MENJAGA TAUHID DI TENGAH GODAAN TREND: TANTANGAN DAKWAH DI ERA DIGITAL

MENJAGA TAUHID DI TENGAH GODAAN TREND:

TANTANGAN DAKWAH DI ERA DIGITAL

Annisa Siti Nuroh

Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Falah

 

Sekarang ini kita hidup di zaman digital yang serba cepat, di mana teknologi dan trend baru terus bermunculan. Hampir semua aspek kehidupan manusia mulai dari gaya hidup, cara berpakaian, sampai cara bersosialisasi banyak dipengaruhi oleh media sosial. Bagi anak muda Muslim, dunia digital bukan hanya tempat untuk mencari ilmu atau berinteraksi, tapi juga wadah untuk mengekspresikan diri. Sayangnya, di balik semua kemudahan dan hiburannya, ada banyak trend digital yang tanpa disadari bisa mengikis nilai-nilai Islam, khususnya dalam menjaga tauhid, yaitu keyakinan akan keesaan Allah SWT.

Tauhid sendiri adalah pondasi paling penting dalam agama Islam. Tapi, di tengah derasnya arus informasi dan budaya populer saat ini, menjaga kemurnian tauhid bukan hal yang mudah. Banyak orang yang tanpa sadar lebih fokus cari perhatian dan pengakuan di media sosial, daripada berusaha mendapatkan ridha Allah SWT. Karena itulah, dakwah di era digital jadi semakin menantang. Dakwah sekarang tidak cukup hanya lewat mimbar masjid, tapi juga harus bisa masuk ke dunia maya supaya pesan tauhid tetap hidup di tengah derasnya trend dan gaya hidup modern.

 

  1. Makna Tauhid dan Relevansinya di Era Digital

Kalau dijelaskan secara sederhana, tauhid itu artinya meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah. Tauhid adalah inti dari ajaran Islam fondasi yang jadi dasar bagi semua ibadah dan perbuatan kita. Tapi tauhid tidak berhenti di ucapan saja, misalnya lewat kalimat “La ilaha illallah”. Tauhid juga harus tercermin dalam sikap dan tindakan sehari-hari, bagaimana kita menjadikan Allah sebagai tujuan utama dalam hidup, bukan sekadar simbol dalam doa.

Di era digital seperti sekarang, menjaga tauhid punya tantangan tersendiri. Dunia maya itu penuh sekali dengan trend, gaya hidup, dan konten yang bisa mengarahkan kita ke hal-hal yang jauh dari nilai Islam. Kadang tanpa sadar kita lebih sibuk mengatur feed biar kelihatan keren, dibanding memperbaiki hubungan kita sama Allah. Padahal, tauhid itu mengajarkan kita supaya hati tetap lurus tidak bergantung pada penilaian orang lain, tapi pada ridha Allah SWT.

Contohnya, saat main media sosial, menjaga tauhid bisa berarti tetap selektif dengan konten yang kita buat atau konsumsi. Tidak ikut-ikutan challenge yang aneh, tidak posting berlebihan hanya untuk cari perhatian, dan tidak pamer harta atau pencapaian yang bisa menimbulkan rasa sombong. Tauhid mengajarkan kalau nilai diri kita bukan dari banyaknya likes atau followers, tapi dari sejauh mana kita taat dan berusaha hidup sesuai syariat.

Selain itu, di dunia digital juga banyak sekali informasi agama yang berseliweran, tapi tidak semuanya benar. Ada yang isinya bagus, tapi ada juga yang menyesatkan. Di sinilah pentingnya tauhid sebagai filter iman agar kita tidak mudah percaya dengan konten agama yang sumbernya tidak jelas. Muslim yang paham tauhid bakal hati-hati, mereka tidak asal ambil dalil atau potongan ayat untuk pembenaran, tapi tetap belajar dari sumber yang terpercaya dan ulama yang berkompeten.

