PENDIDIKAN BATIN BENCANA DAN RESOLUSI DAKWAH DI TENGAH UJIAN
Oleh: Duski Samad
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
Bencana sering dipahami sebatas peristiwa fisik banjir, longsor, gempa, dan kehancuran infrastruktur. Dalam tasawuf, bencana tidak pernah hadir sebagai peristiwa kosong nilai. Ia adalah ruang tarbiyah, pendidikan batin, yang bekerja pada lapisan terdalam jiwa, irsyād al-bāṭin. Bimbingan batiniah yang tidak selalu hadir sebagai suara, bayangan, atau pengalaman gaib, tetapi getaran hidayah yang mengetuk hati, menggugah kesadaran, dan meluruskan orientasi hidup. Irsyād al-bāṭin ini tidak berdiri sendiri. Ia bekerja melalui wasilah (sarana ilahiah) tiga bentuk (1) Wasilah Barakah (membuka jalan), (2). Wasilah Tarbiyah Spiritual dan (3). At-Tarbiyah ar-Rabbāniyyah (pendidikan langsung dari Allah).
Wujud irsyād al-bāṭin dapat dipahami dari surat al Maidah ayat 35… wabtaghū ilaihi al-wasīlah bukan sekadar perintah ritual, tetapi kompas spiritual, terutama di saat manusia berada dalam tekanan bencana, krisis, dan kegelisahan zaman. Wasilah Menurut Ulama dan Sufi adalah Segala Jalan yang Diridhai Allah. Imam ath-Ṭabarī dan Ibn Kathīr wasilah adalah segala bentuk ketaatan yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah, jalan yang Allah izinkan: iman, amal saleh, akhlak, doa, sabar, dan keikhlasan.
Sufi memaknai wasilah sebagai proses penyucian batin membersihkan niat, meluruskan tujuan, dan merendahkan ego di hadapan Allah. Imam al-Ghazālī wasilah paling dekat kepada Allah adalah hati yang bersih dan amal yang ikhlas. Wasilah bukan sekadar sarana luar, tetapi keadaan batin. Wasilah dalam bencana itulah perintah wabtaghū ilaihi al-wasīlah menjadi sangat hidup.
Dalam bencana ketika harta runtuh sangat utama wasilahnya sabar dan tawakkal. Ketika daya manusia terbatas maka wasilahnya doa dan taubat. Saat masa depan tampak gelap itulah urgensi wasilahnya harapan dan ikhtiar. Allah berfirman: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun: 11). Petunjuk hati itulah buah dari wasilah yang benar. Ketiga-tiga wasilah ini menjadi kerangka penting untuk membaca bencana sebagai pendidikan ruhani, bukan sekadar musibah yang harus dilupakan atau dibicarakan sebatas hukum alam lahiriyah (sebab akibat) yang dinalar belaka.
- 1. Wasilah Barakah: Nalar, Sabar dan Berbagi.
Dalam tasawuf, barakah bukan sekadar “tambahan kebaikan”, tetapi kekuatan ilahiah yang membuat sesuatu yang kecil menjadi berdampak besar, dan yang sempit menjadi lapang. Makna spiritual, wasilah barakah bekerja saat manusia: Ikhlas menerima kenyataan. Menjaga adab dalam kesulitan dan Tidak putus asa dari rahmat Allah. Al-Qur’an menegaskan:“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. al-A‘rāf: 96)
Dalam konteks bencana, barakah sering hadir bukan dengan menghapus penderitaan, tetapi dengan munculnya solidaritas sosial. Terbukanya pintu bantuan. Kuatnya ketahanan psikologis korban. Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa barakah lahir dari kesesuaian niat dengan ridha Allah, bukan dari kelimpahan materi. Banyak orang yang kehilangan segalanya, tetapi justru menemukan makna hidup yang lebih jernih.
Di era digital, wasilah barakah tampak dalam: Viralitas solidaritas kemanusiaan. Donasi daring lintas batas. Gerakan empati yang melampaui ruang geografis. Namun barakah hanya hadir bila ruang digital dijaga adabnya, tidak dipenuhi eksploitasi penderitaan, hoaks, dan komodifikasi musibah.
- Wasilah Tarbiyah Spiritual: Pendidikan Melalui Proses
Bentuk kedua irsyād al-bāṭin adalah wasilah tarbiyah spiritual, yakni pendidikan jiwa melalui proses panjang, bukan hasil instan. Makna spiritual dalam tasawuf, penderitaan bukan hukuman otomatis, melainkan alat pembentuk jiwa. Ibn ‘Aṭā’illāh dalam al-Ḥikam menegaskan: “Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati selain keterasingan yang membawanya masuk ke medan tafakkur.”
Bencana memaksa manusia mengakui keterbatasan. Meruntuhkan kesombongan teknologi dan diharapkan dapat menata ulang hubungan dengan alam. “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. al-Baqarah: 155)
Psikologi modern menyebut fenomena ini sebagai post-traumatic growthpertumbuhan psikologis pascatrauma. Individu yang mampu memaknai penderitaan secara spiritual cenderung: Lebih tangguh secara emosional. Memiliki empati sosial lebih tinggi. Menemukan tujuan hidup yang lebih dalam.
