PANGGILAN MANHAJ PERTI

PANGGILAN MANHAJ PERTI (Aktualisasi Ahlussunnah wal Jama’ah, Mazhab Syafi’i, dan Tarekat dalam Membangun Peradaban Umat dan Kebaikan Bangsa)

Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Wakil Ketua Umum PP PERTI

Menjelang satu abad Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) pada tahun 2028, diperlukan refleksi mendalam terhadap jati diri, arah perjuangan, dan masa depan organisasi. PERTI tidak lahir semata sebagai organisasi sosial- keagamaan, melainkan sebagai gerakan manhaj Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang memadukan akidah, syariah, tasawuf, pendidikan, dan perjuangan umat.

Sejak didirikan oleh para ulama Tarbiyah Islamiyah, PERTI hadir sebagai wadah pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat yang berakar pada tradisi keilmuan Islam yang bersanad. Karena itu, kebangkitan PERTI pada abad kedua harus dimulai dari penguatan kembali manhaj perjuangannya. Organisasi dapat berubah, kepemimpinan dapat berganti, tetapi manhaj harus tetap hidup dan menjadi sumber inspirasi gerakan.

Aktualisasi Ahlussunnah wal Jama’ah

Pilar pertama kebangkitan PERTI adalah aktualisasi Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai manhaj berpikir, bersikap, dan bergerak.

Ahlussunnah wal Jama’ah bukan sekadar identitas teologis, tetapi merupakan jalan tengah yang mengintegrasikan wahyu, akal, tradisi, dan realitas sosial. Manhaj ini telah menjadi fondasi Islam Nusantara sekaligus perekat hubungan agama, adat, dan kebangsaan.

Di tengah menguatnya ekstremisme, liberalisme, sekularisme, dan fragmentasi umat, PERTI perlu menghadirkan kembali pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat, ilmiah, toleran, dan berakar pada tradisi ulama. Aktualisasi ini penting agar generasi muda memiliki pegangan keagamaan yang kokoh sekaligus mampu hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk.

Aktualisasi Mazhab Syafi’i

Mazhab Syafi’i merupakan identitas intelektual utama PERTI. Selama berabad-abad mazhab ini menjadi rujukan kehidupan keagamaan masyarakat Minangkabau dan Nusantara.

Aktualisasi Mazhab Syafi’i bukan berarti fanatisme mazhab, tetapi penguatan metodologi berpikir yang berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, qiyas, dan tradisi keilmuan yang mapan.

Agenda aktualisasi tersebut meliputi:

– Penguatan kajian kitab-kitab turats Syafi’iyyah.
– Kaderisasi fuqaha, mufti, dan ahli fatwa.
– Digitalisasi khazanah mazhab.
– Pengembangan pusat studi Mazhab Syafi’i.
– Penyusunan panduan keagamaan yang responsif terhadap persoalan kontemporer.

Dengan demikian, Mazhab Syafi’i tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga menjadi pedoman dalam menjawab tantangan zaman.

Aktualisasi Tarekat Mu’tabarah

Salah satu kekuatan khas PERTI adalah kemampuannya memadukan syariat dan hakikat melalui tasawuf dan tarekat yang bersanad.

Tarekat bukan sekadar ritual spiritual, tetapi sarana pembentukan akhlak, pengendalian diri, dan penyucian jiwa. Dalam sejarah Minangkabau, surau dan tarekat telah melahirkan ulama, pejuang, pendidik, dan pemimpin masyarakat.

Karena itu, aktualisasi tarekat dilakukan melalui:

– Penguatan literasi tasawuf.
– Pembinaan mursyid dan khalifah.
– Dokumentasi sanad tarekat.
– Pengembangan pusat kajian tasawuf.
– Penguatan tradisi suluk, zikir, dan pembinaan spiritual umat.

Tasawuf yang benar bukan menjauhkan umat dari kehidupan, tetapi melahirkan manusia yang jujur, amanah, berintegritas, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat serta bangsa.

PERTI sebagai Holding Perjuangan

Dalam menghadapi perubahan zaman, PERTI perlu diposisikan sebagai holding perjuangan yang menghimpun seluruh aset pendidikan, dakwah, dan keumatan yang lahir dari rahim Tarbiyah Islamiyah.

