MELABELI PASANGAN ‘AVOIDANT’: TREN GENERASI Z DI TIKTOK DAN BATAS TIPIS ANTARA ATTACHMENT STYLE DAN PERASAAN YANG BERUBAH

MELABELI PASANGAN ‘AVOIDANT’: TREN GENERASI Z DI TIKTOK DAN BATAS TIPIS ANTARA ATTACHMENT STYLE DAN PERASAAN YANG BERUBAH

Hafiza Nurfadila

Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Falah

 

Generasi Z, yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012, kini banyak mencari jawaban tentang hubungan percintaan mereka melalui TikTok. Salah satu tren yang sedang ramai dibahas adalah melabeli pasangan sebagai “avoidant” ketika mereka tampak menjaga jarak, misalnya jarang membalas pesan, enggan membahas perasaan, atau terlihat menjauh secara emosional. Padahal, belum tentu itu tanda Avoidant Attachment Style, bisa saja dia memang sudah tidak memiliki perasaan yang sama, atau ada faktor lain di balik sikapnya. Dari sudut pandang psikologi, fenomena ini menarik untuk dibahas lebih dalam, terutama untuk memahami perbedaan antara perilaku avoidant dan perubahan perasaan dalam hubungan.

Sebenarnya, Apa Sih Maksud di Balik Sebutan ‘Pasangan Avoidant’?

Di TikTok, istilah “avoidant” sering dipakai untuk menggambarkan seseorang yang terlihat susah didekati secara emosional, misalnya, menghindar setiap kali diajak ngobrol soal perasaan, canggung saat diajak bicara tentang komitmen, atau tiba-tiba menarik diri setelah hubungan terasa makin dekat. Tren ini terinspirasi dari konsep psikologi seperti Avoidant Personality Disorder (AVPD) dan Avoidant Attachment Style, yaitu kecenderungan seseorang menjaga jarak karena takut ditolak, disakiti, atau kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Banyak video TikTok yang membahas ciri-ciri pasangan avoidant dengan gaya relatable, masalahnya, tidak semua perilaku itu bisa langsung dikaitkan dengan attachment style. Tanpa pemeriksaan profesional, label seperti itu bisa keliru. Bisa jadi orang yang disebut avoidant itu sebenarnya hanya sedang kehilangan koneksi emosional, sedang capek secara mental, atau memang sudah tidak memiliki perasaan yang sama, bukan karena dia punya gangguan psikologis tertentu.

Lalu, Apa perbedaan antara Avoidant dengan Perasaan yang Mulai Berubah?

Mengetahui perbedaan antara seseorang yang avoidant dan yang memang sudah tidak punya perasaan lagi itu sangat penting, karena keduanya memiliki alasan dan tanda yang berbeda.

Sekilas, perilaku Avoidant memang tampak sama dengan orang yang sudah kehilangan rasa, namun sebetulnya dua hal itu berbeda. Perbedaan itu bisa dilihat dari motivasi dibaliknya.

Seseorang dengan perilaku avoidant sering kali tampak menjaga jarak ketika hubungan mulai terasa terlalu dalam. Mereka mungkin terlihat dingin atau acuh, padahal sebenarnya sedang berusaha melindungi diri dari kemungkinan disakiti. Saat obrolan mulai menyentuh topik perasaan, mereka cenderung menghindar. Di satu sisi, mereka ingin tetap terhubung dengan pasangannya, tapi di sisi lain, ada rasa takut yang membuat mereka sulit membuka diri sepenuhnya.

Pola ini sering kali berakar dari pengalaman masa kecil, misalnya kurang mendapat kasih sayang, sering dikritik, atau pernah mengalami penolakan yang membekas. Karena itulah, dalam hubungan, seseorang yang avoidant mungkin masih menyimpan rasa sayang, tapi kesulitan mengekspresikannya. Ia bisa terlihat menjauh bukan karena tidak peduli, tapi karena sedang berjuang dengan ketakutannya sendiri terhadap kedekatan emosional.

Berbeda dengan itu, orang yang sudah tidak cinta lagi memiliki alasan yang sama sekali lain. Ini bukan tentang ketakutan emosional, melainkan perasaan romantis yang memang sudah memudar. Tidak ada lagi ikatan emosional yang kuat, dan hal ini bisa terjadi secara alami dalam hubungan mana pun.

Orang yang sudah tidak cinta mungkin mulai membalas pesan secara asal-asalan, jarang memulai percakapan, menghilang tanpa kabar, atau bahkan tidak menunjukkan usaha untuk memperbaiki hubungan. Terkadang, mereka hanya ingin menjaga jarak karena memang sudah tidak merasa terhubung lagi seperti dulu.

