MODERNISME DAN PENYAKIT JIWA KOLEKTIF

MODERNISME DAN PENYAKIT JIWA KOLEKTIF
Kritik Tasawuf terhadap Ekonomikrakusme, Krisis Spiritual, dan Kekerasan Kemanusiaan Global

Duski Samad
Guru Besar Ilmu Tasawuf
UIN Imam Bonjol Padang

 

Artikel ini menganalisis modernisme sebagai faktor utama munculnya penyakit jiwa kolektif dalam masyarakat global kontemporer. Dengan pendekatan kualitatif–kritis berbasis kajian pustaka, artikel ini mengintegrasikan tasawuf klasik, kritik modernitas, dan psikologi Islam untuk menunjukkan bahwa modernisme—melalui rasionalisasi ekstrem, kapitalisme, dan sekularisasi nilai—telah melahirkan krisis spiritual yang berdampak pada kerusakan ekologis, kegelisahan psikologis, dan kekerasan kemanusiaan termasuk perang dan genosida. Artikel ini menegaskan bahwa tasawuf menawarkan paradigma tazkiyah kolektif sebagai jalan pemulihan peradaban.

Modernisme sering dipahami sebagai tonggak kemajuan manusia melalui rasionalitas, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Namun dalam praktik sejarahnya, modernisme justru melahirkan paradoks: kemajuan material yang tidak berbanding lurus dengan kesehatan batin dan moral manusia. Dunia modern ditandai oleh meningkatnya gangguan mental, kerusakan lingkungan, dan konflik kemanusiaan berskala global.

Dalam perspektif Islam, krisis ini tidak dapat dilepaskan dari hilangnya dimensi spiritual dalam kehidupan manusia. Al-Qur’an menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi berakar pada ulah manusia sendiri (QS. al-Rūm: 41). Tasawuf sebagai disiplin penyucian jiwa memandang krisis modernitas bukan sekadar kegagalan sistem, tetapi sebagai penyakit jiwa kolektif yang menuntut penyembuhan batiniah.

Modernisme dan Rasionalitas Tanpa Nurani

Modernisme berpijak pada rasionalitas instrumental—sebagaimana dikritik oleh Max Weber—yang menilai segala sesuatu berdasarkan efisiensi dan kegunaan. Dalam kerangka ini, nilai spiritual dan etika dianggap subjektif dan tidak ilmiah. Akibatnya, ilmu dan teknologi berkembang tanpa kendali moral.

Para pemikir kritis modernitas seperti Zygmunt Bauman menunjukkan bahwa rasionalitas modern justru mampu melahirkan kekerasan sistemik, termasuk genosida, melalui mekanisme birokrasi yang dingin dan impersonal. Kekerasan tidak lagi dilakukan oleh individu sadis, tetapi oleh sistem rasional yang kehilangan empati.

Tasawuf menolak dikotomi antara rasio dan nurani. Imam al-Ghazali menegaskan bahwa akal yang tidak dipandu hati dan wahyu akan tersesat, sementara hati yang tidak disinari ilmu akan jatuh pada kebodohan (Ihya’ ‘Ulumuddin).

Ekonomikrakusme dan Kapitalisme sebagai Penyakit Jiwa

Modernisme melahirkan kapitalisme global yang menjadikan akumulasi modal sebagai tujuan utama kehidupan. Dalam konteks ini, lahirlah apa yang dapat disebut ekonomikrakusme: kerakusan ekonomi yang dilembagakan secara sistemik.

Tasawuf mengidentifikasi kerakusan ini sebagai manifestasi dari ḥubb al-dunyā (cinta dunia berlebihan) dan ṭama‘ (ketamakan), yang merupakan penyakit hati. Al-Ghazali menegaskan bahwa cinta dunia adalah akar dari segala kesalahan moral. Ketika penyakit ini bersifat kolektif, ia melahirkan eksploitasi alam, ketimpangan sosial, dan kehancuran ekologi.

