Saat Nelayan Cirebon Rayakan Syukur dan MerawatTradisi Lintas Generasidengan Pesta Laut Nadranan
Oleh:
Istiannah, Jihan Ayu, M.Syauqi
Dosen Pengampu: Fadli Daud Abdullah, S.H., M.H.
Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Cirebon, [biasanya dilakukan pada bulan september/oktober] Dentuman musik tradisional dan semarak arak-arakan perahu hias kembali memenuhi pesisir utara Cirebon dalam perayaan Nadran atau Sedekah Laut. Tradisi tahunan ini menjadi puncak ungkapan syukur para nelayan atas limpahan hasillaut setahun penuh, sekaligus upaya kolektif merawat warisan budaya nenek moyang.
Nadran atau Sedekah Laut adalah upacara adat tahunan masyarakat nelayan Cirebon. Kegiatan utamanya adalah pelarungan (pelepasan) sesajen atau ancak yang ditempatkan dalam miniatur kapal ke tengah laut. Sesajen ini umumnya berisi kepala kerbau/kambing, hasil bumi, dan aneka makanan, yang dimaknai sebagai bentuk sedekah dan penghormatan terhadap alam. Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Upacara ini melibatkan seluruh komunitas nelayan dan masyarakat pesisir Cirebon, termasuk tokoh agama, tokoh adat, serta didukung oleh pemerintah daerah. Para nelayan adalah pelaku utama yang bergotong-royong menyiapkan ancak, menghias perahu, dan melakukan prosesi pelarungan.
Secara rutin dilaksanakan setahun sekali, biasanya menyesuaikan denganwaktu pasang surut air laut atau pada bulan-bulan tertentu, seperti September atau Oktober (tergantung kesepakatan setempat). Rangkaian acara bisa berlangsung selama beberapa hari, diawali dengan pengajian, pembuatan ancak, hingga puncaknya yaitu arak-arakan dan pelarungan sesajen.
Perayaan Nadran tersebar di beberapa Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan desa-desa nelayan di sepanjang pesisir Cirebon, sepertiTPI Kesenden (Samadikun), TPI Pesisir, TPI Cangkol Lemahwungkuk (Kota Cirebon), serta desa-desa di Kabupaten Cirebon, seperti Bandengan Mundu.
Tujuan utama Nadran adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia hasil tangkapan laut yang melimpah, keselamatan saat melaut, dan memohon agar tahun mendatang diberikan rezeki yang lebih baik. Selain itu, tradisi ini juga merupakan cara melestarikan warisan leluhur dan mempererat tali persaudaraan antarwarga pesisir.
Acara dimulai dengan ritual pengajian dan pembuatan ancak (sesajen) yang diletakkan dalam miniatur perahu. Kemudian, miniatur kapal ini diarak dalam karnaval meriah mengelilingi kampung menuju dermaga, diiringi berbagaikesenian daerah sepertiburok, sisingaan, hingga drumband. Didermaga, miniatur ancakyangtelah didoakan kemudian dilarungkan ke tengah laut diiringi ratusan perahu nelayan yang berhias. Setelah pelarungan, perayaan dilanjutkan dengan hiburan rakyat.
Akar Pra-Islam dan Nilai Keselarasan Alam
Jauh sebelum masuknya Islam, masyarakat pesisir Nusantara, termasuk Cirebon, memilikikepercayaan animisme dan dinamisme yang kuat. Mereka sangat menghormati alam, terutama laut, yang dianggap sebagai sumber kehidupan sekaligus kekuatan yang harus dihormati. Tujuan Awal: Upacara “memberi makan” laut (cikalbakal sedekahlaut) dilakukan sebagai upaya untuk menenangkan roh penunggu laut atau dewa laut agar hasil tangkapan melimpah, dan perahu para nelayan selamat dari bencana (ombak besar, badai, atau perompak).
Akulturasi Islam berkaitan dengan Sejarah Nadran modern tidak bisa dilepaskan dari peran Wali Songo, khususnya Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), dalam menyebarkan Islam di Cirebon pada abad ke-15 hingga ke-16. Penyelarasan Nilai dari para ulama lokal tidak serta-merta menghilangkan tradisi pra-Islam yang sudah mengakar. Mereka melakukan akulturasi. Ritual pemberian sesajen yang awalnya kental dengan unsur kepercayaan lokal (syirik) diselaraskan dengan ajaran Islam.
Perubahan makna atau istilah “Sedekah Laut” muncul, yang menekankan bahwa tindakan pelarungan sesajen dimaknai sebagai sedekah (amal baik) dan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan melalui laut, bukan lagi untuk menyembah roh laut. Penambahan Ritual Islam dalam rangkaian acara Nadran diperkaya dengan ritual keagamaan, seperti pembacaan doa (tahlil) dan pengajian, yang wajib dilakukan sebelum prosesi pelarungan ancak (miniatur perahu berisi sesajen).

Perkembangan dan Perlindungan Budaya dengan seiring berjalannya waktu, tradisi Nadran berkembang menjadi pesta rakyat yang meriah. Perayaan initidakhanya menjadi ritual keagamaan dan rasa syukur, tetapi juga menjadi ajang. Penguatan Solidaritas seluruh masyarakat desa pesisir terlibat dalam persiapan, mulai dari menghias perahu, membuat ancak, hingga mengatur hiburan, yang secara otomatis memperkuat ikatan sosial antarwarga. Ekspresi Seni Budaya: Nadran menjadi wadah bagi kesenian khas Cirebon, seperti ta ri topeng, sintren, atau pertunjukan burok, untuk ditampilkan dalam arak-arakan.
Pada tahun 2017, tradisi Nadran (Sedekah Laut) di Cirebon resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Hal ini menegaskan nilai sejarahdan budaya yang harus terus dilestarikan. Sejarah Nadran adalah contoh nyata dari akulturasibudaya yang sukses di Cirebon, di mana tradisilokalbertemu dengan ajaran Islam, menghasilkan sebuah perayaan yang menggabungkan rasa syukur kepada Tuhan dengan penghormatan terhadap alam dan warisan leluhur.












