REVOLUSI PIKIRAN DAN GALAU KORUPSI: Jalan Menuju Relasi Sosial dan Politik Bermartabat

REVOLUSI PIKIRAN DAN GALAU KORUPSI:
Jalan Menuju Relasi Sosial dan Politik Bermartabat

Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol

 

Heboh, gaduh dan beragam komen di media sosial juga di media mainstrem tentang operasi tangkap tanggan (OTT) di Pekan Baru menimbulkan tanda tanya yang belum bisa dijernihkan institusi anti ruswah itu.

Sungguh naif, kerja pemberantasan korupsi yang diharapkan rakyat untuk kemajuan bangsa, tetapi justru dipertanyakan nitizen pola kerja dan mengundang pro kontra yang merugikan anak bangsa dan negara itu sendiri.

Galau Masyarakat, Galau Bangsa

Kegalauan masyarakat Riau hari ini adalah cermin keresahan nasional.
Setiap kali OTT diumumkan, publik marah sebentar, kecewa, lalu lupa.
Siklus lupa inilah yang membuat bangsa ini berputar di tempat.
Kita belum berani menanam “budaya malu korupsi” budaya yang membuat seseorang takut mengambil hak bukan miliknya, bukan karena takut penjara, tapi takut kehilangan kehormatan.

Sementara itu, anak-anak muda menyaksikan semua ini dengan bingung:
Bagaimana mereka bisa percaya bahwa pendidikan dan kerja keras membawa hasil,
jika mereka melihat bahwa jalan pintas dan kelicikan lebih cepat mengantar ke puncak kekuasaan?

5.Jalan Keluar: Revolusi Nilai

Untuk keluar dari lingkaran setan korupsi, kita butuh revolusi nilai, bukan hanya reformasi hukum.
Solusinya harus dimulai dari:

1.Pendidikan moral dan spiritual yang serius, bukan formalitas pelajaran agama.

2.Keteladanan elite, karena kejujuran tidak bisa diajarkan, hanya bisa dicontohkan.

3.Gerakan sosial baru, yang memuliakan integritas, bukan kekuasaan.

Kita perlu menanamkan kembali rasa malu dan takut kepada Allah dalam ruang publik.
Dalam bahasa Minangkabau:

> “Kalau malu hilang, adat pun tumbang; kalau iman rapuh, bangsa pun runtuh.”

6.Dari Galau ke Gerak

Galau kita terhadap OTT Gubernur Riau jangan berhenti pada keluhan.
Galau harus menjadi gerak moral kolektif agar bangsa ini tak terus dikhianati oleh para pemimpin yang kehilangan arah.

Mari mulai dari diri sendiri:
Menolak gratifikasi kecil, menjaga amanah kecil, dan berani berkata benar walau pahit.
Karena korupsi besar lahir dari kompromi kecil yang dibiarkan.

“Negeri yang baik bukan dibangun oleh pejabat suci, tapi oleh warga yang tidak lagi diam terhadap dosa publik.”

REVOLUSI PIKIRAN
Bangsa yang besar tidak runtuh karena kekurangan sumber daya, tetapi karena karat di dalam pikiran dan nurani.
Kita hidup di zaman ketika pendidikan tinggi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan, dan jabatan politik tidak selalu bersandingan dengan integritas. Maka, revolusi pikiran bukan sekadar perubahan ide, tetapi pembersihan batin dan pembaruan cara pandang terhadap sesama manusia dan kekuasaan.

Revolusi pikiran adalah ikhtiar moral dan intelektual untuk mengembalikan martabat manusia dalam relasi sosial dan politik yang hari ini banyak dikerdilkan oleh kepentingan, polarisasi, dan egoisme kelompok.

1.Makna Revolusi Pikiran
Secara konseptual, revolusi pikiran berarti pergeseran paradigma dari berpikir sempit, sektoral, dan materialistis menuju pola pikir yang terbuka, rasional, dan beradab.
Dalam pandangan Islam, hal ini sejalan dengan firman Allah:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan sosial dan politik harus dimulai dari transformasi kesadaran (tafaqquh) dan perbaikan akhlak (tazkiyah).
Revolusi pikiran bukan pemberontakan, tetapi penjernihan kesadaran agar manusia kembali menempatkan nilai moral sebagai dasar berinteraksi dan memimpin.

