MANASIK KEHIDUPAN
Oleh: Duski Samad
Guru Besar Universitas Islam Negeri Imam Bonjol
Khutbah Idul Adha 10 Zulhijjah 1447 H / 23 Mei 2026
di Masjid Al Hikam Kota Padang Sumatera Barat
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.
Idul Adha bukan sekadar momentum penyembelihan hewan qurban atau ritual tahunan umat Islam. Idul Adha sesungguhnya adalah momentum spiritual untuk memahami kembali hakikat manasik kehidupan — bagaimana manusia menata orientasi hidupnya agar tetap berada di jalan Allah SWT.
Selama ini istilah manasik populer dipahami sebagai pelatihan tata cara haji dan umrah. Padahal Al-Qur’an menggunakan istilah manasik dalam pengertian yang jauh lebih luas: jalan penghambaan, tata ibadah, dan orientasi hidup manusia kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
> قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An‘am: 162)
Dalam tafsir klasik seperti Ibn Katsir dan Al-Tabari, kata nusuki dimaknai sebagai ibadah, qurban, dan seluruh bentuk pendekatan diri kepada Allah. Sedangkan tafsir kontemporer memaknai nusuk sebagai totalitas orientasi hidup yang dibingkai tauhid dan keikhlasan.
Karena itu ibadah mahdhah bukan sekadar gerakan formal. Shalat bukan hanya rukuk dan sujud. Puasa bukan sekadar menahan lapar.
Qurban bukan sekadar menyembelih hewan.
Tetapi seluruhnya adalah proses pendidikan jiwa agar manusia tunduk kepada Allah dan memiliki kepekaan sosial terhadap sesama.
Di sinilah relevansi besar Idul Adha di tengah dunia modern hari ini.
Modernitas melahirkan kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, dan kemudahan hidup. Tetapi pada saat yang sama, modernitas juga melahirkan krisis empati.
Manusia semakin terhubung melalui teknologi, tetapi semakin jauh secara hati.
Media sosial ramai, tetapi jiwa manusia sepi. Orang mudah memberi komentar, tetapi sulit memberi pertolongan.
Musibah menjadi tontonan. Penderitaan dihitung sebagai statistik.
Padahal inti ibadah dalam Islam bukan hanya hubungan dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga menghadirkan kasih sayang kepada manusia (hablum minannas).
Karena itu qurban bukan hanya ibadah individual.
Qurban adalah pendidikan empati sosial.
Ketika seseorang menyembelih qurban, sesungguhnya ia sedang diajarkan untuk memotong egoisme, kerakusan, dan cinta dunia yang berlebihan.
Pengorbanan Tertinggi Mestinya dari Pemimpin
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dalam sejarah peradaban, pengorbanan terbesar seharusnya lahir dari para pemimpin.
Pemimpin bukan orang yang pertama menikmati kekuasaan, tetapi yang pertama memikul penderitaan rakyat.
Tokoh bangsa Indonesia, Haji Agus Salim, pernah menyebut: “Memimpin adalah penderitaan.”
Kalimat ini sangat dalam maknanya. Memimpin bukan fasilitas. Memimpin bukan kemewahan.
Memimpin bukan kesempatan memperkaya diri dan kelompok.
Tetapi amanah berat untuk melayani, melindungi, dan berkorban demi rakyat.
Karena itu dalam tradisi Islam, para nabi, khalifah, dan pemimpin besar selalu hidup dekat dengan penderitaan umatnya.
Nabi Muhammad SAW menahan lapar bersama rakyatnya. Umar bin Khattab memikul gandum sendiri untuk rakyat miskin.
Pemimpin dalam Islam bukan simbol kemegahan, tetapi teladan pengorbanan.
Hari ini krisis besar bangsa bukan hanya krisis ekonomi dan politik, tetapi krisis keteladanan.
Ketika pemimpin rakus dan tidak mau berkorban, rakyatlah yang menjadi korban.
Ketika elite sibuk memperkaya diri, rakyat menanggung kesulitan hidup.
Ketika kekuasaan dipakai menjaga kepentingan kelompok, masyarakat kehilangan rasa keadilan.
Akibatnya lahirlah penderitaan sosial: kemiskinan,pengangguran,ketimpangan, hilangnya kepercayaan, dan krisis empati kolektif.
Padahal hakikat qurban mengajarkan: yang kuat melindungi yang lemah, yang mampu membantu yang kekurangan, dan pemimpin mendahulukan penderitaan rakyat dibanding kenyamanan dirinya.
Idul Adha seharusnya menjadi momentum moral untuk mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa pengorbanan akan melahirkan kerakusan, sedangkan pengorbanan tanpa ketulusan hanya melahirkan pencitraan.
Manasik Habil: Ketakwaan dan Kepekaan Nurani
Kisah Habil dan Qabil mengajarkan bahwa Allah tidak melihat besar kecilnya persembahan, tetapi ketakwaan dan ketulusan hati.
> إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)
Hari ini manusia sering cerdas secara intelektual tetapi miskin empati.
Pandai berbicara tentang kemanusiaan, tetapi sulit merasakan penderitaan orang lain.
Karena itu manasik qurban mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan kekayaan dan popularitas, tetapi ketakwaan dan kepedulian sosial.
Manasik Ibrahim, Ismail, dan Hajar: Pengorbanan dan Ketahanan Keluarga
Kisah Ibrahim, Ismail, dan Hajar adalah manasik pengorbanan tanpa batas.
Mereka mengajarkan bahwa keluarga yang kuat tidak dibangun hanya dengan fasilitas dan kemewahan, tetapi dengan iman, kesabaran, dan pengorbanan.
Hari ini banyak keluarga mengalami krisis komunikasi dan kehilangan empati.
Rumah menjadi besar, tetapi hubungan antar anggota keluarga semakin dingin. Orang tua sibuk dengan pekerjaan. Anak sibuk dengan gadget.
Semua terkoneksi internet, tetapi terputus secara emosional.
Karena itu Idul Adha mengajarkan pentingnya kembali membangun keluarga yang hidup dengan kasih sayang dan pengorbanan.
Manasik Nabi Muhammad SAW: Menjawab Tekanan dengan Spiritualitas
Ketika Nabi Muhammad SAW dihina dan dibully, Allah tidak memerintahkan balas dendam.
Allah justru memerintahkan:
> فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Artinya: tekanan hidup dijawab dengan spiritualitas. Kegelisahan dijawab dengan sujud. Krisis sosial dijawab dengan solidaritas.
Hari ini manusia hidup dalam tekanan ekonomi, kompetisi sosial, framing media, dan budaya digital yang keras.
Tetapi Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan ruhani dan empati.
Shalat menguatkan hubungan dengan Allah.
Qurban menguatkan hubungan dengan sesama manusia.
Karena itu Idul Adha harus menjadi momentum membangun kembali masyarakat yang:
peduli, berempati, berkeadaban, dan tidak kehilangan nurani.
Sebab krisis terbesar dunia modern sesungguhnya bukan hanya krisis ekonomi atau politik, tetapi krisis hati dan krisis empati.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.ds.23052026
