PERISTIWA LABORATORIUM PENDIDIKAN
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol
Al-Qur’an dan Pendidikan Berbasis Peristiwa.
Al-Qur’an tidak hanya menyampai kan ilmu dengan perintah verbal, tetapi juga dengan peristiwa (waqā’i‘) yang sarat hikmah. Banyak ayat mengabadikan kejadian agar manusia belajar dari sejarah dan realitas kehidupan. Allah berfirman:
> قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Sungguh telah berlalu sebelum kamu berbagai peristiwa (sunah-sunah Allah). Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 137)
Ayat ini menunjukkan bahwa peristiwa adalah laboratorium pendidikan. Dari kisah Nabi Adam, Nuh, Musa, hingga Muhammad ﷺ, Allah mendidik manusia melalui kejadian dan benturan sosial-psikologis agar membentuk kesadaran dan kebijaksanaan.
Teori Benturan dan Pendidikan Kesadaran
Dalam konteks modern, teori ini mirip dengan konsep “experiential learning” dari David Kolb: pengetahuan tumbuh dari refleksi atas pengalaman. Dalam Al-Qur’an, ini disebut ‘ibrah—mengambil pelajaran dari kejadian.
Rasulullah ﷺ juga mendidik sahabat dengan momentum peristiwa:
Saat Perang Uhud, beliau menanamkan nilai tawakal dan sabar.
Saat Hudaibiyah, beliau mengajarkan hikmah diplomasi dan kesabaran strategis.
Saat hijrah, beliau membentuk jiwa adaptif, perencana, dan kolaboratif.
Pendidikan melalui peristiwa (event-based learning) bukan hal baru dalam Islam, melainkan metode Qur’ani yang kini perlu direvitalisasi dalam era digital.
Revolusi Pendidikan di Era AI
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah menggeser paradigma pendidikan tradisional dari transfer of knowledge menjadi transformation of character and creativity.
AI sudah mampu mengoleksi seluruh “rekognisi pengetahuan manusia”. Maka guru bukan lagi pusat informasi, melainkan pengarah makna dan nilai.
Fatwa dan pandangan keilmuan modern seperti Fatwa Majma‘ al-Fiqh al-Islami (OKI, 2023) tentang pendidikan dan kecerdasan buatan menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat bantu, sedangkan hikmah dan nilai tetap menjadi wilayah manusia.
Dengan kata lain, AI tidak menggantikan guru, tetapi menggugah peran guru sebagai murabbi (pendidik ruhani dan akhlak).
Revitalisasi Konsep Pendidikan al-Qur’an
Al-Qur’an memandang pendidikan sebagai proses tazkiyah (penyucian), ta‘līm (pengajaran), dan tahdzīb (pembentukan karakter).
Dalam QS. Al-Jumu‘ah [62]: 2 disebutkan:
> “Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka.”
Pendidikan Qur’ani tidak berhenti pada kognisi, tetapi menembus dimensi emosional dan spiritual. Maka teori benturan dalam pendidikan berarti proses belajar melalui peristiwa yang menguji iman, akal, dan moral.
Dalam dunia yang terintegrasi digital, anak-anak menghadapi benturan setiap hari: informasi yang bias, nilai yang kabur, realitas yang cepat berubah.
Jika guru tidak mampu mengadres peristiwa itu secara kontekstual, maka akan lahir generasi yang teralienasi dari realitas masyarakatnya.
Konsep Learning Society:
Pendidikan sebagai Peristiwa Sosial
Konsep learning society atau masyarakat pembelajar lahir dari pemikiran UNESCO dan Toffler (1970-an), menekankan bahwa masyarakat yang terus belajar adalah kunci peradaban berkelanjutan.
Dalam Islam, konsep ini telah ada sejak Nabi bersabda:
> “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.”
(HR. Al-Baihaqi)
Artinya, pendidikan adalah proses sosial yang tak pernah berhenti.
Untuk membentuk masyarakat pembelajar, tiga hal mesti diajarkan sejak dini:
1.Tradisi belajar yang kuat (al-‘ādah al-ta‘allumiyyah): kebiasaan membaca, berdialog, dan meneliti.
2.Metode belajar yang elastis (tharīqah al-ta‘allum al-murūnah): adaptif terhadap perubahan zaman.
3.Kognisi yang lentur (cognitive flexibility): kemampuan berpikir multidisipliner dan reflektif.
Kajian Futurologis: Masa Depan Pendidikan Melalui Peristiwa
Menurut futurolog Alvin Toffler, “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.”
Pendidikan masa depan bukan lagi tentang penguasaan fakta, tetapi kemampuan membaca peristiwa dan memaknai perubahan.
Dalam konteks Islam, hal ini sejalan dengan firman Allah:
> إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 3)
Masyarakat Qur’ani masa depan adalah masyarakat reflektif (tafaqquh) yang memaknai setiap peristiwa sebagai pesan pendidikan dari Allah.
Penutup:
Pendidikan Adalah Jalan Revolusi Peradaban
Revolusi besar ke depan tidak akan ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau militer, melainkan oleh mutu pendidikan dan kesadaran nilai.
Al-Qur’an menegaskan:
> يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Dengan demikian, pendidikan melalui peristiwa bukan sekadar metode, tetapi strategi peradaban: membentuk manusia yang tangguh menghadapi realitas, reflektif terhadap sejarah, dan produktif dalam mencipta masa depan.ds@ cipta hotelwahidhasyim
10112025.
