Ritual Tolak Bala Abadi: Analisis Fungsi Sosial Tradisi Safaran
di Keraton Kacirebonan
Oleh :
Iman Sulaeman, Muhammad Fawwaz Fakhrezi, Ken Zuraida Ha
Dosen Pengampu : Fadli Daud Abdullah, SH, MH.
Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Cirebon, [19 September 2025] – Mahasiswa Universitas Islam Negri Siber Syekh Nurjati Cirebon baru-baru ini melakukan penelitian mendalam mengenai Tradisi Safaran, sebuah ritual adat dan keagamaan yang secara rutin digelar oleh Keraton Kacirebonan. Berdasarkan wawancara pendekatan interdisipliner yang menggabungkan perspektif antropologis dan sosiologis dengan salah satu narasumber bapa elanggian arifuddin dari pihak keraton kacirebonan, tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian budaya, namun juga menjadi pilar spiritual dalam menangkis musibah.
Tradisi Safaran merupakan ritual tahunan yang dilaksanakan pada Rebo Wekasan, yaitu hari Rabu terakhir di bulan Safar menurut kalender Hijriah. Karena mengikuti penanggalan bulan, tanggal pelaksanaannya berubah setiap tahun. pada tahun 2025, Tradisi Safaran digelar pada 20 Agustus 2025, bertepatan dengan Rabu terakhir bulan Safar. Penentuan waktu ini didasarkan pada keyakinan bahwa akhir bulan Safar merupakan periode puncak turunnya bala, sehingga masyarakat perlu melakukan ikhtiar spiritual.
Menurut bapa elanggian arifuddin, Tradisi Safaran berpusat pada keyakinan bahwa bulan Safar adalah waktu di mana Tuhan Yang Maha Esa menurunkan cobaan atau bala (malapetaka). “Konon katanya di bulan Safar itu Gusti Allah menurunkan 136.000 bala,” jelas bapa elanggian arifuddin tersebut. Oleh karena itu, seluruh rangkaian ritual Safaran adalah bentuk ikhtiar atau usaha kolektif yang dilakukan oleh keluarga keraton dan masyarakat untuk menangkal dan memohon perlindungan dari musibah tersebut.
Elemen sentral dalam tradisi ini adalah pembuatan dan pembagian Kue Apem. Dijelaskan bahwa Apem terbuat dari tepung beras, tape singkong, dan ragi. Apem ini tidak hanya berfungsi sebagai penganan, melainkan menjadi simbol utama penangkal bala. Penggunaan apem di anggap wajib karena telah menjadi warisan yang dijaga turun temurun. Apem juga dimaknai kesucian, kesederhanaan, serta permohonan keselamatan. Masyarakat keraton, khususnya permaisuri, bergotong royong membuatnya. “Setelah buat kue apem, konon katanya untuk menangkal itu, salah satu tradisi yang ada di keraton itu membuat kue apem,” ujar bapa elanggian arifuddin.
Meskipun nilai dan bahan baku Kue Apem tetap dipertahankan tepung beras, tape singkong, dan ragi pihak keraton mengakui adanya pergeseran dalam proses pelaksanaannya. Perubahan terjadi pada cara memasak. “Seperti dulu membuat kue apem itu dengan kayu bakar. Nah, sekarang karena sudah ada teknologi kompor gas, ya pakainya kompor gas,” ujar bapa elanggian arifuddin. Perubahan ini menunjukkan fleksibilitas keraton dalam mengadopsi kemajuan zaman tanpa menghilangkan esensi tradisi.
Selain penggunaan apem, Tradisi Safaran juga memiliki berbagai keunikan khas Keraton Kacirebonan. Salah satu keunikan tersebut adalah adanya kirab kecil atau kumpulan keluarga keraton yang hadir mengenakan busana adat Cirebon untuk menyambut rangkaian acara Safaran. Keunikan lainnya terlihat dari keterlibatan langsung Permaisuri dalam proses pembuatan apem, sesuatu yang jarang ditemukan di tradisi lain, sehingga menambah nilai kehormatan dan kesakralan ritual.
Bagian yang dianggap paling sakral dalam pelaksanaan Safaran adalah doa yang dipanjatkan. Sebelum kue Apem dibagikan, dilakukan pembacaan doa bersama. Inti dari doa tersebut adalah doa tolak bala dan doa selamat. “Yang paling sakralnya kan lebih kepada doa. Doa tolak bala, doa minta keselamatan,” sebut bapa elanggian arifuddin, yang mana doa ini dimaksudkan untuk memohon perlindungan selama setahun penuh, dari Safar tahun ini hingga Safar tahun depan, di dunia wal akhirat.

Proses pewarisan tradisi Safaran dari generasi ke generasi di Keraton Cirebon dilakukan melalui pendekatan keterbukaan. Keraton kini berfungsi sebagai ruang publik yang terbuka lebar bagi masyarakat. “Keraton membuka diri. Welcome, ya. Artinya keraton karena sudah menjadi ruang publik, kegiatan ini kami share umum,” ungkap bapa elanggian arifuddin, menandakan bahwa tradisi ini telah menjadi milik bersama, bahkan diikuti oleh masyarakat dari luar Cirebon.
Rangkaian Safaran ditutup dengan ritual Surak atau Saweran. Ritual ini menjadi penarik massa karena melibatkan Sultan dan keluarga yang menyebarkan koin atau uang pecahan kepada masyarakat. Meskipun nilai nominal uangnya kecil, kegiatan ini memiliki dampak sosial yang besar. “Dampak sosialnya itu, dampak sosial ekonomi, walaupun ya nilainya tidak seberapa tapi masyarakat menganggapnya ini adalah keberkahan,” terang bapa elanggian arifuddin.
Di balik saweran tersebut tersimpan makna filosofis yang kuat: sedekah adalah penangkal bala. Bapa elanggian arifuddin menjelaskan bahwa tindakan surak atau berbagi merupakan salah satu upaya menolak penyakit. “Juga, ya kembali, sesungguhnya kita berbagi itu kembali lagi ke kita,” katanya. Melalui sedekah, masyarakat meyakini adanya hubungan timbal balik spiritual dan sosial.
Filosofi berbagi dalam Safaran diperkuat dengan prinsip keagamaan, di mana “prasangka Allah adalah prasangka hamba-Nya.” Menurut bapa elanggian arifuddin, orang yang sudah memahami filosofi berbagi akan menyadari bahwa ketika mereka memberi, sejatinya mereka sedang menanam kebaikan yang dampaknya akan kembali kepada diri mereka sendiri. Prinsip ini menjadi fondasi spiritual yang mendorong praktik surak secara tulus.
Tradisi Safaran berfungsi krusial dalam menjaga koneksi sosial dan identitas budaya masyarakat lokal. Dengan terus “eksis” melakukan tradisi tersebut, keraton secara tidak langsung mempertahankan ikatan dengan warga. Safaran menjadi momentum tahunan yang memperkuat solidaritas, memastikan nilai-nilai keagamaan dan budaya Cirebon tetap hidup dan diwariskan, serta selalu menjunjung tinggi keselamatan dan keberkahan bersama.