Tantangan era digital adalah mental instan: ingin pulih cepat tanpa proses. Padahal tarbiyah spiritual menuntut: Kesabaran. Kontemplasi. Jeda dari hiruk-pikuk informasi. Tanpa itu, trauma hanya berpindah bentuk, bukan sembuh.
- At-Tarbiyah ar-Rabbāniyyah: Pendidikan Langsung dari Allah
Bentuk tertinggi irsyād al-bāṭin adalah at-tarbiyah ar-rabbāniyyah—pendidikan langsung dari Allah kepada hamba-Nya. Makna spiritualnya, ini bukan wahyu kenabian, melainkan Ilham kesadaran. Penyingkapan makna. Keteguhan iman yang datang tanpa sebab kasat mata. Allah berfirman:, “Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarkan kepadamu.”(QS. al-Baqarah: 282)
Para sufi menyebut kondisi ini sebagai ‘ilm ladunnī—pengetahuan yang Allah tanamkan langsung ke dalam qalb yang bersih. Ciri-Ciri Tarbiyah Rabbaniyyah. Tidak melahirkan kesombongan. Melahirkan kerendahan hati. Menumbuhkan keikhlasan dan kepasrahan aktif. Di tengah banjir data dan kecerdasan buatan, manusia mudah merasa “serba tahu”. Tarbiyah rabbaniyyah justru mengajarkan diam sebelum bicara. Tunduk sebelum mengklaim. Hikmah sebelum popularitas. Ia menjadi penyeimbang spiritual di tengah peradaban yang cepat tetapi rapuh secara makna.
Bencana sebagai Madrasah Kehidupan
Bencana bukan hanya peristiwa ekologis, tetapi madrasah ilahiah. Melalui irsyād al-bāṭin, Allah mendidik manusia dengan wWasilah barakah yang membuka jalan. Wasilah tarbiyah spiritual yang membentuk jiwa. At-tarbiyah ar-rabbāniyyah yang meneguhkan iman. Di era digital yang bising, pesan tasawuf ini menjadi sangat relevan:
bahwa keselamatan manusia tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh kejernihan qalb dan kematangan ruhani.
Bencana akan terus ada, tetapi manusia beriman selalu punya jalan pulang—kembali kepada Allah dengan hati yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih beradab.
MUHASABAH DAN RESOLUSI DAKWAH DI TENGAH UJIAN ZAMAN
Bencana, krisis moral, dan kegaduhan sosial yang kita saksikan hari ini sejatinya bukan hanya peristiwa eksternal. Ia adalah cermin batin—mengajak manusia, terlebih para penggiat dakwah, untuk berhenti sejenak, menundukkan ego, dan melakukan muhasabah yang jujur dan mendalam.
Dalam tradisi spiritual Islam, muhasabah bukan sekadar evaluasi personal, tetapi titik balik peradaban. Setiap perubahan besar selalu diawali dengan keberanian bertanya: di mana posisi kita di hadapan Allah? Apakah dakwah yang kita jalankan sungguh menjadi rahmat, atau justru tanpa sadar memperlebar luka sosial?
Muhasabah: Menyisir Ulang Niat dan Arah Dakwah
Para penggiat dakwah berada di posisi strategis. Ucapan, sikap, dan narasi mereka membentuk cara umat memahami realitas. Karena itu, muhasabah dakwah harus menyentuh tiga lapisan penting.
Pertama, muhasabah niat. Apakah dakwah masih murni sebagai ibadah, atau telah tergeser menjadi ajang eksistensi, kompetisi popularitas, dan kapital simbolik? Di era digital, dakwah mudah terjebak dalam angka jumlah pengikut, tayangan, dan viralitas. Padahal keikhlasan bekerja dalam ruang sunyi, bukan keramaian.
Kedua, muhasabah metode. Apakah bahasa dakwah kita menyembuhkan atau melukai? Mencerahkan atau menghakimi? Rasulullah ﷺ diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin, bukan sebagai hakim yang tergesa. Dakwah yang kehilangan empati akan melahirkan umat yang keras, mudah marah, dan miskin kebijaksanaan.
Ketiga, muhasabah dampak. Apakah dakwah memperkuat persatuan umat, atau justru menambah polarisasi? Dalam bencana dan krisis sosial, umat tidak membutuhkan teriakan ideologis, melainkan ketenangan, panduan, dan harapan.
Resolusi Masa Depan: Dari Reaksi Menuju Visi
Muhasabah yang benar tidak berhenti pada penyesalan. Ia harus melahirkan resolusi—tekad sadar untuk melangkah lebih baik. Bagi penggiat dakwah dan pencerah umat, resolusi masa depan setidaknya mencakup beberapa komitmen strategis.