2.Krisis Relasi Sosial dan Politik Hari Ini.

Fenomena yang kita saksikan kini adalah “defisit etika sosial”.
Hubungan antarwarga, antarpartai, bahkan antartokoh agama sering dilandasi oleh rasa curiga, arogansi, dan kepentingan diri.
Dalam politik, budaya saling menjatuhkan lebih populer daripada budaya musyawarah.
Sementara dalam masyarakat, nilai gotong royong digantikan oleh kompetisi tanpa nurani.
Dari perspektif sosiologi Minangkabau, kondisi ini adalah bentuk hilangnya raso jo pareso — rasa kemanusiaan dan kepekaan sosial.

Masyarakat dulunya hidup dengan prinsip “bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat”. Kini, nilai mufakat itu tergeser oleh logika like and share, bukan lagi baik dan benar.

3.Akar Masalah: Pikiran yang Berkarat.

Krisis relasi sosial dan politik berawal dari pikiran yang berkarat — cara berpikir lama yang kaku, egoistik, dan pragmatis.
Karat itu tumbuh karena tiga hal:

• Pendidikan tanpa nilai, yang hanya mengejar gelar, bukan karakter.

• Kekuasaan tanpa tanggung jawab, yang menjadikan jabatan sebagai alat, bukan amanah.

• Media sosial tanpa filter etika, yang menjadikan hoaks lebih berharga dari kebenaran.
Kita terjebak dalam pola pikir reaktif, emosional, dan jangka pendek.
Padahal, bangsa ini hanya bisa maju bila memiliki kesadaran reflektif dan moral kolektif.

4.Jalan Menuju Relasi Bermartabat.

Revolusi pikiran mengajak setiap warga bangsa untuk menata ulang cara berpikir dan berelasi.
Dalam konteks sosial, revolusi pikiran menumbuhkan nilai-nilai empati, solidaritas, dan keadilan.
Dalam konteks politik, ia menuntun pemimpin untuk mengembalikan etika dan tanggung jawab moral sebagai pondasi kebijakan publik.
Tiga langkah strategisnya adalah:

a. Rekonstruksi Etika Sosial
Membangun kembali kultur malu dan budaya hormat sebagai dasar pergaulan publik.
Di Minangkabau, “malu” bukan sekadar rasa takut salah, tetapi mekanisme moral agar manusia menjaga kehormatan diri dan komunitas.

b. Reorientasi Kepemimpinan
Meneguhkan konsep imarah bil-amanah (kepemimpinan sebagai kepercayaan).
Pemimpin bukan pencipta aturan, tetapi teladan moral yang menghidupkan nilai.

c. Revolusi Literasi dan Dialog
Menumbuhkan budaya berpikir kritis dan berdialog sehat, mengganti debat kusir menjadi mufakat berilmu.
Kampus, surau, dan masjid harus menjadi laboratorium dialog kebangsaan yang cerdas dan menyejukkan.

5.Perspektif Antropologis: Relasi yang Memanusiakan.

Dalam antropologi sosial, relasi bermartabat berarti hubungan yang diikat oleh nilai kemanusiaan, bukan sekadar kepentingan ekonomi atau politik.
Di era digital, anak muda perlu belajar kembali human connection — keterhubungan antarhati, bukan sekadar interaksi daring.

Surau, keluarga, dan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk habitus baru: berfikir jernih, berucap santun, dan bertindak bijak.
Penutup: Dari Pikiran yang Karat ke Pikiran yang Berkat
Revolusi pikiran bukan sekadar wacana filosofis. Ia adalah gerakan moral dan spiritual untuk membersihkan karat dari kesadaran publik.

Bangsa ini akan kuat jika warga dan pemimpinnya berpikir jernih, berjiwa besar, dan berani menempatkan nilai di atas kepentingan.
Mari kita mulai revolusi ini dari diri sendiri —
dari cara kita berpikir, berbicara, dan memperlakukan sesama.
Karena pikiran yang bersih melahirkan relasi yang mulia,
dan relasi yang bermartabat melahirkan bangsa yang beradab.

“Revolusi sejati bukan mengganti orang di kursi kekuasaan, tetapi mengganti isi kepala dan isi hati manusia agar hidupnya lebih bermakna.”

Leave a Reply