MENYAMBUNG SANAD ILMU, MELETAKKAN BATU PERADABAN:
(Taushiyah Halal Bihalal dan Peletakan Batu Pertama MTI Tarusan Kamang Kabupaten Agam Sumbar)
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag Tuanku Mudo
Wakil Ketua Umum PP PERTI
Pembangunan lembaga pendidikan Islam tidak pernah sekadar pembangunan fisik. Ia selalu merupakan pembangunan nilai, pembangunan karakter, dan pembangunan peradaban. Karena itu, kegiatan Halal Bihalal dan peletakan batu pertama pembangunan gedung baru MTI Tarusan Kamang sesungguhnya bukan hanya agenda seremonial, tetapi momentum strategis untuk meneguhkan kembali komitmen menjaga kesinambungan warisan keilmuan ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI).
Dalam perspektif Al-Qur’an, pendidikan sejati selalu dimulai dari pembinaan jiwa. Allah SWT menegaskan:
“Sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya.” (QS Al-A’la: 14)
Ayat ini mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi dari keberhasilan membentuk kepribadian yang bersih, akhlak yang kuat, dan integritas moral yang kokoh. Inilah kekuatan utama pendidikan MTI sejak awal berdirinya: memadukan ilmu, adab, dan pembinaan ruhani.
Hal ini juga ditegaskan dalam firman Allah:
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS An-Najm: 32)
Ayat ini menjadi peringatan penting bagi dunia pendidikan Islam bahwa ilmu harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan intelektual. Tradisi ulama PERTI sejak dahulu menanamkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin dalam tawadhu’nya kepada guru, kepada sanad keilmuan, dan kepada Allah SWT.
Inilah makna penting sanad keilmuan dalam tradisi MTI. Sanad bukan sekadar rantai transmisi ilmu, tetapi juga rantai adab, rantai akhlak, dan rantai tanggung jawab moral. Dari Syekh Sulaiman Arrasuli, Buya Arifin Djamil Tuanku Solok, hingga guru-guru MTI hari ini, semua adalah mata rantai yang menjaga kemurnian ilmu Ahlussunnah wal Jamaah.
Karena itu pembangunan gedung baru MTI sesungguhnya adalah upaya menjaga keberlanjutan sanad tersebut. Gedung boleh baru, tetapi ruh perjuangan ulama harus tetap sama: menjaga akidah, membina akhlak, dan mencerdaskan umat.
Kesadaran ini penting karena Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa amanah ilmu akan dimintai pertanggungjawaban:
“Maka pasti Kami akan menanyai umat yang telah menerima risalah dan Kami akan menanyai para rasul.” (QS Al-A’raf: 6)
Ayat ini memberi pesan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi tanggung jawab kolektif. Pengurus lembaga, alumni, masyarakat, dan umat memiliki peran dalam memastikan keberlanjutan lembaga pendidikan Islam.
Sejarah menunjukkan bahwa lembaga pendidikan besar selalu tumbuh dari dukungan jamaah, bukan kerja individu. MTI bertahan hingga hari ini karena ia hidup bersama masyarakat, tumbuh bersama umat, dan dijaga oleh rasa memiliki kolektif.
Di sisi lain, tantangan zaman menuntut MTI tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memperkuat kompetensi alumninya. Al-Qur’an telah memberikan konsep kaderisasi yang sangat jelas:
“Tidak sepatutnya semua orang pergi (berjuang). Mengapa tidak ada sebagian yang memperdalam ilmu agama untuk memberi peringatan kepada kaumnya.” (QS At-Taubah: 122)
Ayat ini menjadi dasar penting bagi konsep kaderisasi ulama. Alumni MTI ke depan harus memiliki kompetensi yang utuh: kedalaman ilmu agama, kemampuan dakwah, kepemimpinan sosial, dan kemampuan menjawab persoalan umat secara nyata.
Karena itu MTI tidak cukup hanya melahirkan lulusan yang mampu membaca kitab, tetapi juga harus melahirkan kader umat yang mampu menjadi solusi masyarakat.
Lebih jauh lagi, tantangan globalisasi menuntut lembaga pendidikan Islam melahirkan generasi yang memiliki wawasan luas. Allah SWT menggambarkan hal ini dalam kisah Nabi Adam:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah: 31)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam mendorong penguasaan ilmu yang luas dan komprehensif. Ini menjadi dasar bahwa santri MTI ke depan harus memiliki kemampuan adaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keilmuan dan akhlak.
Kekuatan MTI harus tetap pada penguasaan turats (khazanah klasik), tetapi juga terbuka terhadap penguatan literasi digital, komunikasi global, dan kemampuan sosial yang dibutuhkan umat hari ini.
Peletakan batu pertama pembangunan gedung MTI Tarusan Kamang karena itu harus dimaknai sebagai peletakan batu peradaban. Batu ini bukan hanya fondasi bangunan, tetapi fondasi lahirnya generasi ulama masa depan.
Jika gedung ini selesai, maka harapan besar yang harus lahir darinya adalah generasi yang memiliki kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, keluasan wawasan, dan komitmen menjaga Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Sejarah PERTI membuktikan bahwa MTI telah melahirkan ulama yang tidak hanya mendidik umat, tetapi juga menjaga harmoni sosial dan keutuhan bangsa. Peran ini harus terus dilanjutkan oleh generasi hari ini.
Akhirnya, pembangunan MTI harus dilihat sebagai investasi peradaban. Siapa yang berkontribusi di dalamnya sesungguhnya sedang menanam amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir. Rasulullah SAW menegaskan bahwa amal yang tidak terputus adalah sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat. MTI adalah tempat bertemunya keduanya.
Maka membangun MTI bukan sekadar membangun sekolah. Ia adalah membangun masa depan umat.
MTI harus terus menjadi pusat kaderisasi ulama, pusat pembinaan karakter, dan pusat penguatan Islam moderat yang berakar pada tradisi tetapi mampu menjawab tantangan zaman.
Karena di lembaga seperti inilah peradaban Islam selalu menemukan nafas panjangnya.
Wallahu a’lam bishshawab.








