SELESAI DENGAN DIRI KITA SENDIRI

SURAU DIGITAL TUANKU PROFESSOR

Series #19 | 14 Ramadhan 1447 H

SELESAI DENGAN DIRI KITA SENDIRI

(Refleksi Medio Ramadhan)

 

Ramadhan mengajarkan satu hal yang sering kita hindari: berdamai dengan diri sendiri.

Banyak orang sibuk memperbaiki orang lain, tetapi belum selesai dengan dirinya. Mudah menilai, sulit mengakui. Cepat menyalahkan, lambat bermuhasabah. Padahal perubahan selalu dimulai dari dalam.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini bukan sekadar teori sosial. Ia adalah hukum ruhani. Perbaikan bangsa dimulai dari perbaikan jiwa. Perbaikan keluarga dimulai dari perbaikan hati.

Medio Ramadhan adalah momentum untuk bertanya dengan jujur:
Apakah kita sudah selesai dengan dendam?
Apakah kita sudah selesai dengan kesombongan?
Apakah kita sudah selesai dengan rasa iri yang tersembunyi?

Selesai dengan diri sendiri bukan berarti merasa sempurna. Justru sebaliknya—ia lahir dari kesadaran bahwa kita penuh kekurangan. Dalam tradisi tasawuf, ini disebut muhasabah dan tazkiyah—mengoreksi dan menyucikan diri.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang cerdas adalah yang mampu menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
(HR. Tirmidzi)

Selesai dengan diri berarti:
Memaafkan masa lalu
Mengakui kesalahan tanpa pembenaran ego

Berhenti membandingkan hidup dengan orang lain
Menerima takdir dengan ridha

Dalam psikologi modern, ini disebut self-acceptance—penerimaan diri. Tanpa penerimaan, hati gelisah. Dengan penerimaan, jiwa tenang. Islam telah lama mengajarkan konsep ini melalui sabar dan tawakkal.

Allah menenangkan hati orang beriman:

> “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketenangan bukan hasil dari semua masalah selesai. Ketenangan lahir ketika kita selesai berperang dengan diri sendiri.

Banyak konflik di luar hanyalah pantulan konflik di dalam. Ego yang belum jinak melahirkan amarah. Ambisi yang tak terkendali melahirkan iri. Ketakutan yang tak disembuhkan melahirkan kebencian.

Ramadhan adalah madrasah pengendalian diri. Lapar melatih sabar. Dahaga melatih kesadaran. Malam-malam panjang melatih kejujuran batin.

Selesai dengan diri kita sendiri berarti siap menjadi nafs al-muthmainnah—jiwa yang tenang. Jiwa yang tidak lagi dikuasai ambisi dunia, tetapi dituntun oleh cahaya iman.

Medio Ramadhan ini bukan sekadar hitungan hari. Ia adalah cermin. Ia bertanya tanpa suara:
Apakah kita sudah berdamai?
Apakah hati sudah ringan?
Apakah ego sudah ditundukkan?

Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar bukan mengalahkan orang lain.
Kemenangan terbesar adalah menaklukkan diri sendiri.

Dan ketika itu terjadi, rahmat Allah turun tanpa kita paksa. 🌙

Leave a Reply