Peran Doa dalam Mengelola Stress Mahasiswa Muslim di Perantauan

Peran Doa dalam Mengelola Stress Mahasiswa Muslim di Perantauan

Oleh:

Lubna Alya, Amanda Oktavia Rahmadani, Muhammad Maulana Rizqi

Dosen Pengampu: Fadli Daud Abdullah, S.H.,M.H.

Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)

UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

 

Tekanan hidup sebagai mahasiswa perantauan sudah bukan cerita baru. Rutinitas kuliah yang padat, biaya hidup yang harus diatur sendiri, tinggal di lingkungan baru, hingga rasa jauh dari keluarga menjadi rangkaian tantangan yang sering kali menumpuk menjadi stres. Bagi mahasiswa Muslim, terutama mereka yang baru pertama kali tinggal di luar kota, tekanan ini bisa berdampak pada kondisi emosional dan kemampuan akademik. Tak heran jika para dosen dan peneliti dalam bidang Metode Studi Islam semakin tertarik untuk menelusuri bagaimana doa berperan sebagai strategi religius yang membantu mahasiswa tetap stabil secara psikologis.

Doa bukan sekadar tindakan ritual, itu adalah alat vital untuk membantu seseorang mengendalikan dan mengatur ulang emosinya. Pada kenyataannya, doa berfungsi sebagai tempat yang tenang untuk bersantai, di mana orang dapat menghilangkan tekanan dan mengembalikan fokus ke keadaan batin yang lebih stabil. Menciptakan momen hening saat berdoa membantu mengurangi kecemasan yang menumpuk yang disebabkan oleh aktivitas sehari-hari, kebutuhan lingkungan, atau masalah yang muncul secara tiba-tiba. Doa tidak hanya menenangkan pikiran tetapi juga membuat tubuh lebih santai, memungkinkan ketegangan fisik secara bertahap mereda, seperti dalam doa “Hasbunallāhu wa ni‘mal-wakīl” yang berarti ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia sebaik-baik pelindung,’ atau doa “Allahumma inni a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥuzn” yang berarti ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih,’ serta “Bismillāhilladzī lā yaḍurru ma‘asmihī syai’un” yang bermakna ‘Dengan nama Allah, tidak ada sesuatu pun yang membahayakan jika bersama nama-Nya.’ Proses ini membuat seseorang menjadi lebih santai, lebih terkendali, dan siap menghadapi tantangan berikutnya dengan pikiran yang lebih jelas.

Proses ini membantu tubuh rileks setelah menghadapi beban pekerjaan, kesulitan menyesuaikan diri, dan berbagai masalah yang muncul secara tiba-tiba dalam kehidupan di perantauan. Ini juga berfungsi sebagai jangkar emosional yang mengembalikan rasa stabilitas, harapan, dan grounding di tengah ketidakpastian. Dalam perspektif psikologi Islam, doa berperan lebih jauh sebagai alat meaning-making atau proses menemukan makna. Ketika seorang mahasiswa berdoa, ia bukan hanya mendekat kepada Tuhan, tetapi juga sedang menata ulang cara pandangnya terhadap masalah. Doa menjadi ruang reflektif yang membantu mereka memahami situasi secara perlahan, menurunkan intensitas emosi negatif, dan menumbuhkan keyakinan bahwa setiap kesulitan memiliki hikmahnya. Proses ini menjadi sangat penting bagi mahasiswa yang sedang beradaptasi dengan kehidupan baru, menghadapi gegar budaya, atau merasakan rindu kampung halaman yang sering menyerang secara tiba-tiba.

Sejumlah mahasiswa perantau juga mengungkapkan pengalaman personal mereka. Achmad Hilman, mahasiswa asal Jakarta, menceritakan bahwa hidup jauh dari rumah tidak pernah mudah. “Tugas kuliah, biaya hidup, dan rindu keluarga sering datang bersamaan. Kalau sudah mulai terasa berat, saya kembali ke doa,” ujarnya. Baginya, doa bukan hanya ritual yang wajib dilakukan, tetapi menjadi cara menguatkan hati dan mengurangi kecemasan di saat-saat paling menekan. Sementara itu, Amar Shalih, mahasiswa perantau dari Depok, memiliki pengalaman serupa. Ia mengaku bahwa doa selalu memberinya ruang untuk bernapas di tengah tekanan. “Doa membuat saya merasa tidak sendiri. Setiap selesai berdoa, pikiran saya lebih jernih. Saya jadi bisa melihat masalah sebagai proses belajar,” tuturnya. Amar menilai bahwa doa memberikan ketenangan yang tidak bisa ia dapat dari aktivitas lain, terutama ketika rasa rindu keluarga datang bersamaan dengan beban akademik.

Menariknya, penelitian psikologi juga mencatat bahwa doa memiliki efek fisiologis yang nyata. Bacaan doa atau dzikir yang berulang dapat memperlambat detak jantung, menstabilkan ritme napas, dan mengendurkan ketegangan otot. Dengan kata lain, doa mengaktifkan sistem relaksasi alami tubuh, mirip seperti teknik pernapasan dalam meditasi. Tak heran jika banyak mahasiswa merasa lebih fokus belajar setelah berdoa atau selesai melaksanakan shalat. Kondisi emosional positif ini bahkan bisa meningkatkan motivasi dan ketahanan menghadapi tugas kuliah.

Meskipun demikian, para ahli mengingatkan bahwa doa bukan satu-satunya cara untuk mengatasi stres. Mahasiswa tetap perlu menjaga pola hidup sehat, mengatur waktu, memperkuat komunikasi dengan keluarga, serta membangun relasi sosial yang baik di lingkungan kampus. Namun sebagai strategi keagamaan yang mudah dilakukan dan bersifat personal, doa terbukti menjadi salah satu praktik paling konsisten dalam membantu mahasiswa Muslim mengelola tekanan hidup di perantauan.

Di tengah kehidupan modern yang cepat dan penuh tuntutan, para pengajar Metode Studi Islam menilai bahwa doa memiliki peran signifikan dalam menjaga ketahanan mental mahasiswa. Doa bukan hanya ritual ibadah, tetapi ruang sunyi yang mengokohkan hati, merapikan pikiran, dan memberi kekuatan untuk tetap berdiri tegak sebagai perantau yang sedang mengejar cita-citanya. Fenomena ini menunjukkan bahwa spiritualitas tetap menjadi fondasi yang kuat di dunia pendidikan tinggi, terutama bagi mahasiswa Muslim yang menjadikan doa sebagai sumber energi batin dan keseimbangan emosional dalam menghadapi dinamika perantauan.

Leave a Reply