Holding perjuangan tersebut meliputi:

1. MTI dan Pesantren

MTI dan pesantren merupakan pusat kaderisasi ulama, guru, dan pemimpin umat. Penguatan mutu, kurikulum, tata kelola, serta jejaring alumni harus menjadi prioritas utama.

2. Surau dan Suluk

Surau adalah jantung peradaban Minangkabau. Dari surau lahir ulama, pemikir, dan pemimpin masyarakat. Aktualisasi fungsi surau menjadi kebutuhan strategis dalam membangun kembali kekuatan spiritual dan sosial umat.

3. Majelis Taklim

Majelis taklim merupakan basis dakwah yang paling dekat dengan masyarakat. Melalui majelis taklim, nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah dapat diwariskan secara berkesinambungan kepada umat.

4. Buya dan Tokoh

Buya adalah modal sosial dan moral terbesar PERTI. Penguatan jaringan ulama, kaderisasi buya muda, dan dokumentasi pemikiran tokoh menjadi agenda penting organisasi.

Agenda Terpadu Kebangkitan PERTI

Kebangkitan Manhaj PERTI harus diwujudkan melalui agenda terpadu yang meliputi organisasi, keumatan, dan pendidikan.

Pertama, Organisasi

– Konsolidasi kelembagaan.
– Penguatan struktur hingga nagari.
– Digitalisasi organisasi.
– Penguatan ekonomi organisasi.
– Integrasi jaringan alumni dan kader.
– Gerakan Halaqah Bulanan PERTI yang mempertemukan PD PERTI, PC PERTI, pimpinan MTI, pimpinan pesantren, ulama, buya, dan jamaah sebagai media konsolidasi pemikiran, kaderisasi, musyawarah, dan penguatan ukhuwah.
– Gerakan Silaturahim Tarbiyah Islamiyah berupa kunjungan berkala unsur Pembina, Majelis-Majelis, dan Pengurus Daerah PERTI ke seluruh kabupaten dan kota untuk memperkuat komunikasi organisasi, menyerap aspirasi jamaah, serta memastikan keberlanjutan program perjuangan.

Kedua, Keumatano

– Pembinaan jamaah.
– Penguatan dakwah dan pelayanan umat.
– Pemberdayaan ekonomi masyarakat.
– Penguatan peran ulama dan tokoh.
– Pengembangan jaringan dakwah digital.
– Penguatan jaringan majelis taklim, surau, suluk, dan komunitas jamaah Tarbiyah Islamiyah.
– Pembentukan forum komunikasi ulama, cendekiawan, dan tokoh muda PERTI sebagai mitra strategis dalam merespons persoalan umat dan kebangsaan.

Ketiga, Pendidikan

– Transformasi MTI dan pesantren.
– Peningkatan kualitas guru dan tenaga kependidikan.
– Integrasi kitab kuning dan teknologi digital.
– Penguatan riset, publikasi, dan kaderisasi ulama.
– Pengembangan Daurah Kitab Kuning, Halaqah Turats, dan Pendidikan Kader Ulama Tarbiyah Islamiyah.
– Digitalisasi manuskrip, sanad keilmuan, dan khazanah intelektual ulama PERTI sebagai warisan peradaban Islam Indonesia.

Penutup

Kebangkitan PERTI pada abad kedua tidak cukup dilakukan melalui penguatan organisasi semata, tetapi harus dimulai dari panggilan manhajnya. Aktualisasi Ahlussunnah wal Jama’ah, aktualisasi Mazhab Syafi’i, dan aktualisasi tarekat mu’tabarah merupakan fondasi utama untuk membangun kembali kekuatan pendidikan, dakwah, dan peradaban umat.

Melalui gerakan halaqah bulanan, silaturahim organisasi, penguatan MTI dan pesantren, aktualisasi surau dan suluk, serta konsolidasi buya dan jamaah, PERTI diharapkan mampu kembali menjadi rumah besar Ahlussunnah wal Jama’ah yang melahirkan ulama, cendekiawan, pemimpin umat, dan pelopor kebaikan bangsa.

Menjelang satu abad PERTI, saatnya kembali kepada manhaj, memperkuat jamaah, memuliakan ulama, memajukan pendidikan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara.

Bertahan karena manhaj, berkembang karena pendidikan, dan berpengaruh karena pengabdian. Itulah jalan kebangkitan PERTI.ds. 14062026.