PASCA MANASIK: MENEGUHI MAKNA, HAKIKAT, DAN GAYA HIDUP MUSLIM
(Jangan Sampai Modern, Tetapi Kehilangan Tuhan)
Oleh: Duski Samad
Khutbah Jum’at Masjid Darul Muttaqin, 29 Mei 2026
Pasca ibadah haji dan qurban yang penuh dengan ritual, simbol dan tradisi saatnya pula umat Islam menyelami makna dan hakikat dari pesan ibadah tersebut. Muslim setiap saat mengawali shalatnya dengan doa iftitah yang isinya innashalati wanusuki wa mahya wamamati lilahi rabillamin.
Maksud yang terkandung dalam ayat itu adalah kesatuan utuh antara ibadah dengan praktik atsu gaya hidup. Makna dan hakikat hidup tidak bisa dicapai bila gaya hidup tidak mencerminkan keimanan dan keislaman.
Manusia modern hidup dalam zaman yang penuh kemudahan. Teknologi berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan buatan mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Informasi tersedia tanpa batas. Transportasi semakin cepat. Komunikasi semakin mudah.
Namun di balik semua kemajuan itu muncul sebuah pertanyaan mendasar: mengapa manusia justru semakin gelisah?
Mengapa angka depresi meningkat di banyak negara maju?
Mengapa kesepian menjadi epidemi baru dunia modern?
Mengapa banyak orang memiliki segalanya, tetapi merasa kehilangan sesuatu yang paling penting dalam hidupnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita pada satu kesimpulan penting: krisis terbesar manusia modern bukanlah krisis ekonomi, politik, atau teknologi, melainkan krisis makna.
Manusia berhasil menaklukkan ruang dan waktu, tetapi gagal memahami tujuan hidupnya sendiri.
Banyak orang memiliki pekerjaan, tetapi kehilangan panggilan hidup. Memiliki rumah, tetapi kehilangan ketenangan. Memiliki jabatan, tetapi kehilangan kebijaksanaan. Memiliki kekayaan, tetapi kehilangan kebahagiaan.
Karena itu pertanyaan terpenting dalam hidup bukanlah berapa banyak yang kita miliki, tetapi untuk apa kita hidup.
Al-Qur’an sejak awal telah memberikan jawaban yang sangat jelas tentang makna kehidupan.
Allah SWT berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menegaskan bahwa hidup bukanlah peristiwa tanpa arah. Kehidupan memiliki tujuan, dan tujuan itu adalah pengabdian kepada Allah SWT.
Dalam pandangan Islam, ibadah tidak hanya berarti shalat, puasa, zakat, atau haji. Ibadah adalah seluruh aktivitas yang dilakukan dalam bingkai ketaatan kepada Allah. Bekerja adalah ibadah. Menuntut ilmu adalah ibadah. Mendidik anak adalah ibadah. Membangun bangsa adalah ibadah.
Karena itu makna hidup seorang Muslim bukan sekadar hidup lebih lama, tetapi hidup lebih bernilai.
Hakikat kehidupan juga bukan berhenti pada dunia yang sementara ini. Dunia hanyalah tempat persinggahan, ladang amal, dan ruang pembentukan karakter sebelum manusia kembali kepada Allah. “Sesungguhnya kepada Tuhanmulah tempat kembali.” (QS. An-Najm: 42)
Kesadaran inilah yang membuat seorang mukmin mampu menempatkan dunia secara proporsional. Dunia tidak ditolak, tetapi juga tidak dipertuhankan. Dunia dimanfaatkan, tetapi tidak dijadikan tujuan akhir.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara pandangan hidup Islam dan sebagian kecenderungan gaya hidup modern.
Peradaban modern sering kali mengajarkan bahwa keberhasilan diukur oleh materi, popularitas, dan kekuasaan. Semakin kaya seseorang, semakin dianggap berhasil. Semakin terkenal seseorang, semakin dianggap hebat. Semakin besar pengaruhnya, semakin dianggap mulia.
