PADANG PARIAMAN PENYANGGA METROPOLITAN

PADANG PARIAMAN PENYANGGA METROPOLITAN:
Membangun Masa Depan Berbasis Sejarah, Sumber Daya Insani, Pendidikan, Pariwisata, dan Kekuatan Budaya Lokal

Oleh: Duski Samad
Cendekiawan Padang Pariaman

Kabupaten Padang Pariaman sedang memasuki babak baru sejarahnya. Jika dahulu dikenal sebagai Piaman Laweh, wilayah yang sangat luas membentang dari Air Bangis hingga Kepulauan Mentawai, kini setelah berbagai pemekaran wilayah, Padang Pariaman hadir dengan wajah baru sebagai kabupaten penyangga kawasan Metropolitan Padang Raya. Perubahan ini bukanlah kemunduran, melainkan transformasi menuju peran yang lebih strategis.

Letaknya yang mengapit Kota Padang dan Kota Pariaman, menjadi lokasi Bandara Internasional Minangkabau, serta berada pada jalur utama lintas Sumatera menjadikan Padang Pariaman memiliki posisi yang sangat menentukan bagi pertumbuhan Sumatera Barat. Daerah ini memiliki peluang menjadi pusat pertumbuhan baru yang mengintegrasikan permukiman, pendidikan, perdagangan, industri kreatif, pariwisata, dan jasa.

Namun sesungguhnya, kekuatan utama Padang Pariaman bukan hanya terletak pada posisi geografisnya, melainkan pada sumber daya insani yang dimilikinya. Dari daerah ini lahir banyak ulama besar, Tuanku, cendekiawan, birokrat, akademisi, politisi, pengusaha, dan tokoh nasional. Di perantauan, jaringan Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) telah berkembang hampir di seluruh Indonesia bahkan di berbagai negara. Jejaring rantau tersebut merupakan modal sosial yang luar biasa apabila mampu disinergikan dengan pembangunan daerah.

Karakter masyarakat Piaman juga memiliki keunikan tersendiri. Budaya cimeeh mencerminkan kecerdasan sosial dan kemampuan berkomunikasi. Jiwa kompetitif melahirkan semangat untuk maju, sedangkan budaya gotong royong, badoncek, saiyo sakato, dan sato sakaki menunjukkan kuatnya solidaritas sosial. Nilai-nilai inilah yang menjadi modal pembangunan yang tidak dapat dibeli dengan anggaran pemerintah.

Karena itu, pembangunan Padang Pariaman memerlukan pemimpin yang tidak hanya cerdas secara administratif, tetapi juga memiliki kreativitas, kapasitas, integritas, dan kemampuan membangun kolaborasi. Kepemimpinan formal harus mampu bersinergi dengan kepemimpinan informal yang selama ini hidup dalam diri niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda, dan tokoh masyarakat. Budaya musyawarah dan mufakat yang diwariskan para pendahulu perlu terus dihidupkan agar pembangunan benar-benar menjadi gerakan bersama.

Tradisi merantau masyarakat Piaman juga harus ditempatkan sebagai kekuatan pembangunan. Sudah waktunya dikembangkan gerakan “Rantau untuk Ranah”, yaitu membangun sinergi antara pemerintah daerah dan para perantau dalam bidang investasi, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta pengembangan nagari. Potensi zakat, infak, sedekah, wakaf produktif, dan filantropi Islam dapat menjadi instrumen pembangunan apabila dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel.

Sebagai daerah penyangga metropolitan, Padang Pariaman juga harus bertransformasi menjadi pusat pendidikan dan pelatihan. Pengembangan sekolah unggulan, pesantren modern, perguruan tinggi, balai latihan kerja, pusat inovasi, dan inkubator bisnis perlu menjadi prioritas. Program Tarok City hendaknya terus dikembangkan sebagai kawasan pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia yang melayani kebutuhan Sumatera Barat bahkan kawasan barat Indonesia.

Selain pendidikan, sektor yang memiliki peluang besar adalah pariwisata. Padang Pariaman memiliki kekayaan alam, sejarah, dan budaya yang sangat lengkap. Potensi terbesar yang perlu dikembangkan adalah wisata religi yang berpusat di Makam Syekh Burhanuddin Ulakan. Syekh Burhanuddin bukan hanya ulama besar Minangkabau, tetapi tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Tradisi Basapa yang berlangsung setiap tahun merupakan warisan dakwah, pendidikan, dan kebudayaan Islam yang telah hidup selama berabad-abad.

Sudah saatnya Makam Syekh Burhanuddin dan Basapa tidak hanya dipromosikan sebagai agenda lokal atau provinsi, tetapi diinternasionalkan sebagai bagian dari jaringan wisata religi dunia Islam. Sebagaimana dunia mengenal makam Imam al-Bukhari di Uzbekistan, Jalaluddin Rumi di Turki, atau para wali di Maroko dan India, Syekh Burhanuddin juga layak diperkenalkan kepada masyarakat Islam dunia sebagai ulama besar Nusantara.

Basapa pun perlu dikembangkan menjadi Festival Peradaban Islam Minangkabau yang memadukan seminar internasional, konferensi ulama, festival budaya, pameran manuskrip Islam, ekonomi syariah, wisata halal, dan promosi UMKM. Dengan demikian, Padang Pariaman dapat menjadi salah satu pusat wisata religi Islam di Asia Tenggara.

Pengembangan wisata juga tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Seluruh potensi daerah perlu diintegrasikan dalam konsep destinasi wisata terpadu. Wisatawan yang datang berziarah ke Ulakan dapat diarahkan menikmati panorama pantai Padang Pariaman, keindahan Air Terjun Nyarai, wisata nagari, kuliner khas Piaman, pertunjukan seni tradisional, hingga produk-produk ekonomi kreatif masyarakat.

Kolaborasi antara wisata religi, wisata bahari, wisata alam, wisata budaya, dan wisata kuliner akan memperpanjang lama tinggal wisatawan, meningkatkan belanja wisata, menghidupkan UMKM, menciptakan lapangan kerja, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun seluruh pembangunan tersebut tidak akan memiliki makna apabila Padang Pariaman kehilangan identitas budayanya. Pengalaman Jepang dan Korea Selatan menunjukkan bahwa kemajuan justru lahir dari kemampuan mempertahankan budaya sendiri. Karena itu, pembangunan Padang Pariaman harus tetap berlandaskan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Nilai adat, agama, dan budaya lokal harus menjadi roh seluruh kebijakan pembangunan. Pendidikan karakter, pelestarian budaya, regulasi yang berpihak kepada adat, keteladanan para pemimpin, serta sinergi antara pemerintah, ulama, niniak mamak, akademisi, dan masyarakat merupakan benteng menghadapi tantangan globalisasi dan pergeseran nilai.

Pada akhirnya, masa depan Padang Pariaman tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran pembangunan, tetapi oleh kemampuannya menyatukan seluruh kekuatan sejarah, sumber daya manusia, pendidikan, perantau, pariwisata, adat, dan agama dalam satu visi besar pembangunan.

Apabila seluruh potensi tersebut mampu disinergikan, Padang Pariaman bukan hanya akan menjadi kabupaten penyangga Metropolitan Padang Raya, tetapi akan tumbuh sebagai pusat pendidikan, pusat wisata religi Islam Minangkabau, pusat ekonomi kreatif, pusat kebudayaan, dan salah satu kawasan pertumbuhan paling maju di Sumatera Barat. Itulah pembangunan yang bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga membangun peradaban. Wallāhu a’lam bi al-shawāb.12072026.

Leave a Reply