Psikologi Islam kontemporer menunjukkan bahwa orientasi hidup materialistik berkorelasi dengan kecemasan, depresi, dan kehampaan makna (Aydin, 2019). Dengan demikian, kapitalisme modern tidak hanya merusak struktur sosial, tetapi juga merusak kesehatan mental kolektif.

Penyakit Jiwa Kolektif dan Kekerasan Kemanusiaan

Salah satu konsekuensi paling ekstrem dari penyakit jiwa kolektif adalah legitimasi kekerasan massal. Perang dan genosida modern sering dipimpin oleh elite yang menunjukkan gejala gangguan psikososial: narsisme patologis, empati yang tumpul, dan paranoia kekuasaan.

Dalam perspektif tasawuf, kekuasaan tanpa tazkiyah akan melahirkan nafs al-ammārah dalam skala negara. Teknologi modern memperparah situasi ini dengan menyediakan alat pembunuhan massal yang efisien dan terlegitimasi oleh bahasa hukum dan keamanan.

Tasawuf memandang kekerasan semacam ini sebagai tanda kematian nurani kolektif, di mana hati tidak lagi berfungsi sebagai pusat moral.

Tasawuf sebagai Jalan Tazkiyah Kolektif

Tasawuf tidak berhenti pada asketisme individual, tetapi menawarkan paradigma transformasi peradaban. Konsep tazkiyat al-nafs diperluas menjadi tazkiyat al-mujtama‘ (penyucian masyarakat), yang meliputi:

1. Reintegrasi etika dalam ekonomi,
2. Penundukan kekuasaan pada amanah spiritual,
3. Penyatuan ilmu dengan hikmah,
4. Pemulihan relasi harmonis manusia–alam.

Al-Qur’an menegaskan bahwa ketenangan jiwa hanya dapat dicapai melalui dzikir dan kesadaran ilahiah (QS. al-Ra‘d: 28). Dalam konteks modernitas, tasawuf berfungsi sebagai kritik epistemologis dan terapeutik terhadap peradaban yang sakit.

Kesimpulan

Modernisme telah berkembang dari proyek emansipasi menjadi sumber krisis batin kolektif. Rasionalitas tanpa nurani, kapitalisme tanpa etika, dan kekuasaan tanpa tazkiyah telah melahirkan kegelisahan psikologis, bencana ekologis, dan kekerasan kemanusiaan global.

Artikel ini menegaskan bahwa tasawuf menawarkan alternatif paradigmatik berupa penyembuhan jiwa kolektif melalui tazkiyah yang bersifat individual sekaligus struktural. Tanpa pemulihan dimensi spiritual, modernitas akan terus mereproduksi kehancuran dalam wajah yang semakin canggih.

Daftar Pustaka (Referensi Pilihan)

Sumber Klasik Islam

1. Al-Ghazali. (2005). Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

2. Al-Qur’an al-Karim.

3. Ibn Qayyim al-Jawziyyah. (1997). Ighathat al-Lahfan. Cairo: Dar al-Hadith.

Tasawuf & Studi Islam Kontemporer 4. Nasr, S. H. (2007). Islam, Science, and the Sacred. Chicago: Kazi Publications.
5. Nasr, S. H. (1996). Religion and the Order of Nature. Oxford: Oxford University Press.
6. Chittick, W. C. (2012). Sufism: A Short Introduction. Oxford: Oneworld.

Kritik Modernitas & Sosial 7. Weber, M. (2002). The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. London: Routledge.
8. Bauman, Z. (1989). Modernity and the Holocaust. Ithaca: Cornell University Press.
9. Fromm, E. (1976). To Have or To Be? New York: Harper & Row.

Psikologi & Spiritualitas 10. Aydin, N. (2019). Meaning, Religion, and Mental Health. Journal of Muslim Mental Health, 13(1).
11. Pargament, K. (2013). Spiritually Integrated Psychotherapy. New York: Guilford Press.
12. Badri, M. (2013). Contemplation: An Islamic Psychospiritual Study. London: IIIT.