NILAI NILAI ISLAM DALAM TRADISI UNJUNGAN BUYUT TRUSMI
Oleh:
Cipta: Hadi, Ikhwan, Atika Rahmah
Dosen Pengampu: Fadli Daud Abdullah S.H.,M.H
Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Tradisi Unjungan Buyut Trusmi merupakan acara adat tahunan masyarakat Cirebon, tradisi ini sudah ada sejak abad ke-15 M atau sekitar 1615 hahun. Kegiatan tahunan khas Kabupaten Cirebon yang berpusat di Desa Trusmi. Ritual ini menjadi ajang penting bagi warga lokal dan pendatang dari desa lain untuk berkumpul dan mempererat tali silaturahmi (Ukhuwah Islamiyah).
Ribuan warga memadati jalan utama desa, yang juga merupakan pusat kerajinan batik, sejak pagi hari.Sesepuh desa, KH. Tony Syach, menegaskan bahwa acara ini sarat makna, bukan sekadar menjalankan adat semata. Kegiatan ini utamanya dilakukan untuk berkumpul, berdoa dan memohon, menonton arak-arakan, inti dari kegiatan ini adalah arak-arakan (pawai) yang juga disebut Memayu Buyut Trusmi.
Acara ini biasa diadakan pada hari Minggu subuh, sehari sebelum penggantian welit makam Ki Buyut Trusmi, rute pawai dimulai dari Trusmi Wetan, melewati Trusmi Kulon dan Jalan Raya Plered, lalu kembali ke Trusmi, arak-arakan menampilkan aneka pertunjukan, kreativitas warga, dan berakhir sekitar pukul 9 atau 10 pagi.
Seluruh rangkaian acara menjadi simbol kebersamaan dan kegembiraan kolektif warga Cirebon. pertunjukan utama dimulai setelah subuh dengan balapan atau pacuan kuda adanya pacuan kuda ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur atau tokoh yang di yakini berjasa dalam menyebarkan Islam di wilayah tersebut. Namun, atraksi pacuan kuda pernah menimbulkan kontroversi serius pada tahun 2017 akibat kecelakaan yang melibatkan kuda, joki, dan seorang ibu penyeberang.
Setelah pacuan kuda, dilanjutkan dengan atraksi jangkungan (berjalan menggunakan galah/egrang) dengan ketinggian bervariasi, pertunjukan ini umumnya dilakukan oleh pria, menampilkan atraksi lompat dan mendekam, pertunjukan selanjutnya adalah meriam sederhana dari bambu dan kesenian Tarling (Gitar lan Suling) khas Cirebon.
Bagian yang paling dinanti warga adalah pembagian makanan gratis seperti nasi, es teh, sayur- mayur, dan makanan ringan, makanan yang disajikan di kompleks makam Buyut Trusmi telah disiapkan sehari sebelumnya oleh warga sekitar sebagai bentuk sedekah, tersedia beragam jenis makanan dalam jumlah banyak untuk dibagikan dan dimakan bersama usai arak-arakan.
Petugas keamanan memiliki cara unik untuk menjaga jarak penonton, yaitu dengan membaluri tubuh mereka dengan oli hingga berwarna hitam, hal ini bertujuan agar penonton menjaga jarak aman dan tidak terlalu dekat dengan barisan pawai arak-arakan, pawai ditutup dengan arak- arakan aneka replika hewan yang dibuat secara handmade oleh warga Cirebon.
Bahan utama yang digunakan untuk membuat replika-replika besar ini adalah bambu. Contoh replika yang dipamerkan meliputi kerbau, naga, harimau, burok, ondel-ondel, dan burung garuda. Keunikan dan kreativitas warga dalam membuat replika ini menjadi daya tarik utama bagi penonton.
Secara keseluruhan, tradisi ini terus dilestarikan dan rutin diadakan oleh warga Cirebon. Tradisi ini juga dikenal sebagai Unjungan Buyut Trusmi dan memiliki nilai-nilai Islam yang mendalam. Ritual ini menjadi perpaduan harmonis antara adat lokal Cirebon dan ajaran agama Islam, salah satu nilai intinya adalah Syukur kepada Allah SWT atas segala keberkahan, kesejahteraan, dan hasil bumi yang melimpah.
Kegiatan ini mengajak masyarakat untuk selalu introspeksi diri dan bersyukur atas nikmat yang diterima. Rasa syukur ini terwujud melalui ritual dan kebersamaan, Unjungan Buyut Trusmi memiliki fungsi utama sebagai doa bersama untuk arwah leluhur, termasuk Ki Buyut Trusmi, dan kerabat yang sudah meninggal. Pelaksanaan tahlil bersama merupakan praktik zikir dan doa yang sangat lekat dengan ajaran Islam (Tauhid dan Doa).
Walaupun menghormati leluhur, niat utama ziarah tetap memohon berkah dan doa kepada Allah SWT. Hal ini sejalan dengan syariat ziarah kubur, menekankan pentingnya mendoakan arwah, nilai Tauhid tetap menjadi fondasi utama dalam setiap ritual doa.
Nilai penting lainnya yang diusung adalah Sedekah dan Kedermawanan (Kemanusiaan). Kegiatan ini melibatkan pembagian makanan dan uang (sedekah) kepada warga, khususnya bagi yang kurang mampu, aspek ini sangat selaras dengan ajaran Islam tentang kepedulian sosial dan perintah untuk berinfak/bersedekah kepada sesama.
Inilah manifestasi nyata dari praktik berbagi rezeki dan solidaritas sosial. Porsi makanan gratis yang melimpah menjadi simbol kedermawanan kolektif desa, silaturahmi dan Kebersamaan adalah ruh dari tradisi ini, memperkuat Ukhuwah Islamiyah. Unjungan menjadi kesempatan bagi sanak saudara, baik dekat maupun jauh, untuk bertemu dan mempererat ikatan kekeluargaan.
Nilai gotong royong dalam persiapan acara juga sangat menonjol dan menjadi bagian integral dari persaudaraan Islam. Tradisi ini memperkokoh tali persatuan di antara seluruh warga Trusmi dan sekitarnya, keramaian acara membuktikan tingginya semangat kebersamaan masyarakat.
Terakhir, tradisi ini menekankan pentingnya Adab dan Kesopanan (Akhlakul Karimah), dalam ziarah, penting untuk membawa niat yang tulus, berpakaian sopan (menutup aurat), dan memiliki tata krama, sikap hormat, tenang, dan menghindari perbuatan tidak sopan di area makam sangat ditekankan. Nilai-nilai ini merefleksikan ajaran Islam tentang akhlak yang mulia dan terpuji, Unjungan Buyut Trusmi adalah warisan budaya yang kaya dan sarat makna spiritual.
