PERPECAHAN DUNIA ISLAM DAN ORMAS ISLAM
Oleh: Duski Samad
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H/2026 M
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Diskusi informal di restoran Hotel Marriott Jabal Omar, Makkah, pada Selasa pagi, 14 Juli 2026, mengangkat sebuah pertanyaan yang terus mengemuka dalam percakapan dunia Islam: mengapa ketika pelayanan haji dan umrah semakin baik, hubungan antarlembaga Islam lintas negara semakin luas, dan kesadaran ukhuwah Islamiyah semakin sering didengungkan, konflik di berbagai kawasan dunia Islam masih terus terjadi? Apa sesungguhnya akar persoalan tersebut?
Pandangan Nash
Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan perpecahan. Sebaliknya, persatuan merupakan perintah yang sangat fundamental.
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Āli ‘Imrān: 103)
Allah SWT juga berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Ḥujurāt: 10)
Karena itu, konflik yang terjadi di negara-negara Muslim tidak dapat dipandang sebagai konsekuensi ajaran Islam. Secara normatif, Islam justru meletakkan perdamaian (ṣulḥ), keadilan (‘adl), musyawarah (syūrā), dan persaudaraan (ukhuwah) sebagai fondasi kehidupan bersama.
Politik, Kekuasaan, dan Dinamika Internal Umat
Dalam kajian hubungan internasional, banyak konflik di kawasan Muslim dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor, seperti dinamika politik dalam negeri, persaingan kekuatan regional, serta kepentingan negara-negara besar. Faktor-faktor tersebut sering kali berkelindan dengan persoalan identitas, keamanan, sejarah, dan perebutan pengaruh sehingga penyelesaiannya menjadi sangat kompleks.
Namun demikian, faktor eksternal bukanlah satu-satunya penyebab. Perpecahan dunia Islam juga dipengaruhi oleh dinamika internal umat. Di berbagai tempat masih dijumpai perilaku sebagian aktivis, elite, maupun tokoh Muslim yang kurang memiliki kedalaman visi keislaman dan kenegarawanan, sehingga kepentingan pribadi atau kelompok lebih menonjol daripada kemaslahatan umat. Ambisi kepemimpinan, perebutan pengaruh, serta keinginan mendominasi di tengah keragaman sering kali melahirkan konflik yang berkepanjangan.
Fenomena tersebut dapat ditemukan dalam dinamika sebagian organisasi kemasyarakatan Islam, lembaga keagamaan, maupun institusi sosial, ketika musyawarah bergeser menjadi arena persaingan kekuasaan. Perbedaan yang semestinya menjadi rahmat justru berubah menjadi pertentangan akibat lemahnya akhlak kepemimpinan dan budaya saling menghormati.
Allah SWT mengingatkan:
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al-Anfāl: 46)
Ayat ini menunjukkan bahwa perselisihan internal akan melemahkan kekuatan umat. Karena itu, krisis yang terjadi dalam sebagian organisasi Islam sesungguhnya bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan dari kegagalan sebagian pemimpinnya mengedepankan akhlak, musyawarah, sikap kenegarawanan, dan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Ekonomi dan Geopolitik
Sebagian besar kawasan Muslim memiliki sumber daya energi, jalur perdagangan, dan posisi geografis yang sangat strategis. Keadaan ini menjadikan banyak wilayah tersebut memiliki nilai geopolitik yang tinggi.
Dalam ekonomi politik, persaingan atas sumber daya alam, investasi, perdagangan, teknologi, serta jalur strategis menjadi faktor yang ikut memengaruhi dinamika konflik. Oleh sebab itu, pembangunan ekonomi yang adil, pemerataan kesejahteraan, dan kerja sama antarnegara Muslim merupakan bagian penting dari upaya memperkuat stabilitas dunia Islam.
Islam sebagai Peradaban
Jawaban Islam terhadap konflik bukanlah memperluas permusuhan, melainkan membangun ḥaḍārah Islāmiyyah, yaitu peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan, akhlak, keadilan, dan kemajuan ekonomi.
Peradaban Islam dibangun melalui penguatan pendidikan, riset, sains, teknologi, ekonomi syariah, dialog antarperadaban, serta kerja sama kemanusiaan. Umat Islam akan semakin dihormati bukan karena kekuatan konflik yang dimilikinya, melainkan karena keunggulan ilmu, akhlak, inovasi, dan kontribusinya bagi perdamaian dunia.
Pengalaman di Tanah Suci
Selama mengikuti Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman, penulis menyaksikan bagaimana umat Islam dari berbagai bangsa, mazhab, bahasa, dan budaya dapat beribadah bersama dalam suasana yang tertib dan penuh penghormatan. Perbedaan tidak menjadi penghalang untuk berdiri dalam satu saf, menghadap satu kiblat, membaca satu Al-Qur’an, dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa persatuan umat bukanlah sesuatu yang utopis, melainkan kenyataan yang dapat diwujudkan ketika kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan golongan, mazhab, organisasi, maupun kepentingan politik.
Penutup
Perpecahan dunia Islam bukanlah ajaran Islam, melainkan realitas sejarah yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Dari sisi eksternal terdapat dinamika geopolitik, persaingan ekonomi, dan perebutan pengaruh antarnegara. Dari sisi internal terdapat krisis kepemimpinan, fanatisme kelompok, lemahnya budaya musyawarah, serta ambisi kekuasaan yang mengalahkan semangat ukhuwah.
Allah SWT mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Kebangkitan dunia Islam harus dimulai dari pembenahan internal: memperkuat iman, ilmu, akhlak, persatuan, serta membangun peradaban yang unggul. Dari Tanah Suci, pelajaran terbesar yang dapat dipetik adalah bahwa umat Islam memiliki satu Tuhan, satu Nabi, satu Kitab Suci, dan satu kiblat. Modal spiritual inilah yang semestinya menjadi dasar membangun masa depan dunia Islam yang damai, bermartabat, berkeadilan, dan berkemajuan.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.