Pertama, menjadikan dakwah sebagai proses tarbiyah, bukan sekadar penyampaian pesan. Dakwah masa depan harus membentuk karakter, bukan hanya opini. Ia menumbuhkan kesabaran, kejujuran, adab, dan kepedulian sosial.
Kedua, menguatkan dakwah yang kontekstual dan solutif. Umat hari ini hidup di tengah trauma bencana, tekanan ekonomi, dan krisis makna. Dakwah harus hadir sebagai penopang batin, bukan beban tambahan. Bahasa yang sederhana, menenangkan, dan membumi jauh lebih dibutuhkan daripada retorika tinggi yang jauh dari realitas.
Ketiga, memadukan spiritualitas dan literasi digital. Era digital bukan musuh dakwah, tetapi medan ujian etika. Resolusi kita adalah menghadirkan konten yang beradab, bertanggung jawab, dan menumbuhkan kesadaran, bukan provokasi dan sensasi.
Keempat, meneguhkan keteladanan pribadi. Umat tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi memperhatikan bagaimana kita bersikap. Dakwah yang paling kuat selalu lahir dari integritas hidup, bukan sekadar kepiawaian berbicara.
Menjadi Pencerah, Bukan Sekadar Pengeras Suara
Di tengah kebisingan zaman, umat tidak kekurangan suara, tetapi kekurangan cahaya. Pencerah umat bukan mereka yang paling keras bersuara, melainkan yang mampu menenangkan, menuntun, dan menguatkan.
Muhasabah mengajarkan kerendahan hati: bahwa kita juga sedang belajar, juga sedang diuji. Resolusi masa depan menuntut keberanian: untuk memperbaiki arah, meninggalkan yang tidak maslahat, dan melangkah dengan visi yang lebih jernih.
Bencana, krisis, dan kegelisahan sosial sejatinya adalah panggilan ilahi: Berhentilah sejenak, benahi hati, dan lanjutkan perjalanan dengan niat yang lebih lurus.
KESIMPULAN
Bencana, dalam perspektif tasawuf, bukanlah peristiwa netral yang berhenti pada kerusakan fisik dan penjelasan sebab-akibat alamiah. Ia adalah ruang tarbiyah ilahiah—pendidikan batin—yang bekerja halus namun mendalam melalui irsyād al-bāṭin, bimbingan hati yang mengetuk kesadaran, meluruskan orientasi hidup, dan mengembalikan manusia kepada hakikat kehambaannya.
Melalui perintah wabtaghū ilaihi al-wasīlah (QS. al-Mā’idah: 35), Islam menegaskan bahwa kedekatan kepada Allah di tengah ujian harus diupayakan, bukan ditunggu. Para ulama dan sufi sepakat bahwa wasilah bukan jalan sembarangan, melainkan segala bentuk ketaatan yang diridhai Allah—iman, amal saleh, akhlak, doa, sabar, ikhlas—yang berpuncak pada kejernihan qalb dan kematangan ruhani.
Tiga bentuk wasilah—wasilah barakah, wasilah tarbiyah spiritual, dan at-tarbiyah ar-rabbāniyyah—menjadi kerangka penting dalam membaca bencana sebagai madrasah kehidupan. Barakah membuka jalan di tengah keterbatasan; tarbiyah spiritual membentuk jiwa melalui proses sabar dan makna; sementara tarbiyah rabbaniyyah menumbuhkan ilham, hikmah, dan keteguhan iman yang tidak lahir dari keramaian, melainkan dari kepasrahan yang sadar.
Di era digital yang bising, cepat, dan sering dangkal secara makna, pesan tasawuf ini semakin relevan. Keselamatan manusia tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau limpahan informasi, tetapi oleh kejernihan hati, adab, dan kemampuan memaknai ujian. Tanpa jeda kontemplasi dan kesabaran proses, trauma hanya berganti rupa, bukan sungguh-sungguh sembuh.
Bagi para penggiat dakwah dan pencerah umat, bencana dan krisis sosial adalah panggilan muhasabah: meninjau ulang niat, metode, dan dampak dakwah. Apakah dakwah benar-benar menjadi rahmat, penyejuk, dan penuntun; atau tanpa disadari justru menambah kegaduhan, polarisasi, dan luka sosial. Muhasabah yang jujur harus melahirkan resolusi—dakwah yang berorientasi tarbiyah, kontekstual, solutif, beradab di ruang digital, dan ditopang oleh keteladanan hidup.
Akhirnya, bencana mengingatkan bahwa jalan pulang selalu ada bagi manusia beriman. Jalan itu bukan jalan pintas, tetapi jalan wasilah: sabar ketika runtuh, doa ketika terbatas, ikhtiar ketika masa depan terasa gelap, dan tawakkal yang aktif. Dengan itulah manusia kembali kepada Allah—dengan hati yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih beradab—serta dakwah yang benar-benar menjadi cahaya, bukan sekadar suara. (Disiapkan Subuh Mubarakah HAB 80 Kemenag Provinsi, Rabu, 07 Januari 2025).