Alasannya bisa beragam, mulai dari rasa bosan, ketidakcocokan, tertarik pada orang lain, hingga hilangnya koneksi emosional yang dulu pernah ada. Dalam kasus seperti ini, seseorang tidak lagi menahan diri karena takut, melainkan karena perasaannya memang sudah berubah. Mereka tidak lagi mencoba mendekat, bukan karena cemas, tapi karena hatinya sudah tidak di sana.

Kenapa Gen-Z Sering Salah Kaprah Soal Avoidant?

TikTok membuat topik psikologi menjadi lebih mudah diakses siapa pun, tapi di sisi lain, juga membuat istilah-istilahnya sering disalahpahami. Banyak yang memakai kata avoidant, anxious, atau NPD (Narsistic Personality Disorder) tanpa tahu makna psikologis di baliknya. Akhirnya, perilaku pasangan yang sebenarnya normal, seperti butuh waktu sendiri, sedang sibuk, atau memang sudah hilang rasa, malah cepat dilabeli avoidant.

Selain itu, ada kecenderungan manusia untuk langsung mengaitkan perilaku seseorang dengan kepribadiannya, bukan dengan situasi yang dihadapi. Dalam psikologi, ini disebut Fundamental Attribution Error. Jadi, ketika seorang cowok jarang membalas pesan, ceweknya mungkin langsung menganggap dia punya sifat avoidant, padahal bisa jadi dia hanya sedang sibuk, stres, atau memang perasaannya sudah berubah.

Bagi banyak orang, terutama di era digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian hubungan, label seperti “avoidant” memberi semacam rasa lega. Itu terasa seperti jawaban yang masuk akal untuk menjelaskan perilaku pasangan yang tiba-tiba menjaga jarak atau menghilang.

Apalagi, algoritma TikTok ikut memperkuat keyakinan itu. Begitu seseorang menonton satu video tentang “tanda-tanda pasangan avoidant,” ia akan terus disuguhi video sejenis. Akhirnya, persepsi itu makin tertanam, dan label “avoidant” pun mudah disematkan, meskipun belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Apa Dampak Melabeli Pasangan “Avoidant”?

Melabeli pasangan sebagai “avoidant” tanpa penilaian dari profesional justru bisa menimbulkan berbagai masalah dalam hubungan.

Pertama, perilaku seseorang bisa disalahartikan. Tidak semua orang yang tampak menjaga jarak berarti memiliki sifat avoidant. Bisa saja dia sedang lelah, tertekan, atau memang perasaannya sudah berubah. Memberi label seperti itu malah bisa membuat pasangan merasa disalahpahami atau dituduh tanpa alasan jelas.

Kedua, hubungan bisa semakin tegang. Ketika seseorang terus menuduh pasangannya “avoidant,” hal itu dapat memicu sikap defensif, atau bahkan membuat pasangan tersebut makin menjauh. Kalau sebenarnya hubungan itu sudah tidak sehat, label semacam ini hanya memperpanjang masalah tanpa benar-benar menyelesaikannya.

Selain itu, penggunaan istilah psikologis seperti “avoidant” secara sembarangan dapat mengaburkan makna aslinya.

Terakhir, memberi label pada pasangan bisa membuat seseorang terjebak dalam pola pikir yang salah. Ia mungkin terlalu fokus mencari alasan psikologis di balik sikap pasangannya, sampai lupa menilai apakah hubungan itu masih layak dipertahankan atau justru sebaiknya diakhiri. Padahal, yang jauh lebih penting adalah berani membuka percakapan jujur tentang perasaan dan kebutuhan masing-masing. Dengan begitu, kita bisa melihat hubungan apa adanya, tanpa ilusi, tanpa menebak-nebak, dan tanpa menilai dari label yang belum tentu benar.

Kesimpulan

Tren Gen-Z yang sering melabeli pasangannya sebagai “avoidant” akibat pengaruh TikTok memperlihatkan seberapa besar dampak media sosial terhadap cara kita memandang hubungan. Ada perbedaan antara perilaku avoidant dan rasa cinta yang mulai hilang. Seseorang yang avoidant biasanya menjauh karena ketakutan emosional yang dalam, sementara yang tidak lagi mencintai memang sudah kehilangan rasa romantis. Memberikan label “avoidant” tanpa penilaian dari profesional bisa menimbulkan kesalahpahaman, memperkeruh hubungan, dan membuat kita luput melihat akar persoalan sebenarnya. Dengan memahami kesehatan mental lebih dalam, berbicara secara jujur, dan tidak langsung percaya pada konten TikTok, Gen-Z bisa belajar untuk lebih bijak dalam memahami dinamika hubungan tanpa terburu-buru memberi cap tertentu.