PERTI JELANG SATU ABAD:
Dari Tradisi Ilmu ke Transformasi Kepemimpinan
Oleh: Prof.Dr.H. Duski Samad, MA
Wakil Ketua Umum PP Perti 2022-2027
Jejak Ulama, Jejak Peradaban
Memasuki usia seabad pada 5 Mei 2028, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) kembali menjadi bahan renungan nasional: masihkah api perjuangan ulama itu menyala, atau tinggal bara dalam sejarah?
PERTI bukan sekadar organisasi, tapi gerakan kebudayaan Islam Minangkabau yang menyalakan pendidikan, dakwah, dan amal sosial sebagai jalan membangun umat.
Salah satu tokoh besar yang mewariskan nyala itu adalah Buya K.H. Syekh Roesli Abdul Wahid — sosok ulama, politisi, dan negarawan yang mengajarkan bahwa ilmu, adab, dan amanah harus berjalan seiring.
Pendidikan Sebagai Nafas Perjuangan
Warisan monumental Buya Roesli terpatri dalam pendirian Sekolah PERTI Grogol Jakarta, simbol tegaknya Tri Bakti PERTI: Pendidikan, Dakwah, dan Amal Sosial.
Sekolah ini bukan hanya lembaga formal, tetapi simbol perlawanan terhadap kebodohan dan keterpinggiran umat. Dari sanalah lahir generasi ulama dan guru yang menjadi cahaya di tengah kegelapan zaman.
Buya Roesli menegaskan bahwa PERTI harus hidup dari surau dan sekolah — bukan dari panggung politik semata. Pendidikan adalah jantung perjuangan, tempat ideologi Ahlussunnah wal Jamaah bertemu dengan semangat kebangsaan.
Dakwah dan Gerakan Kebangsaan
Buya Roesli bukan hanya seorang pendidik, tapi juga mujahid dakwah.
Dalam berbagai forum, beliau memperjuangkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin dengan cara elegan dan berwawasan kebangsaan. Ia tahu benar bahwa membangun bangsa adalah bagian dari ibadah.
Ketika banyak tokoh agama sibuk dalam tembok surau, beliau menembus gelanggang sosial dan politik, memastikan nilai agama hadir di ruang publik tanpa kehilangan ruh ketulusan. Dakwah baginya bukan hanya khutbah, tapi kerja nyata untuk keadilan sosial.
Dari Parlemen ke Pemerintahan
Perjuangan Buya Roesli tak berhenti di surau.
Dalam perjalanan panjangnya, beliau menjadi bagian penting dari sejarah parlemen dan pemerintahan Indonesia.
Berderet jabatan yang beliau emban menjadi bukti integritas dan pengaruh seorang ulama sejati:
Anggota DPR Sumatera Tengah (1950)
Anggota Parlemen Sementara RI (1954)
Anggota Konstituante (1955)
Anggota DPA RI (1959)
Anggota DPR GR/MPRS (1967)
Anggota DPR/MPR RI (1971)
Menteri Negara Urusan Umum (1956)
Perjalanan karier ini menunjukkan satu hal: PERTI pernah melahirkan elit bangsa yang berilmu dan berakhlak.
Mereka bukan pemburu jabatan, melainkan pelayan umat dan penjaga moral bangsa.
Cermin Bagi Pemimpin PERTI Kini
Namun kini, di tengah derasnya arus pragmatisme, PERTI membutuhkan kebangkitan gaya kepemimpinan ulama.
Pasca ishlah tahun 2016, PERTI kembali berdiri sebagai satu kesatuan, tapi apakah semangat Buya Roesli masih menjadi napasnya?
Madrasah, pondok pesantren, dan sekolah-sekolah PERTI yang masih bertahan adalah harta ideologis — bukan sekadar aset. Di sanalah masa depan PERTI ditentukan.
Celaka jika pemimpin PERTI hari ini melupakan akar pendidikan dan sibuk berputar dalam politik yang tak bermoral.
Wahai para pemimpin, bangunlah dari tidur panjang!
Hormati ulama, muliakan Tuanku, Syekh, dan Tuan Guru. Mereka adalah pemilik sejati PERTI, bukan elite yang datang karena musim politik.
Menjemput Abad Kedua.
Dua tahun menuju 5 Mei 2028 adalah waktu singkat untuk berbenah.
PERTI harus kembali meneguhkan jati diri: dari tradisi ilmu menuju transformasi kepemimpinan.
Uang dan politik boleh menjadi alat, tetapi ruh perjuangan tetaplah pendidikan, dakwah, dan amal sosial.
Tanpa itu, PERTI akan kehilangan denyutnya dan hanya tinggal nama dalam buku sejarah.
Biarlah sejarah kelak menulis bahwa pada abad keduanya, PERTI bangkit kembali — bukan karena kekuasaan, tapi karena kesetiaan pada amanah Syekh, Tuanku, Tuan Guru dan cinta pada umat.
Arosa Hotel, 7 November 2025






