MALAPETAKA KEHIDUPAN
Oleh: Duski Samad
Kisah nelayan dan profesor yang beredar di media sosial—sebagaimana disampaikan Hamdan Juanis—bukan sekadar cerita ringan tentang kecerdasan dan keterampilan. Ia adalah alegori tajam tentang ketimpangan antara ilmu yang dibanggakan dan realitas kehidupan yang dihadapi manusia.
Dikisahkan, seorang profesor dengan bangga menguji seorang nelayan: tentang filsafat, fisika, dan bahasa asing. Nelayan menjawab sederhana—tidak tahu. Profesor pun menyimpulkan: “Engkau telah kehilangan 75 persen peluang hidup.” Namun tak lama kemudian badai datang. Nelayan balik bertanya: “Apakah Anda bisa berenang?” Profesor menjawab: tidak. Maka nelayan berkata: “Hari ini Anda kehilangan 100 persen peluang hidup.”
Kisah ini sederhana, tetapi mengandung pesan mendalam:
malapetaka kehidupan bukan karena manusia tidak tahu banyak, tetapi karena ia tidak tahu apa yang paling penting saat dibutuhkan.
Ilmu dan Keselamatan: Perspektif Qur’ani
Al-Qur’an mengingatkan bahwa tidak semua ilmu otomatis menyelamatkan manusia. Bahkan, ilmu tanpa hikmah bisa menjadi sebab kesesatan: “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini menegaskan keterbatasan manusia dalam menilai apa yang benar-benar penting. Profesor dalam kisah tersebut terjebak dalam ilusi—menganggap ilmu teoritis sebagai ukuran utama kehidupan, padahal keselamatan sering ditentukan oleh ilmu yang kontekstual dan fungsional.
Dalam ayat lain, Allah mengkritik kesombongan manusia karena ilmunya: “Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka merasa bangga dengan ilmu yang ada pada mereka…” (QS. Ghafir: 83)
Kesombongan epistemik inilah yang menjadi akar malapetaka.
Kesombongan Ilmu dan Kehancuran
Dalam perspektif hadis, kesombongan bukan sekadar sikap sosial, tetapi penyakit batin yang berbahaya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”(HR. Muslim)
Profesor dalam kisah tersebut tidak sekadar berilmu, tetapi terjebak dalam kesombongan ilmu—merasa superior dan meremehkan pengalaman hidup nelayan. Padahal, dalam tradisi Islam, ilmu sejati adalah yang melahirkan khusyuk dan tawadhu’, bukan kesombongan.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal dan hikmah dapat menjadi bumerang bagi pemiliknya: “Ilmu yang tidak diamalkan adalah hujjah atas pemiliknya.”¹
Badai sebagai Ujian Eksistensial
Badai dalam kisah ini bukan sekadar fenomena alam, tetapi metafora kehidupan: krisis ekonomi, bencana, konflik, bahkan kematian yang datang tiba-tiba.
Al-Qur’an menegaskan bahwa ujian adalah keniscayaan hidup:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (QS. Al-Baqarah: 155)
Dalam kondisi normal, manusia bisa menyusun hierarki prestise. Namun dalam badai, semua itu runtuh. Yang tersisa hanyalah kesiapan, ketahanan, dan keterampilan bertahan hidup.
Di sinilah berlaku hukum kehidupan:
yang bertahan bukan yang paling pintar, tetapi yang paling siap.
Hierarki Ilmu dalam Perspektif Islam
Islam tidak menolak ilmu tinggi, tetapi menuntut penempatan yang proporsional. Dalam kerangka hikmah, ilmu dapat dibagi menjadi tiga:
1. Ilmu penyelamat (daruriyyat)
→ ilmu yang menjaga jiwa dan keberlangsungan hidup
2. Ilmu penuntun (hidayah)
→ ilmu agama, akhlak, dan nilai
3. Ilmu pelengkap (tahsiniyyat)
→ ilmu pengembangan seperti filsafat dan teori
Ketika manusia membalik urutan ini—mendahulukan yang pelengkap dan melupakan yang esensial—maka ia sedang menyiapkan dirinya menuju malapetaka.
Ibn Khaldun menegaskan bahwa ilmu harus relevan dengan kebutuhan sosial dan realitas kehidupan².
Relevansi Sosial: Krisis Manusia Modern
Kisah ini mencerminkan kondisi dunia modern:
Banyak orang berpendidikan tinggi, tetapi rapuh menghadapi krisis
Banyak pemimpin kaya konsep, tetapi miskin solusi
Banyak masyarakat maju teknologi, tetapi lemah spiritual
Pandemi global, krisis ekonomi, dan bencana alam menjadi “badai” yang membuka kelemahan tersebut.
Dalam konteks ini, keselamatan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi oleh:
resilience (ketahanan)
life skill (keterampilan hidup). spiritual grounding (keteguhan iman)
Pelajaran Profetik: Rendah Hati dan Keseimbangan
Islam mengajarkan keseimbangan antara ilmu dan amal, antara teori dan praktik. Rasulullah ﷺ bersabda: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
(HR. Muslim)
Doa ini menegaskan bahwa tidak semua ilmu bernilai. Ilmu yang tidak membawa manfaat—tidak menyelamatkan, tidak menuntun—bisa menjadi beban, bahkan bencana.
Penutup: Ilmu yang Menyelamatkan
Kisah nelayan dan profesor adalah cermin kehidupan manusia modern. Ia mengingatkan bahwa: Malapetaka terbesar bukanlah kebodohan, tetapi kesalahan dalam menentukan prioritas ilmu.
Ilmu yang tidak membumi menjadikan manusia tinggi di langit, tetapi rapuh di bumi. Sebaliknya, pengalaman dan keterampilan hidup yang sederhana dapat menjadi penyelamat di saat genting.
Maka, kehidupan menuntut kita untuk tidak sekadar menjadi orang yang tahu, tetapi menjadi orang yang siap, selamat, dan mampu menyelamatkan.
Karena pada akhirnya:
badai tidak bertanya siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling siap.
Footnote
1. Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitāb al-‘Ilm.
2. Ibn Khaldun, Muqaddimah, pembahasan tentang fungsi ilmu dalam peradaban.