Untuk generasi muda, memahami tauhid dalam konteks sekarang itu sangat penting. Tauhid bukan hanya konsep teologis yang diajarkan di kelas PAI, tapi prinsip hidup yang harus diterapkan di mana pun, termasuk di dunia digital. Dengan tauhid yang kuat, kita bisa lebih bijak dalam bersosial media, lebih tenang dalam menghadapi godaan trend, dan tidak mudah kehilangan arah.

Tauhid juga bisa jadi tameng dari pengaruh negatif digitalisasi, seperti budaya konsumtif, gaya hidup hedonis, atau konten yang menjauhkan kita dari nilai-nilai Islam. Kalau kita sadar bahwa semua yang kita punya adalah titipan Allah, maka kita tidak akan mudah silau dengan pencapaian orang lain atau iri melihat kehidupan orang lain di media sosial.

Pada akhirnya, menjaga tauhid di era digital berarti berusaha tetap sadar bahwa Allah selalu melihat setiap aktivitas kita, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Dunia maya mungkin memberi kebebasan tanpa batas, tapi seorang Muslim sejati tahu bahwa kebebasan itu harus tetap dijaga dalam koridor iman. Itulah bentuk nyata tauhid zaman sekarang bukan hanya di hati dan ucapan, tapi juga di jari dan pikiran setiap kali kita berinteraksi di dunia digital.

  1. Tantangan Menjaga Tauhid di Tengah Godaan Trend Digital

Menjaga tauhid di era digital bukan hal yang mudah. Dunia maya yang penuh dengan trend dan budaya baru sering kali membuat banyak orang kehilangan arah. Salah satu tantangan terbesarnya adalah budaya eksistensi dan validasi di media sosial. Banyak orang ingin selalu terlihat sempurna, berlomba-lomba menampilkan versi terbaik dari dirinya supaya mendapat perhatian dan pujian dari orang lain. Sayangnya, kebiasaan seperti ini bisa menumbuhkan sikap riya dan menghilangkan keikhlasan. Padahal, tauhid mengajarkan kita bahwa setiap amal seharusnya hanya ditujukan kepada Allah SWT, bukan demi pujian manusia atau sekadar ingin dianggap keren.

Selain itu, dunia digital juga dipenuhi berbagai trend yang kadang jauh dari nilai-nilai Islam. Banyak tantangan atau konten viral yang secara tidak sadar menjerumuskan ke arah gaya hidup hedonis dan konsumtif. Misalnya, konten pamer barang mewah, tantangan yang mengabaikan batas aurat, atau lelucon berlebihan yang menyinggung nilai-nilai agama. Kalau tidak hati-hati, trend semacam ini bisa bikin seseorang terlena dan lupa dengan ajaran Islam. Tauhid seharusnya jadi pengingat bahwa tidak semua yang viral itu baik untuk diikuti.

Tantangan lainnya datang dari derasnya arus informasi di internet. Di satu sisi, dunia digital memudahkan kita untuk belajar tentang agama. Tapi di sisi lain, banyak juga ajaran atau tafsir Islam yang beredar tanpa sumber yang jelas. Kadang, ada konten dakwah yang kelihatannya menarik dan banyak dibagikan, tapi ternyata isinya menyesatkan atau keluar dari konteks ajaran sebenarnya. Karena itu, penting sekali untuk generasi muda Muslim punya literasi digital dan pengetahuan agama yang cukup, supaya tidak mudah percaya dengan informasi yang belum tentu benar.

Selain dari sisi konten, masalah lain yang muncul adalah kurangnya teladan di dunia maya. Ada beberapa figur publik atau influencer Muslim yang seharusnya bisa jadi panutan, tapi justru terjebak dalam pencitraan. Mereka lebih fokus membangun popularitas dibanding menyampaikan pesan dakwah yang menyejukkan. Akibatnya, nilai dakwah jadi kurang terasa dan malah kehilangan esensi. Menjaga tauhid berarti juga menjaga ketulusan dan konsistensi, baik di dunia nyata maupun dunia digital. Seorang Muslim yang bertauhid sejati seharusnya bisa tetap berintegritas, meskipun berada di tengah sorotan dan pengaruh besar dunia maya.

