyarakat sejak abad ke-15, sehingga hingga kini tetap menjadi warisan sejarah dan identitas Islam Nusantara yang kuat dan mendalam.










