PEMIMPIN KAMPUS SEBAGAI PUBLIC FIGURE KHARISMATIK:

PEMIMPIN KAMPUS SEBAGAI PUBLIC FIGURE KHARISMATIK:

PERANNYA DALAM PENGUATAN REPUTASI, REKRUTMEN MAHASISWA, DAN STABILITAS PSIKOLOGIS PASCA BENCANA LONGSOR

Oleh: Duski Samad

Abstrak

Pemimpin perguruan tinggi memiliki peran strategis tidak hanya dalam tata kelola akademik, tetapi juga dalam menjaga stabilitas psikologis mahasiswa ketika terjadi bencana alam.

Artikel ini mengkaji relevansi pemimpin kampus sebagai public figure kharismatik dalam konteks UIN (UIN Imam Umat) terkait reputasi institusi, rekrutmen mahasiswa, dan respons psikososial terhadap kegoncangan mental mahasiswa korban longsor.

Melalui pendekatan teori kepemimpinan transformasional, modal simbolik Bourdieu, teori komunikasi publik, serta psikologi bencana, artikel ini menunjukkan bahwa figur pemimpin yang visible, empatik, dan komunikatif menjadi variabel kunci dalam menumbuhkan ketenangan, resiliensi, serta kepercayaan publik. Implikasi praktisnya mengarah pada perlunya penguatan kapasitas pemimpin kampus dalam crisis leadership dan pendampingan psikososial mahasiswa.

Kata kunci: kepemimpinan kharismatik, psikologi bencana, mahasiswa terdampak longsor, reputasi kampus, UIN.

1.Pendahuluan
Bencana longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Barat memunculkan kegoncangan psikologis pada mahasiswa, khususnya mereka yang kehilangan keluarga, tempat tinggal, mata pencaharian, maupun rasa aman. Kondisi ini memengaruhi:
konsentrasi akademik,
motivasi kuliah,
interaksi sosial,
stabilitas emosi,
dan persepsi mahasiswa terhadap kepedulian kampus.

Dalam situasi krisis ini, pemimpin kampus tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga berperan sebagai public figure yang memiliki kapasitas moral, sosial, dan emosional untuk memberi rasa aman.

Dalam konteks UIN sebagai Imam Umat, pemimpin kampus menjadi representasi nilai keagamaan, keteduhan ruhani, dan pertolongan sosial yang sangat dibutuhkan mahasiswa pasca-bencana.

Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana kepemimpinan kharismatik memengaruhi stabilitas psikologis mahasiswa serta reputasi institusi.

2.Kerangka Regulasi dan Tugas Pemimpin PTKIN dalam Kondisi Krisis

2.1 UU No. 12 Tahun 2012 – Perlindungan Mahasiswa dan Tridharma

UU ini menyebutkan perlunya:
melindungi sivitas akademika, menciptakan lingkungan belajar yang aman, mendukung perkembangan kepribadian mahasiswa.

Dalam konteks longsor, hal ini bermakna kewajiban kampus untuk memberi dukungan psikososial.

2.2 PMA No. 68 Tahun 2015 – Peran Representatif Pemimpin

PMA menegaskan bahwa rektor harus menjadi:
juru bicara kemanusiaan kampus, representasi moral dalam musibah, pengarah kebijakan respons bencana.

2.3 Permen PAN-RB No. 30/2013 – Kompetensi Sosial Pemimpin

Regulasi ini menetapkan pemimpin publik harus memiliki: emotional intelligence,
kepekaan situasional,
kemampuan memimpin dalam krisis.

3.Kerangka Teoretis

3.1 Kepemimpinan Transformasional dan Krisis

Bass & Riggio (2006) menekankan bahwa kharisma menjadi faktor utama dalam mengembalikan optimisme anggota organisasi saat krisis.

Pemimpin transformasional:
menenangkan suasana batin, memberi arah ketika terjadi disorientasi,
memotivasi kembali mahasiswa yang tertekan.

3.2 Modal Simbolik Bourdieu dalam Situasi Bencana

Ketika masyarakat berada dalam kondisi duka, modal simbolik pemimpin (ketokohan, moralitas, keteduhan spiritual) menjadi sumber stabilitas.

Pemimpin kampus yang aktif turun ke lapangan memberi: legitimasi moral,
rasa aman, kepercayaan bahwa kampus hadir bersama mahasiswa.

3.3 Psikologi Bencana dan Resiliensi

Penelitian psikologi bencana (Norris et al., 2002) menunjukkan bahwa dukungan institusional dari figur otoritatif:
mengurangi trauma,
meningkatkan resiliensi,
mempercepat pemulihan psikologis, mencegah helplessness dan burnout.

