Padang, 27 Oktober 2025 — Pembinaan atlet sejak usia dini di sekolah merupakan langkah fundamental untuk mencetak generasi unggul dan berkarakter. Di tengah visi besar Indonesia Emas 2045, pembinaan olahraga di lingkungan pendidikan menjadi kunci agar bangsa ini tidak hanya memiliki sumber daya manusia cerdas, tetapi juga sehat, tangguh, dan berdaya saing global.
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa pembinaan atlet usia dini masih menghadapi banyak tantangan. Minimnya fasilitas olahraga, kurangnya pelatih profesional di sekolah, dan lemahnya sinergi antar lembaga menjadi hambatan utama yang perlu segera dibenahi.
Sekolah Sebagai Pusat Pembinaan Atlet
Sekolah memiliki peran strategis sebagai tempat menemukan dan membina bakat olahraga anak sejak dini. Pada usia sekolah dasar hingga menengah, kemampuan fisik dan mental anak sedang berada pada masa emas pembentukan. Sayangnya, banyak sekolah masih memandang olahraga sebagai pelajaran tambahan, bukan sebagai bagian integral dari pengembangan potensi siswa.
Agar potensi tersebut tidak terbuang, sekolah perlu bertransformasi menjadi pusat pembinaan atlet berbasis pendidikan karakter. Pembinaan olahraga tidak hanya melatih kemampuan fisik, tetapi juga membangun disiplin, sportivitas, dan daya juang — nilai-nilai penting untuk membentuk generasi emas Indonesia.
Permasalahan dan Tantangan
- Kebijakan belum terintegrasi. Pembinaan atlet usia dini masih berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi antara sekolah, KONI, dinas olahraga, dan lembaga pendidikan.
- Keterbatasan sarana dan tenaga pelatih. Banyak sekolah belum memiliki lapangan, peralatan, atau pelatih yang memadai.
- Kesenjangan wilayah. Sekolah di daerah tertinggal jarang mendapatkan kesempatan mengikuti kompetisi dan pembinaan yang rutin.
- Fokus akademik yang dominan. Siswa yang berbakat olahraga sering kali kurang mendapat perhatian karena sistem pendidikan lebih menekankan pada pencapaian akademik.
Saran dan Solusi untuk Pemerintah
1️. Kebijakan Nasional Pembinaan Atlet Sekolah
Pemerintah pusat perlu menyusun Rencana Induk Pembinaan Atlet Usia Dini yang menghubungkan kebijakan pendidikan, olahraga, dan kesehatan. Sistem pembinaan berjenjang dari SD hingga SMA harus dilengkapi dengan database nasional pencarian bakat dan pemantauan prestasi siswa berbakat olahraga.
2️ Revitalisasi Fasilitas Olahraga Sekolah
Pemerintah daerah perlu memperkuat infrastruktur dasar seperti lapangan multifungsi, peralatan latihan, dan ruang kebugaran. Program revitalisasi dapat dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor agar seluruh sekolah memiliki fasilitas minimal untuk latihan rutin.
3️ Pelatihan dan Sertifikasi Guru Olahraga
Guru olahraga perlu mendapatkan pelatihan dan sertifikasi kepelatihan agar mampu melatih siswa dengan pendekatan ilmiah dan terarah. Pemerintah dapat menggandeng lembaga sertifikasi olahraga nasional untuk memperkuat kapasitas tenaga pendidik.
4️ Kurikulum Fleksibel untuk Siswa Atlet
Sekolah perlu diberikan kebijakan kurikulum adaptif bagi siswa yang aktif dalam pembinaan olahraga, sehingga prestasi akademik dan non-akademik dapat berjalan beriringan tanpa saling mengorbankan.
5️ Pendanaan Khusus dan Insentif Daerah
Pemerintah daerah dapat mengalokasikan dana khusus dari APBD untuk mendukung pembinaan atlet sekolah. Sekolah yang berhasil mencetak atlet berprestasi perlu diberi penghargaan dan dukungan tambahan agar semangat pembinaan terus berlanjut.
6️ Kemitraan Publik–Swasta
Dukungan dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dapat menjadi solusi pembiayaan alternatif, seperti bantuan peralatan, beasiswa, atau sponsorship kejuaraan pelajar.
Penutup
Membangun atlet tidak bisa dilakukan secara instan. Pembinaan sejak sekolah adalah investasi jangka panjang yang tidak hanya melahirkan juara di lapangan, tetapi juga generasi bangsa yang sehat, berkarakter, dan disiplin.
Dengan komitmen kuat pemerintah, dukungan sekolah, dan kolaborasi masyarakat, cita-cita Indonesia Emas 2045 dapat diwujudkan melalui pembinaan atlet muda yang lahir dari semangat olahraga di bangku sekolah.
