Pandangan Kesehatan Puasa Ramadhan, dr. Dian Maulidawati: Ibadah Sekaligus Terapi Tubuh

Pandangan Kesehatan Puasa Ramadhan, dr. Dian Maulidawati: Ibadah Sekaligus Terapi Tubuh

 

Pekanbaru — Puasa Ramadhan bukan hanya kewajiban spiritual bagi umat Islam, tetapi juga memiliki dampak positif bagi kesehatan jika dijalankan dengan pola yang benar. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Dian Maulidawati, M.Si, dokter di RS Petala Bumi Provinsi Riau, yang menilai puasa sebagai momentum memperbaiki pola hidup masyarakat.

Menurut dr. Dian, selama berpuasa tubuh mengalami proses adaptasi metabolisme yang justru memberi manfaat bagi organ tubuh. Saat tidak ada asupan makanan dalam beberapa jam, tubuh mulai menggunakan cadangan energi yang tersimpan dalam bentuk glikogen dan lemak. Kondisi tersebut memberikan kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beristirahat dan melakukan proses pemulihan sel.

“Ketika puasa dilakukan dengan pola makan seimbang saat sahur dan berbuka, tubuh dapat memperbaiki metabolisme. Ini sangat baik untuk kesehatan jangka panjang,” jelasnya.

Secara medis, puasa diketahui membantu mengontrol kadar gula darah, menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), serta meningkatkan sensitivitas insulin. Efek tersebut berkontribusi dalam menurunkan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan puasa dapat membantu proses regenerasi sel melalui mekanisme autofagi, yaitu pembersihan sel-sel rusak oleh tubuh secara alami.

Lebih lanjut, dr. Dian menjelaskan bahwa manfaat puasa tidak hanya bersifat fisik tetapi juga mental dan emosional. Puasa melatih kesabaran, pengendalian diri, serta meningkatkan kualitas spiritual seseorang. Kondisi psikologis yang lebih tenang selama Ramadhan dapat berdampak positif terhadap hormon stres dan kesehatan otak.

“Puasa itu bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga proses detoksifikasi alami tubuh. Sistem imun bisa meningkat karena tubuh memperbaiki sel-sel yang rusak,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan saat berbuka puasa. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula, gorengan berlebihan, serta minuman manis secara berlebihan justru dapat menghilangkan manfaat kesehatan puasa. Pola makan seimbang dengan komposisi karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, sayur, buah, serta cukup cairan tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan selama Ramadhan.

Selain pola makan, dr. Dian menyarankan masyarakat tetap melakukan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki atau peregangan setelah berbuka atau menjelang sahur. Tidur yang cukup juga penting untuk menjaga keseimbangan hormon dan daya tahan tubuh selama berpuasa.

Ia menekankan bahwa beberapa kelompok perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menjalankan puasa, seperti penderita diabetes yang tidak terkontrol, penyakit kronis berat, ibu hamil berisiko tinggi, serta lansia dengan kondisi kesehatan tertentu.

“Jika dilakukan dengan benar, puasa Ramadhan sebenarnya merupakan terapi kesehatan alami yang sangat baik bagi tubuh. Ibadah dapat berjalan, kesehatan pun terjaga. Ramadhan menjadi kesempatan memperbaiki gaya hidup agar lebih sehat ke depannya,” tutupnya.

Leave a Reply