4.Pemimpin Kampus sebagai Public Figure Kharismatik dalam Bencana Longsor

4.1 Empati sebagai Fondasi Kharisma

Kharisma tidak sekadar wibawa, tetapi kemampuan menunjukkan empati:
hadir langsung ke lokasi terdampak,
menyampaikan belasungkawa,
menggerakkan bantuan,
memimpin doa bersama,
memberikan komunikasi menenangkan.

Empati pemimpin menurunkan tingkat kecemasan mahasiswa.

4.2 Komunikasi Publik yang Menenteramkan

Pemimpin kampus harus tampil sebagai sumber narasi keteduhan melalui:
penyampaian spirit religius,
penegasan bahwa kampus siap mendampingi,
mengedukasi mahasiswa agar tidak panik,
menguatkan keimanan melalui narasi tauhid dan takdir.

Komunikasi pemimpin berdampak langsung pada stabilitas mental mahasiswa.

4.3 Keberpihakan Kebijakan

Kepemimpinan kharismatik berwujud dalam kebijakan:

keringanan UKT,
cuti akademik khusus,
bantuan ekonomi,
konseling psikososial,
pembukaan posko kampus.

Kebijakan ini memperkuat trust mahasiswa pasca-longsor.

5.Relevansi terhadap Rekrutmen Mahasiswa Baru

5.1 Kampus dengan Pemimpin Peduli Lebih Dipercaya

Orang tua dan calon mahasiswa akan melihat:
bagaimana kampus merespons krisis,
apakah pemimpinnya hadir,
apakah mahasiswa diprioritaskan.

Pemimpin kharismatik meningkatkan citra kampus sebagai “kampus aman dan manusiawi”.

5.2 Reputasi Sosial Kampus Meningkat

Penanganan bencana yang baik: meningkatkan eksposur media positif, memperkuat kualitas layanan publik,
menambah daya tarik bagi masyarakat.

Reputasi kampus meningkat seiring kuatnya figur pemimpinnya.

6.Pemimpin Kharismatik dan Pemulihan Psikologis Mahasiswa

6.1 Penguatan Resiliensi Emosional

Pemimpin kampus dapat menginisiasi: kajian ruhani untuk menenangkan jiwa,
majelis doa sebagai terapi kolektif, konseling spiritual (suhbah), dukungan moral dari tokoh agama.

Ini sangat relevan pada mahasiswa yang mengalami kehilangan atau shock.

6.2 Model Institutional Containment

Menurut teori containment (Bion, 1962), figur autoritatif yang tenang dapat meminimalkan:
kecemasan kelompok,
kepanikan, rasa kehilangan arah.

Pemimpin yang hadir mengandung kegoncangan emosional mahasiswa sehingga mereka merasa terlindungi.

6.3 Pemimpin sebagai Figur Ayah bagi Kampus

Dalam psikologi sosial, pemimpin yang kharismatik berfungsi sebagai:
sumber keteduhan,
simbol harapan,
pengayom di masa duka.

Kepemimpinan seperti ini sangat dibutuhkan pasca-longsor.

7.Diskusi

Kepemimpinan kampus yang kharismatik berperan signifikan dalam memulihkan psikologis mahasiswa terdampak bencana. Kharisma pemimpin tidak hanya berdampak pada reputasi institusi, tetapi juga pada kondisi psikologis sivitas akademika.

Temuan ini memperluas kajian kepemimpinan pendidikan dari sekadar orientasi administratif menuju orientasi psikososial, terutama dalam konteks kampus-kampus di daerah rawan bencana seperti Sumatera Barat.

8. Kesimpulan

Pemimpin kampus yang berfungsi sebagai public figure kharismatik berperan penting dalam:

1.stabilisasi psikologis mahasiswa pasca-longsor,

2.penguatan kepercayaan publik terhadap kampus,

3.peningkatan rekrutmen mahasiswa baru,

4.peningkatan reputasi akademik kampus,

5.pemenuhan mandat regulatif perlindungan sivitas akademika.

Pada kampus keagamaan seperti UIN, kharisma pemimpin berakar dari moralitas, spiritualitas, empati, dan kemampuan menjawab keresahan mahasiswa. Dalam konteks bencana longsor yang memunculkan kegoncangan psikologis, pemimpin kampus berperan sebagai figur penenteram dan peneguh yang amat dibutuhkan. DS. 02122025.