MENJERNIHKAN ILHAM, ILMU DAN JALAN KEBENARAN
Oleh: Duski Samad
Kajian Subuh Masjid Darul Muttaqin | 20 Januari 2026
Hati sebagai Pusat Kendali
Kegagalan sering kali bukan disebabkan oleh minimnya data atau dangkalnya ilmu, melainkan karena kebutaan bashirah (mata batin). Inilah akar masalah mengapa banyak kebijakan yang secara hukum “legal”, namun secara hakikat “zalim”.
Allah SWT mengingatkan:
> ﴿فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ﴾
> “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)
Rasulullah SAW mempertegas posisi hati sebagai raja dalam diri manusia: “Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruhnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Makna Profetik: Reformasi sistem birokrasi tanpa reformasi hati pemimpin hanyalah kosmetik kekuasaan.
Etika Ilmu dan Amanah Kekuasaan
Ilmu tanpa rasa takut (khasy-yah) adalah bencana. Ilmu yang terputus dari nur ilahi akan berubah menjadi alat dominasi dan pembenaran ego, bukan petunjuk kebenaran.
> ﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾
> “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fāṭir: 28)
Kepemimpinan dalam Islam bukanlah kehormatan yang patut dirayakan, melainkan beban hisab yang berat.
> “Kepemimpinan adalah amanah, dan kelak menjadi penyesalan kecuali bagi yang menunaikannya dengan benar.” (HR. Muslim)
Pemimpin yang adil kelak berdiri di atas “mimbar cahaya” bukan karena popularitasnya, tetapi karena keberaniannya melawan ego demi menegakkan keadilan. Sebaliknya, pemimpin yang mengorbankan salah satu dari Maqāṣid al-Syari‘ah (Agama, Jiwa, Akal, Harta, Kehormatan) demi stabilitas semu, sesungguhnya telah keluar dari jalan profetik.
Menimbang Ilham dengan Syariat.
Di era di mana banyak pemimpin mengandalkan “intuisi” atau “bisikan batin”, kaidah tasawuf memberikan batasan tegas agar tidak tergelincir:
> “Setiap ilham yang tidak disaksikan (dibenarkan) oleh Al-Qur’an dan Sunnah, maka ia tertolak (batil).”
Batasan Merah: Pemimpin haram menjadikan “kata hati” sebagai dasar kebijakan apabila:
Bertentangan dengan teks Syariat.
Menzalimi pihak yang lemah.
Menutup ruang musyawarah (anti-kritik).
Dalam fiqh siyasah berlaku prinsip Sadd adz-Dzari‘ah (menutup celah keburukan): Kebijakan yang asalnya mubah (boleh), berubah menjadi haram bila menjadi sarana kezaliman. Kebijakan yang sah secara prosedur tetapi merusak martabat manusia adalah cacat secara etika syar’i.
Tazkiyah: Terapi Penyakit
Imam Al-Ghazali memetakan penyakit batin yang menjadi hulu dari korupsi moral dan harta:
Ujub: Merasa paling tahu (intelektual yang angkuh).
Hubb al-jāh: Gila jabatan dan pencitraan.
Ghaflah: Lalai bahwa jabatannya akan dihisab.
Solusi Struktur Spiritual:
Ta‘līm (Pengajaran): Membentuk kecakapan teknis dan logika dalil.
Tazkiyah (Penyucian): Membersihkan niat agar ilmu tidak menjadi hijab (penghalang).
Kepemimpinan sejati adalah jalan suluk di tengah keramaian. Bukan lari dari dunia, tetapi menundukkan dunia dalam ketaatan.
Lentera Hati: Mensinergikan Nalar dan Nurani.
Di tengah krisis keteladanan, kita membutuhkan pemimpin yang menempuh dua jalan sekaligus:
Tharīq al-Nazar (Jalan Nalar): Menggunakan logika, data, dan argumentasi untuk merumuskan kebijakan. Namun ingat, jalan ini sering berhenti hanya di kepala.
Tharīq al-Shūfiyyah (Jalan Penyucian): Menggunakan dzikir dan muhasabah untuk melahirkan ma’rifat (kearifan). Jalan ini harus selalu dikawal syariat.
Pituah Lentera:
Nalar berfungsi mengetahui kebenaran.
Hati berfungsi mengalami kebenaran.
Pemimpin sejati memadukan keduanya.
Amalan Penjaga Hati bagi Pemimpin:
Harian: Dzikir singkat dan niat ulang amanah setiap pagi.
Mingguan: Muhasabah keputusan (Siapa yang diuntungkan? Siapa yang terluka?).
Bulanan: Khalwat singkat (hening terarah) untuk membaca diri sebelum membaca situasi.
Ilmu yang menyelamatkan bermula dari ta‘līm, disinari ilham yang shahih, dituntun syariat, dan berbuah akhlak.
Di situlah ulama menjadi penuntun yang jernih, dan pemimpin menjadi pelayan yang adil.
Doa Sufistik-Profetik: “Ya Allah, bersihkan hati para pemimpin kami dari cinta diri, terangilah ilmu mereka dengan nur-Mu, dan selamatkan keputusan mereka dari kezaliman yang tersembunyi.”
“Perbaiki hati, niscaya Allah perbaiki arah.”
DS. Ambon 1/4. 19012026.