Akibatnya lahirlah budaya hedonisme, materialisme, dan individualisme.
Manusia berlomba mengumpulkan harta tanpa batas. Mengejar popularitas tanpa arah. Mencari kesenangan tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Media sosial mempercepat gejala ini. Ruang digital berubah menjadi panggung besar tempat manusia mempertontonkan kehidupan terbaiknya.
Orang berlomba memamerkan rumah, kendaraan, jabatan, liburan, dan kemewahan. Yang ditampilkan bukan selalu kenyataan, melainkan citra yang ingin dilihat orang lain.
Dari sinilah lahir penyakit baru zaman modern: kecemasan sosial, iri hati, rendah diri, dan ketidakpuasan yang tidak pernah berakhir.
Al-Qur’an telah mengingatkan jauh sebelumnya:”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1)
Lebih berbahaya lagi, sebagian manusia mulai merasa bahwa Tuhan tidak lagi diperlukan dalam kehidupan modern.
Ilmu pengetahuan dianggap cukup menjawab seluruh persoalan.
Teknologi dianggap mampu menyelesaikan semua masalah.
Kecerdasan buatan dianggap dapat menggantikan kebijaksanaan.
Pasar dianggap dapat mengatur kehidupan manusia secara otomatis.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti kemajuan moral.
Abad modern yang melahirkan teknologi paling canggih juga melahirkan perang dunia, kolonialisme, eksploitasi manusia, kerusakan lingkungan, dan krisis kemanusiaan yang luar biasa.
Artinya, kemajuan tanpa nilai dapat berubah menjadi bencana.
Kemajuan tanpa iman dapat melahirkan kesombongan.
Kekayaan tanpa akhlak dapat melahirkan kerakusan.
Kebebasan tanpa tanggung jawab dapat melahirkan kerusakan.
Karena itu Al-Qur’an mengingatkan:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Ayat ini sangat relevan dengan zaman sekarang.
Berhala modern tidak selalu berbentuk patung. Ia dapat berupa uang, jabatan, popularitas, kekuasaan, bahkan diri sendiri.
Ketika manusia lebih mengikuti hawa nafsunya daripada petunjuk Allah, sesungguhnya ia sedang membangun tuhan-tuhan baru dalam kehidupannya.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk anti-modernitas. Islam justru mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, inovasi, dan produktivitas. Namun semua itu harus berada dalam bingkai tauhid.
Islam mengajarkan keseimbangan. Maju tetapi tetap bertuhan.
Kaya tetapi tetap bersyukur. Berilmu tetapi tetap rendah hati.
Berkuasa tetapi tetap amanah. Modern tetapi tetap memiliki orientasi akhirat.
Inilah yang disebut gaya hidup profetik, yaitu gaya hidup yang menjadikan Allah sebagai pusat orientasi, akhlak sebagai pedoman, dan kemanfaatan sebagai tujuan.
Rasulullah SAW tidak mewariskan kemewahan, tetapi keteladanan. Tidak mewariskan istana, tetapi peradaban. Tidak mewariskan kekayaan, tetapi akhlak mulia.
Karena itu tantangan terbesar umat Islam hari ini bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi menjaga agar perkembangan zaman tidak menyeret manusia menjauh dari Tuhannya.
Sebab pada akhirnya manusia tidak akan ditanya berapa banyak harta yang dikumpulkan, berapa banyak pengikut yang dimiliki, atau seberapa terkenal dirinya.
Yang akan ditanyakan adalah bagaimana hidup itu dijalani, untuk siapa ia dipersembahkan, dan nilai apa yang ditinggalkan setelah semuanya berakhir.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, Islam mengingatkan bahwa kehidupan terbaik bukanlah kehidupan yang paling mewah, tetapi kehidupan yang paling bermakna; bukan yang paling terkenal, tetapi yang paling bermanfaat; bukan yang paling kaya, tetapi yang paling dekat kepada Allah SWT.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.