 

  1. Strategi Dakwah Menjaga Tuhid di Era Digital

Dalam menghadapi era digital yang serba cepat, dakwah juga perlu beradaptasi supaya tetap relevan dan mudah diterima oleh generasi muda. Para dai maupun kreator konten Muslim sekarang dituntut untuk bisa menyampaikan pesan tauhid dengan cara yang kreatif dan menarik. Media seperti TikTok, Instagram, atau YouTube bisa dimanfaatkan sebagai sarana dakwah yang ringan tapi bermakna. Dengan menggunakan bahasa yang santai dan dekat dengan gaya anak muda, pesan keislaman bisa tersampaikan tanpa terkesan menggurui. Dakwah digital bukan lagi soal siapa yang paling banyak bicara, tapi siapa yang paling bisa menyentuh hati dengan cara yang bijak dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Selain soal gaya penyampaian, dakwah di dunia digital juga harus menanamkan nilai keikhlasan dan tanggung jawab dalam berinternet. Setiap Muslim perlu sadar bahwa apa pun yang ia bagikan di media sosial baik postingan, komentar, atau pesan, akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Inilah bentuk nyata dari dakwah tauhid di era digital, yaitu menumbuhkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap aktivitas kita, bahkan di dunia maya. Niat yang tulus dan rasa tanggung jawab ini akan membuat konten dakwah lebih jujur, bermanfaat, dan jauh dari kepentingan pribadi atau sekadar mencari popularitas.

Selain itu, kolaborasi antar anak muda Muslim di dunia digital juga bisa menjadi kekuatan besar dalam menyebarkan dakwah. Dengan bekerja sama membuat konten positif yang mengandung nilai-nilai tauhid seperti edukasi Islam, refleksi diri, dan motivasi spiritual. Pesan dakwah akan terasa lebih membumi dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Dakwah jadi bukan sekadar ceramah satu arah, melainkan ruang dialog dan saling belajar antar generasi muda yang punya semangat yang sama untuk menegakkan nilai Islam di dunia digital.

Yang tak kalah penting adalah memperkuat literasi Islam sekaligus literasi digital. Dakwah yang efektif harus lahir dari pengetahuan yang benar. Karena itu, anak muda Muslim perlu memperdalam ilmu agama agar tidak mudah salah paham terhadap ajaran Islam, serta memahami cara kerja dunia digital agar bisa memanfaatkannya dengan bijak. Kombinasi antara ilmu agama yang kuat dan kemampuan digital yang baik akan membuat dakwah lebih tepat sasaran, tetap sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta mampu menjawab tantangan zaman modern tanpa kehilangan nilai tauhid yang sejati.

 

Kesimpulan

Menjaga tauhid di zaman digital sekarang ini memang bukan hal yang mudah. Dunia maya penuh dengan berbagai trend dan gaya hidup yang bisa menggoyahkan iman dan niat baik seseorang. Tapi, kalau generasi muda Muslim punya pemahaman yang benar tentang agama, dibarengi dengan keikhlasan dan cara berdakwah yang kreatif, mereka bisa tetap kuat menjaga keyakinannya. Tauhid harus jadi arah utama atau kompas dalam setiap langkah hidup, baik di dunia nyata maupun di dunia digital yang serba cepat dan terbuka.

Dakwah di era digital juga tidak cukup hanya sekadar membagikan konten Islami. Lebih dari itu, dakwah sekarang adalah tentang bagaimana menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas online kita. Saat seseorang benar-benar sadar bahwa semua yang ia lakukan akan kembali kepada Allah, maka ia akan lebih hati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial. Inilah makna sejati dari dakwah tauhid bukan hanya soal berbicara tentang keesaan Allah, tapi bagaimana menjaga hati agar tetap terhubung dengan-Nya, meskipun hidup di tengah arus trend dan distraksi dunia digital yang tidak ada habisnya.

Leave a Reply